Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-  Caleg sebelum pileg selalu menebar janji manis. Mereka mendekati rakyat dan menunjukkan kepeduliannya pada rakyat yang akan diwakilinya. Sungguh mulia, keperduliannya ditunjukkan pada rakyat kecil. Sayangnya, itu semua hanya pencitraan karena ingin dipilih dan mendapatkan kursi di parlemen.

Setelah terpilih dan menjadi anggota legeslatif tak satupun janji manis manis diperjuangkan yang
ada hanya kepentingannya sendiri untuk mengembalikan dana yang sudah dikeluarkan agar bisa
mencapai kursi kekuasaan. Biaya yang cukup besar agar bisa dipilih sehingga mereka harus korupsi atau jual beli jabatan (suap) agar tidak rugi.

Banyak janji yang ditebar caleg, mulai memperjuangkan aspirasi rakyat, membuat keren daerah
yang diwakili, tolak korupsi, dan menyelesaikan masalah kemiskinan dan mensejahterakan masyarakat dengan tersedianya lapangan pekerjaan dan sembako murah. Semua janji diucapkan
agar rakyat tergiur dan terbujuk untuk menentukan pilihannya.

Semua janji manis diucapkan menjelang pileg. Namun saat sudah terpilih dan menjadi anggota
legislatif mereka lupa dengan janji-janjinya. Yang diingat bagaimana bisa mempertahankan kursi
kekuasaan yang sudah dicapai dan mengembalikan uang yang sudah dikeluarkan agar bisa
terpilih. Semua orang sudah tahu bahwa caleg tidak mulia karena menggunakan cara-cara kotor
untuk mencapai tujuannya, kursi kekuasaan.

Sangat disayangkan seorang yang baik dan idealis akan berubah saat masuk ke parlemen. Ibarat
kain putih yang bersih berubah menjadi kotor saat masuk air comberan. Mereka jadi berfikir
pragmatis hanya melihat dari nilai manfaat dan keuntungan pribadi. Mereka lupa idialisme yang
dipegang teguh sebelum menjadi anggota legislatif di parlemen.

Dalam sistem demokrasi, politik dianggap aktifitas kotor yang menghalalkan segala cara untuk
meraih tujuan kekuasaan. Tidak ada teman sejati tapi kepentingan yang abadi. Walaupun
memiliki pemikiran dasar dan prinsip yang berbeda mereka dapat berkoalisi ketika memiliki
kepentingan yang sama. Prinsip dasar dan idealisme ditinggalkan asalkan tujuan kekuasaan bisa
tercapai.

Sangat berbeda aktifitas politik dalam sistem Islam yang sangat mulia yang mempunyai tujuan
untuk mengurusi urusan rakyat. Cara yang digunakan hanya apa yang sesuai dengan hukum
syara, diridhoi oleh Allah. Korupsi dan mencuri uang rakyat tidak mungkin dilakukan. Hanya
cara islami yang ditempuh untuk mewujudkan tujuan mulia dalam berpolitik, mengurusi urusan
rakyat.

Apa tugas caleg saat dia terpilih menjadi anggota parlemen?

Pertama, dia berkewajiban mengawasi kinerja pemerintah yang dipimpin presiden. Saat dia menjadi partai pendukung penguasa, diapun tak mampu lagi bisa mengawasi pemerintahan, tapi hanya stempel penguasa. Mereka tidak bisa mandiri menyuarakan aspirasi rakyat saat suara yang diperjuangkan tidak sesuai dengan partai yang menjadi kendaraan politiknya.

Tugas kedua adalah membuat dan melegalkan hukum. Dan sering hukum yang dilegalkan tidak
diambil dari hukum syara. Mereka tidak bisa berbuat apa apa saat keputusan melegalkan hukum yang bertentangan dengan hukum syara diambil karena kedaulatan bukan ditangan hukum syara tapi suara terbanyak.

Disinilah anggota legeslatif ikut berdosa saat keputusan hukum melegalkan sesuatu yang diharamkan Allah. Masihkah kita berfikir jadi caleg adalah  ibadah, sesuatu yang mulia? [MO/ra]

Posting Komentar