Oleh : Yuni Sulistiawati
(Mahasiswi STEI Hamfara Yogyakarta)

Mediaoposisi.com-Perusahaan start-up Indonesia seperti Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka telah menjelma menjadi unicorn yakni usaha rintisan yang mempunyai valuasi diatas 1 Miliar dolar AS. Namun perlahan kini mulai dikuasai asing. Kucuran dana besar-besaran dari berbagai investor raksasa mancanegara membuat kepemilikan empat perusahaan rintisan atau startup Indonesia sudah tidak bisa dibanggakan.

Go-Jek dinobatkan sebagai unicorn setelah mendapatkan dana sebesar 550 juta dolar AS atau 7,5 trilliun dari perusahaan papan atas AS, Tokopedia mendapatkan investasi sebanyak 1,1 miliar dolar AS atau 15 triliun dari Alibaba asal China yang dikenal sebagai perusahaan elektronik raksasa, Traveloka mendapatkan dana sebesar 350 dolar AS atau sebesar 4,77 trilliun dari Expedia perusahaan asal AS dan Bukalapak yang diklaim sebagai unicorn sejak 2007 mendapat dana investasi dari dua perusahaan ventura asal Amerika Serikat.

Executive Direktur Indonesia ICT Institut Heru Sutadi mengatakan, empat perusahaan Start-up dikuasai asing jelas itu sudah melanggar cita-cita awal pemerintah untuk menjadikannya sebagai usaha Indonesia. "Jadi tidak ada lagi kebanggaan, sebelumnya kan sering digembar-gemborkan kita memiliki 4 unicorn bahkan ada yang decacorn," tutur Heru. Jakarta, Senin (28/1/2019)

Melihat fenomena yang terjadi saat ini sungguh sangatlah miris, Indonesia yang sebagai surga bagi perusahaan teknologi rintisan dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa yang konsumtif tentunya menjadi pusat perhatian para investor asing untuk meraup keuntungan darinya. Ditambah lagi tidak ada upaya pemerintah untuk melindungi perusahaan star-up negeri ini dari tangan investor asing dan  aseng. Pemerintah justru membuka jalan bagi para investor untuk menanamkan modalnya.

Prinsip kapitalisme yang menjadikan surga bagi para pemilik modal yang membuat para pemilik modal besarlah yang akan mendominasi pemodal kecil. Mindset investasi yang diagungkan pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi hanyalah buah dari kapitalisme yang semu dalam menciptakan kesejahteraan rakyat.

Nyatanya, keuntungannya bukan untuk rakyat namun kembali ke para pemilik modal. Padahal dampaknya sangatlah berbahaya bagi stabilitas kurs Indonesia karena pemasukan utama transaksi yang  semakin defisit. Dan seluruh keuntungan bisnis dari Indonesia akan dikonversi ke mata uang asing, termasuk SDA yang akan tersedot ke luar negeri. Serta akan mempersulit tersedianya tempat-tempat untuk produk UMKM.

Keadaan ini justru berbeda dengan Daulah Islam ketika dahulu Islam diterapkan. Dalam negara Islam para investor asing tidak diperbolehkan berinvestasi dalam bidang yang strategis dan vital seperti dalam bidang informasi dan teknologi, pencetakan uang, industri persenjataan dan industri berat lainnya. Itu dilarang karena nantinya pasti akan merugikan rakyat dan dapat menjadi peluang bagi orang kafir untuk menguasai kaum muslim. Dalam Islam juga terdapat lingkup kepemilikan umum dimana pihak asing tidak boleh melakukan privatisasi segala sumber daya alam (air,hutan & api). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Rasulullah bersabda, “Kaum muslim berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang gembala dan api".

Sebagai seorang muslim seharusnya kita berbangga diri karena lengkapnya Islam mengatur segala sendi kehidupan, mulai dari bangun tidur sampai membangun negara diatur dalam Islam. Kita pun tahu, bahwasannya aturan yang saat ini diterapkan adalah aturan/sistem sekuler yakni kapitalis-liberalisme yang sudah jelas-jelas kian hari kian menambah derita ummat. Jadi sudah seharusnya pula kita campakkan sistem ini, dan berjuang untuk ditegakkannya Islam secara menyeluruh dalam bingkai Khilafah Islamiyah berdasar manhaj kenabian.

Posting Komentar