Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Dahulu kala, belum terlalu lama, belum zaman jahiliyah, masih zamannya Jokowi, ada seorang dirut PLN yang sombong dan merendahkan rakyatnya. Saat rakyat menjerit karena tarif dasar listrik (TDL) naik, sang menteri dengan renyahnya meminta cabut meteran listrik agar tidak terbebani tagihan listrik.

Menteri itu, mengajukan pertanyaan retoris kepada wartawan. Ingin tarif listrik murah ? Tanya sang menteri ketika itu. Semua Pasang mata terdiam menunggu statement dari sang menteri. Ternyata apa jawab sang menteri ? Cabut meteran listrik !

Ya, menteri itu, dialah Sofyan Bashir. Menteri yang ketika kasus PLTU Riau diusut KPK mengeluh sudah tua, sudah mau pensiun, ingin mengakhiri karier dengan baik. Aneh, ingin karier baik tapi kelakuannya tidak baik. Akhirnya jadi TSK KPK.

Sebelumnya, Sofyan yang sombong itu, yang menganggap remeh dan lucu-lucuan beban TDL yang menghimpit pundak rakyat, pernah terekam sedang mainan fee proyek dengan geng Sumarno. Namun sepandai-pandai tupai melompat, toh tetap juga tupai. Tidak berubah menjadi kelinci.

Akhirhya Sofyan menjadi TSK KPK pengembangan kasus PLTU Riau. Sofyan disebut berperan aktif memerintahkan jajarannya agar kesepakatan dengan Kotjo terkait proyek itu segera direalisasi. Saut menyebut berbagai pertemuan itu terjadi di hotel, restoran, kantor PLN, dan rumah Sofyan.

Awalnya, Sofyan menunjuk perusahaan Kotjo untuk mengerjakan proyek PLTU Riau-1. Lantas, Sofyan menyuruh salah satu direktur di PT PLN untuk berhubungan dengan Eni Saragih dan Kotjo. Sofyan menyuruh salah satu direktur di PT PLN untuk memonitor karena ada keluhan dari Kotjo tentang lamanya penentuan proyek PLTU Riau 1. Dan akhirnya, Sofyan membahas bentuk dan lama kontrak antara CHEC (Huandian) dan perusahaan-perusahaan konsorsium.

Apa daya, doa rakyat, doa pelanggan listrik yang terzalimi karena TDL berulang kali naik, diijabah oleh Allah SWT. Sofyan menjadi Tersangka KPK, Sofyan Bashir akan menjalani hari-hari sulit, meskipun kekayaannya 119 miliar.

Sofyan, akan merasakan dinginnya jeruji penjara, kesepian ditinggal kolega dan kawan, tertunduk malu bertemu sanak saudara dan handai taulan. Sofyan, akan menemui dirinya tak ada wibawa ditengah usia yang sudah bau tanah.

Sofyan akan menyusul Eni, berkumpul dengan Idrus, juga akan satu kubangan dengan Setya Novanto. Sofyan akan 'tersengat' balasan dunia, yang tidak ada seujung kukunya dengan sengatan azab api neraka.

Sofyan 'ngunduh uwohing pakerti', Sofyan kena 'karma' karena menghina rakyat jelata. Sofyan, telah memetik buah kezaliman dari apa yang dia tanam.

Kepada para penguasa, rezim zalim, ingat, setiap kedzaliman pasti dibalas, baik didunia juga kelak di akherat. Jangan menganggap hisab Allah SWT itu lama, hisab itu lebih cepat dari tarikan nafas yang kita hirup. [].

Posting Komentar