Oleh : Arum Mujahidah
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Mediaoposisi.com-  Jagat maya sekaligus nyata Indonesia digemparkan dengan pesta demokrasi  yang sampai hari ini tak kunjung usai. Perhelatan akbar pemilu yang digelar tanggal 17 April 2019 lalu menyisakan kegelisahan serta kekacauan di masyarakat.  Hal ini diawalai dengan penghitungan suara versi quick count yang disambut pro kontra di masyarakat.
Tidak hanya itu, indikasi kecurangan pilpres juga nampak mewarnai hajatan lima tahun ini. Tercoblosnya surat suara di beberapa daerah sebelum pemilu di gelar, kurangnya surat suara, sampai pembakaran kartu suara menunjukkan ada hal yang tidak beres dari proses tersebut. Diadakannya pemilu ulang di beberapa tempat juga sepertinya hanya menambah rasa lelah masyarakat.
Sampai hari ini perhitungan quick count dan real count masih di terima secara simpang siur di masyarakat. Apalagi, terdapat beberapa kesalahan entri data oleh pihak penghitung resmi (KPU) terhadap suara rakyat. Bagaimana mungkin hal itu semua dikatakan sebagai human eror  yang dimaklumi begitu saja ketika berhubungan dengan masa depan negara.
Akhirnya rakyat semakin tidak percaya baik terhadap lembaga survey penghitungan cepat (Quick Count) sekaligus juga lembaga penghitungan suara resmi (KPU). Munculah pengawasan, monitor dan pengawalan suara oleh masyarakat dan diharapkan suara mereka tercover dengan baik.
Jika demikian, adanya quick count sebagai penghitung cepat untuk memprediksi siapa pemenang pilpres dengan real count sebagai penghitung sebenarnya rilisan resmi oleh Komisi Pemilihan Umum atau versi hitungan internal pihak oposisi, jelas membawa keuntungan bagi masing-masing kubu baik 01 maupun 02.
Akan tetapi, rakyat juga nampaknya semakin cerdas dengan ketidakterimaan begitu saja mereka dengan berita yang tersebar tanpa data yang jelas. Sehingga, antara qiuck count atau real count manakah yang benar?  Hal tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut.
Quick count merupakan proses pengambilan data dengan menghitung presentase hasil pemilu di tempat pemungutan suara (TPS) yang dijadikan sampel. Lembaga survey hanya mengambil sampel di beberapa TPS untuk mewakili semua TPS.
Quick count ini menerapkan tehnik sampling probabilitas sehingga hasilnya jauh lebih akurat dan dapat mencerminkan populasi secara tepat. Dalam Pemilu 2019, KPU telah mmenyatakan lolos verifikasi pada 40 lembaga survey untuk menggelar quick count, termasuk di dalamnya Indo Barometer, Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC). Charta Politika Indonesia yang semuanya menunjukkan data presentase suara sementara dimenangkan oleh kubu 01.
Akan tetapi yang perlu dipahami, dalam sistem demokrasi yang syarat kepentingan ini tidak menutup kemungkinan lembaga survey juga bertindak sesuai pesanan. Pasalnya, pertarungan kekuasaan untuk memperebutkan RI-1 sebelumnya juga diawali dengan berbagai aksi saling menyerang, membongkar aib masing-masing paslon, bahkan sampai memfitnah. Lembaga survey ini bisa saja dijadikan alat untuk menggiring opini masyarakat siapa pemenang sebenarnya, meski pengumuman resmi belum diluncurkan.
Terang saja, beberapa quick count yang telah merilis suara yang menunjukkan kemenangan kubu 01 disambut kemenangan oleh pihak petahana. Masyarakat juga dibuat tersihir dengan data tersebut. Bagi pihak pendukung akan bersorak kegirangan. Sedang pihak oposisi akan gigit jari dan juga siap menandingi dengan aksi yang tak kalah mengharukan.
Apalagi, beberapa lembaga survey diketahui telah diundang ke pihak istana sebelum pilpres digelar,. Hal ini mengindikasikan adanya kongkalikong untuk menaikkan suara kubu 01 berdasarkan lembaga survey tersebut. Jadilah, lewat quick count kubu  petahana di menangkan, meski terlihat berbagai keganjilan akan data kemenangan yang seakan dipaksanakan.
Adapun pihak oposisi kubu 02 juga tak mau kalah. Melalui versi hitungannya,  mereka juga mengklaim kemenangan. Metode penghitungan kubu 02 menggunakan real count dimana cara ini dilakukan dengan mengumpulkan data dari seluruh pemilih atau TPS.
Dengan kata lain, data yang dihitung adalah angka resmi dari tiap TPS, bukan berdasarkan sampel. Dalam konferensi pers nya, Prabowo menyatakan kemenangan dengan perolehan suara 62 persen berdasarkan real count dan C1 yang telah direkapitulasi oleh pihak internalnya, Kamis 18 April 2019.
Klaim kemenangan berdasar real count kubu 02 ini diviralkan di media sosial dengan berbekal data formulis C1 serta kegigihan pengawalan suara yag dilakukan partai-partai pengusung 02 seakan semakin menunjukkan kemenangan memang seharusnya berada di 02. Antusiasme masyarakat akan tergantinya pemimpin juga turut mendorong ketidakterimaan jika 01 menjadi pemenang.
Dengan demikian, antara qiuick count dan real count siapakah yang diuntungkan ? Jawabannya, jelas masing-masing pembawa kepentingan baik kubu 01 ataupun 02. Namun,  di atas keuntungan itu, jangan lupa ada rakyat yang dikorbankan, meninggalnya beberapa anggota dan Ketua KPPS serta aparat keamanan dalam menggelar pesta demokrasi ini, belum lagi terpecahnya masyarakat dalam kekacauan.
Semua itu harus diperhitungkan. Maka, yang diuntungkan tidak lain Ialah kekuasaan yang tidak mungkin berpihak pada keadilan dan kejujuran. [MO/ra]

Posting Komentar