Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Hehe, rupanya perseteruan LSI Denny JA vs Litbang Kompas kian memuncak. Denny tak terima dengan artikel Bambang Setiawan yang membela survei Litbang kompas yang disebut Denny JA sebagai 'Kebanyakan Micin'.

Perseteruan ini berbuntut panjang, berjilid jilid. Wajar saja ada respon, respon atas respon, respon atas respon atas respon. Jika tidak dihentikan, perseteruan ini akan menurun kepada anak cucu.

Namun publik melihat perseteruan ini tidak akan panjang. Diskursus 'Angsa Hitam' akan segera beralih topik menjadi diskursus 'Kambing Hitam' pasca Pilpres 17 April 2019.

Seri perdebatan pasca pengumuman hasil Pilpres 2019 adalah diaspora mencari kambing hitam untuk dijadikan dalih atas kekalahan dan kekeliruan. Nanti, lembaga survei akan sibuk berargumen dan melempar tanggung jawab kesalahan prediksi survei pada margin off error, angka golput, situasi politik terkini yang tidak terbaca survei, hingga yang paling ekstrim pasang muka badak dengan mengujar kata 'NAMANYA JUGA SURVEI, JIKA TERJADI KESALAHAN YA WAJAR SAJA'.

Buang badan dan pasang muka badak ini, telah biasa dilakukan oleh lembaga survei manakala prediksi hasil akhir perhitungan suara pemilu meleset jauh dari hasil survei yang mereka rilis. Biasanya, lembaga survei telah menyiapkan 'bantalan' untuk jaga-jaga jika terjadi kesalahan prediksi, juga persiapan 'bualan analisis ilmiah' jika surveinya kebetulan sama hasilnya dengan hasil akhir perhitungan suara.

Namun, Pilpres 2019 ini lain. Denny JA begitu bersemangat membela analisis survei yang memprediksi Jokowi Ma'ruf unggul telak atas Prabowo Sandi. Bahkan, Denny JA konyol membuka Front dengan Rekan sejawat sesama lembaga survei.

Tidak hanya mengoreksi hasil kinerja survei Litbang Kompas, bahkan Denny JA ikut menyerang kredebilitas kompas yang dianggap masih 'bocah' dalam urusan survei meskipun gaek dalam urusan penerbitan koran. Tidak cukup sampai disitu, Denny JA juga menyerang kredebilitas kompas dengan menyebutnya terafiliasi dengan pasangan 02, menampilkan survei yang terlalu banyak 'micin' nya.

Adapun kompas, sepanjang yang penulis baca dari tanggapan Bambang Setiawan atas esay Denny JA, masih dalam koridor ilmiah. Memang benar, sesekali ada ujaran 'Pejoratif' yang menjadi bumbu tulisan Bambang untuk mempersedap esay nya, namun masih dalam batasan wajar sebagai respon atas tulisan Denny JA yang terlampau berkebihan.

'Ala kuli hal, apapun argumentasi yang disampaikan, baik Denny JA LSI maupun Bambang Litbang Kompas, akhirnya semua bermuara pada hasil Pilpres 2019. Saat rilis hasil Pilpres, publik akan menjadi saksi sejarah, siapa sebenarnya yang pecundang, Denny JA atau Litbang kompas. Siapa sesungguhnya yang kebanyakan micin, Denny JA atau Litbang Kompas.

Namun sejauh pengamatan penulis, nampaknya babak akhir Pilpres akan mengabarkan kekalahan Jokowi. Ini berarti, Denny JA yang akan terbukti kebanyakan micin, akan terbukti survei pecundang.

Saat pengumuman hasil Pilpres, publik akan melihat kelak, bagaimana Denny JA tidak akan bicara lagi tentang angsa hitam. Denny JA akan sibuk mencari kambing hitam, mencari dalih pembenar, agar dirinya tidak terlalu malu, meski publik telah menjatuhkan vonis 'sebagai pihak yang tak punya malu'.

Oh, Pilpres kurang dua hari lagi, tapi kok seperti dua abad lagi. Ingin rasanya segera mengetahui hasil Pilpres, dan mengunggah sorak sorai dan prosa kebahagiaan diatas kegigihan Denny JA mencari kambing hitam. [].

Posting Komentar