Gambar: Ilustrasi
Oleh: Atika Balqis Azizah
(Musyrifah Sekolah Tahfizh Plus SMP Khoiru Ummah Sumedang)

Mediaoposisi.com-Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berencana mensosialisasikan usaha penghapusan sebutan kafir ke non-muslim Indonesia. Ketua PBNU, Robikin Emhas,mengatakan sosialisasi ini akan dilakukan kepada pihak-pihak terkait. Menurut Robikin,sosialisasi atas usulan ini memang selalu dilakukan oleh NU. Hal ini biasa dilaksanakan usai adanya usulan atau keputusan dalam kegiatan NU yang berskala nasional.

“Seperti lazimnya, seusai menggelar kegiatan berskala nasional seperti Muktamar atau Munas Alim Ulama dan Konbes NU misalnya, NU selalu melakukan sosialisasi hasil-hasilnya,” katanya. Usulan penghapusan sebutan kafir ke non-muslim Indonesia tercetus dalam sidang komisi Bahtsul Masala Maudluiyyah Musywarah Nasional Alim Ulama NU. Sidang itu mengusulkan, agar NU tidak menggunakan sebutan kafir untuk warga negara Indonesia yang tidak memeluk agama Islam.

Pimpinan sidang, Abdul Moqsith Ghazali, mengatakan para kiai berpandangan penyebutan kafir dapat menyakiti para non-muslim di Indonesia. “Dianggap mengandung unsur kekerasan teologis, karena itu para kiai menghormati untuk tidak gunakan kata kafir tapi ‘muwathinun’ atau warga negara, dengan begitu status mereka setara dengan warga negara yang lain,” katanya di pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis, 28 Februari 2019 (tempo.co, 01/03/2019).

Hasil MUNAS yang menyatakan istilah kafir diganti menjadi non-muslim menimbulkan polemik di masyarakat. Ketua Majelis Dakwah Islam Indonesia (MADINA) Yazid Abdul Alim, Lc., mengatakan penggunaan istilah kafir dalam Islam merupakan istilah baku. Bahkan dalam Al-Quran, banyak disebutkan, kata kafir dalam banyak turunannya hingga di ratusan ayat. Sehingga tidak ada hak siapapun untuk mengubah istilah yang telah baku ini.

“Para ulama sepakat makna kafir adalah sebutan untuk orang yang tidak beriman kepada Allah subhanahu wata’ala, atau orang yang menolak dakwah Rasulullah shallahu’alaihi wasallam, baik dia berasal dari ahlu kitab, majusi atau musyrik dan istilah ini sudah ada sejak 14 abad silam,” ungkap Yazid dikutip dari Madina.or.id, Senin (04/05/2019) (kiblat.net, 05/03/2019).

Dr. Zakir Naik juga menjelaskan “Secara bahasa, kata kafir berarti orang yang ingkar. Kafir berasal dari kata kufr, yang berarti menyembunyikan atau ingkar. Dalam terminologi Islam, kafir berarti orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran Islam dan orang yang menolak Islam. Dalam bahasa Inggris, mereka disebut non-musim”.

Usulan ini merupakan upaya orang liberal untuk memusuhi agama Islam dan mengaburkan batasan-batasan antara keimanan dan kekafiran. Meskipun orang kafir tidak menerima atau merasa keberatan dengan istilah ini, hingga kapanpun istilah kafir akan senantiasa melekat pada diri mereka hingga mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Istilah kafir untuk orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya bukan bentuk diskriminasi atau sebuah penghinaan. Kembali, Ustadz Dr. Zakir Naik menjelaskan, “Jika seorang non-muslim merasa terhina bila disebut kafir, itu karena ia belum paham dengan Islam. Dia harus mencari sumber yang tepat untuk memahaminya, ia bukan saja tidak akan merasa terhina, tetapi justru menghargai Islam dalam perspektif yang lebih tepat”.

Istilah kafir bukanlah sebutan untuk menghinakan golongan yang menganut agama lain. Karena dalam perspektif Islam, kata-kata kafir memang digunakan bagi mereka yang tidak mau menerima ajaran Islam. Karena makna di balik istilah itu sendiri adalah menyembunyikan atau ingkar terhadap dakwah Islam.

Sebenarnya terlepas dari makna kafir itu sendiri, yang perlu kita waspadai adalah upaya-upaya kaum liberal untuk merusak Islam. Kaum liberal akan terus berupaya merusak Islam sepanjang rezim sekuler dan sistem pemerintahan demokrasi berkuasa di tengah umat. Upaya orang orang kafir dalam memerangi dan menghancurkan Islam sangat beragam bentuk dan caranya. Salah satu upaya mereka untuk menghancurkan Islam adalah dengan mempropagandakan paham liberalisme.

Liberalisme adalah paham dimana orang-orang yang mengikutinya akan menuhankan kebebasan. Padahal di dunia ini, manusia tidak akan terlepas dari ikatan dengan Rabb-Nya. Saat ini, paham liberalisme telah merasuki pola pikir umat Islam dan mengarah kepada sekuler. Dengan pemahaman ini umat Islam digiring secara pelan-pelan untuk tidak perlu lagi taat pada perintah Allah Subhanahu wa ta’ala. Umat Islam pun digiring secara halus untuk berislam setengah-setengah dan menyesuaikan diri dengan standar sekulerisme dan kebijakan pemerintah.

Jadi, kita perlu waspada dengan paham liberal yang diusung oleh orang-orang yang memiliki niat untuk merusak Islam. Dengan hasil MUNAS yang menyatakan istilah kafir diganti menjadi non-muslim, jelas ini adalah bentuk keberanian mengubah apa yang sudah menjadi hal yang baku, yang ditetapkan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam Al-Quran.

Sebagai makhluk Allah Subhanahu wa ta’ala., yang telah diciptakan dengan sesempurna mungkin, sudah menjadi konsekuensi bagi kita untuk taat terhadap aturan Allah Subhanahu wa ta’ala. Seperti yang sudah dijelaskan, istilah kafir bukanlah istilah untuk mendiskriminasikan atau menghinakan orang yang tidak menganut agama Islam melainkan, dalam perspektif Islam, kata-kata kafir memang digunakan bagi mereka yang tidak mau menerima ajaran Islam.

Pemahaman yang salah seperti ini hanya terjadi di dalam sistem sekuler-liberal yang membebaskan setiap orang untuk melakukan apa yang dia mau. Namun dalam Islam tidak demikian, ada batasan dan ada aturannya. Sebagai orang yang beriman sudah menjadi konsekuensi bagi kita untuk taat terhadap aturan Allah Subhanahu wa ta’ala. Mengubah sesuatu yang bersifat baku dalam Al-quran dan jelas Allah yang menetapkannya, mungkin hal yang sama dapat terlulang kembali.

Dalam sistem yang sekarang diterapkan, tidak menjamin semua tidak akan terjadi lagi. Umat butuh perlindungan dan yang terbaik hanya dapat dihasilkan dengan menerapkan Islam secara Kaffah dalam naungan Khilafah. Wallahua’lam bish-shawab. [MO/ms]

Posting Komentar