Novia Darwati, S.Pd.
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Mediaoposisi.com-New Zealand mendadak viral di dunia maya. Aksi seorang pria yang menembakkan timah panas pada sekian banyak kaum muslim saat sholat jumat menjadi pemicunya. Berbagai macam komentar dan spekulasi pun mulai berkeliaran di media sosial.

Ada yang menyebut itu hoaks semata, ada pula yang mengecam tindakan tersebut yang dianggap brutal.

Berbicara tentang eksistensi kaum muslim, sebelum kejadian tersebut, di dalam negeri Indonesia sendiri telah muncul banyak polemik yang melibatkan isu sara berupa ketimpangan sikap sosial yang didapat kaum muslim saat memegang ide Islam mereka.

Misal saja, kasus tentang pernyataan “kafir” yang menjadi pro-kontra di kalangan masyarakat akhir-akhir ini.

Istilah “kafir” yang merupakan bagian diksi di dalam Al-Quran untuk menyebut seseorang yang masih berada di luar Islam menjadi kata yang seolah-olah haram diucapkan dengan dalih persatuan masyarakat/rakyat.

Padahal Allah Yang Maha Esa sendirilah yang telah memulai memunculkan diksi tersebut di tengah-tengah alam semesta ini.

Seolah tak cukup sampai disitu, kajian-kajian keislaman di berbagai macam kampus pun banyak yang mengalami kendala.

Penyebutan ekstrimis, teroris, fundamentalis dan yang lainnya telah menjadi hal yang biasa dialami oleh mereka yang berusaha memegang teguh aturan-aturan Islam.

Sistem demokrasi yang dielu-elukan oleh banyak kalangan dan disebut-sebut sebagai sistem yang ampuh untuk mewujudkan persatuan semua umat manusia menjadi loyo, lemah tak berdaya saat dihadapkan pada tuntutan untuk membela kaum muslim yang taat syariat.

Kebohongan Demokrasi

Menilik dari sejarah yang ada, sesungguhnya demokrasi adalah sebuah sistem yang berbasis sekularisme. Menjadikan manusia yang mereka sebut rakyat sebagai pemegang kedaulatan hukum.

 Di satu sisi, pada kenyataannya rakyat tak pernah benar-benar dijadikan pemegang kedaulatan maupun kekuasaan dalam menentukan hukum di suatu negeri.

Korporasi menjadi satu-satunya pemegang kebijakan yang ada. Siapa yang punya uang, dialah yang mengarahkan berbagai macam undang-undang.

Di sisi yang lain, seandainya kedaulatan benar-benar dipegang oleh rakyat (warga negara), maka penerapannya akan menjadi begitu kacau.

Rakyat bukanlah berisikan satu dua orang saja. Ada sekian ratus ribu atau sekian juta orang penduduk dalam satu negeri. Itu artinya, ada banyak pemikiran.

Dan masing-masing dari manusia tersebut memiliki keinginan sendiri-sendiri yang berbeda-beda. Rakyat yang mana yang harus diprioritaskan untuk dikabulkan keinginannya saat ada perbedaan pendapat di antara mereka mengenai hukum (undang-undang)? Sungguh utopis penerapan demokrasi yang sesuai dengan teorinya.

Andaikan pun demokrasi benar-benar menjadikan suara rakyat menjadi prioritas dalam pembuatan undang-undang (hukum), maka jelas Allah telah menerangkan dalam AL-Quran bahwa pemegang kedaulatan yang bermakna pembuat hukum hanyalah Allah semata. Manusia hanya berkewajiban menjalankan hukum yang telah Allah gariskan.   

Demokrasi memiliki konsep dasar yang saling bertentangan dengan Islam. Demokrasi tidak akan pernah sejalan dengan Islam bahkan saling serang. Ide lawan ide.

Konsep lawan konsep. Ide demokrasi yang bertentangan dengan Islam secara alami akan menyerang ide Islam agar tidak digantikan penerapannya di masyarakat.

Maka tidak mengherankan jika dalam prakteknya saat ini dimana-mana kaum muslimin menjadi pihak yang tertindas dan tertuduh. Hal itu terus terjadi baik di wilayah yang memiliki penduduk mayoritas muslim maupun minoritas muslim.

Jika saat ini, di tahun politik ini, banyak politikus yang menggunakan Islam sebagai umpan diperolehnya suara yang banyak, maka andaikan pun terpilih, selama sistem yang digunakan masih demokrasi, bisa dipastikan kaum muslimin yang teguh dalam memegang keislamannya, ia terus akan menjadi pihak yang tertuduh.

Demokrasi tidak akan pernah memberi jalan ke arah Islam walau itu sekedar keinginan memiliki pemimpin yang jujur dan adil sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah. Karena pemimpin yang jujur, adil, dan semisalnya akan tergilas oleh sistem yang ada.[MO/ad]

Posting Komentar