Oleh: Ifa Mufida 
(Pemerhati Masalah Sosial)

Mediaoposisi.com-Bukankah Umat Islam satu dengan yang lain diibaratkan adalah satu tubuh? Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW:

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim].
Mari Bantu Donasi Untuk Saurdara/i Muslim Di Ughur 
Lalu bagaimana kiranya ketika kondisi saat ini menjadikan kaum muslimin tak lagi bisa merasakan derita dari kaum muslim yang lain? Ini lah sebuah kondisi ironi dan miris, akibat racun nasionalisme yang mencekik!

Belum lama ini berita internasional mengabarkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman berkunjung ke Cina guna memperkuat kerja sama internasional di antara kedua negara tersebut.

Alih-alih memperhatikan derita muslim Uighur, justru dalam pertemuan ini Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman mendukung pembangunan kamp konsentrasi untuk Muslim Uighur. Dia mengatakan bahwa tindakan China itu dapat dibenarkan. Bak petir yang menyambar, sungguh hal ini seolah membuat remuk tulang belulang tubuh kaum muslimin.

Presiden China, Xi Jinping, pun mengatakan kepada putra mahkota bahwa kedua negara harus memperkuat kerja sama internasional tentang deradikalisasi guna mencegah infiltrasi dan penyebaran pemikiran yang dianggap ekstrim. Seperti gayung bersambut, pangeran Arab Saudi menyatakan bahwa  bahasa China akan dimasukkan dalam kurikulum semua tingkat pendidikan di Arab Saudi.

Dimasukkannya bahasa China di sekolah-sekolah Saudi dan universitas akan meningkatkan keragaman budaya siswa di Kerajaan. Selain itu berkontribusi pada pencapaian tujuan nasional masa depan di bidang pendidikan yang sejalan dengan Visi Kerajaan 2030 (24/02/2018).

Selain itu, China adalah menjadi salah satu investor utama Arab Saudi, selain Amerika Serikat, Perancis, dan Jepang.

Data dari American Enterprise Institute (AEI) dalam laporannya berjudul China Global Investment menunjukkan bahwa pada tahun 2016 saja, total investasi China di Arab Saudi mencapai 1,25 miliar dolar AS. Ada empat sektor utama investasi China di Arab Saudi pada tahun 2016.

Sektor pertama yakni bahan kimia. Total investasi China mencapai 120 juta dolar AS. Kemudian, China juga berinvestasi di sektor transportasi. Jumlah investasinya mencapai 180 juta dolar AS. Menurut laman tirto.id juga, kunjungan Arab Saudi ke Cina tersebut bukanlah hal yang baru terjadi saat ini saja. Jauh sebelum ini, yaitu pada Januari 2006, Raja Abdullah sudah lebih dulu mengunjungi Cina.

Sehingga, dapat dipahami bahwa kerja sama yang dilakukan kedua negara tersebut adalah kerja sama jangka panjang dan tentunya mempunyai peran yang sangat besar bagi proses bisnis masing-masing negara.

Lagi-lagi, negeri Islam di dunia tunduk dengan asing dan aseng atas nama investasi. Indonesia yang memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia pun juga tidak bisa berkutik di bawah China. Dan Kini, negeri Arab, negeri yang di sana adalah pusat umat Islam beribadah dengan adanya ka’bah, pun bertekuk lutut di bawah hegemoni negara atheis, China.

Duka mendalam yang dirasakan muslim Uighur saat ini tidak lebih penting daripada investasi besar yang diberikan oleh China selama ini. Dalam kehidupan bisnis kerajaan Saudi, investasi terbesar memang didatangkan dari negeri Tirai Bambu tersebut. Begitupun sebaliknya. Sehingga, menjadi wajar jika hubungan yang dijalin selama ini adalah kepentingan bisnis semata.

Pernyataan Muhammad Bin Salman ini bukan hanya apolitis untuk seorang muslim, namun juga bentuk pengkhianatan atas genosida massal yang dilakukan pemerintah Tiongkok atas Muslim Uighur.

Hal ini sekaligus membenarkan pendapat banyak pihak yang mengatakan bahwa sikap diamnya para  penguasa negeri-negeri muslim atas penyiksaan muslim uighur disebabkan karena faktor ketergantungan ekonomi. Arab Saudi sesungguhnya tengah mengalami masalah ekonomi dalam negeri.

Berbagai program yang dijalankan untuk membangkitkan ekonomi belum juga berhasil. Hingga akhirnya Muhammad Bin Salman melakukan perjanjian dengan pihak Tiongkok meskipun  tangannya masih berlumuran darah saudara sesama muslim.

Sungguh, kaum muslimin mengalami kemerosotan yang teramat memilukan. Ikatan akidah telah hilang, diganti dengan ikatan nasionalisme. Muslim Uighur akan terus menjerit. Penderitaan muslim Uighur sampai kapanpun tidak akan pernah dilirik jika setiap negeri muslim masih menganut ide nasionalisme.

Bukan hanya muslim Uighur, tetapi saudara-saudara muslim yang berada di luar sana akan terus merasa hilang harapan karena melihat para penguasa negeri muslim hanya diam tanpa berbuat sesuatu.

Umat Islam, sebagai umat terbaik yang disematkan Allah dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 110, akan terlihat jika umat Islam telah menerapkan aturan Islam secara Kaffah dalam setiap sendi kehidupan.

Menggunakan Islam dalam mengatur kehidupan bukan hanya perkara aqidah dan ibadah. Tetapi mulai dari sosial, politik, pendidikan, maupun ekonomi juga bersumber dari Islam. Sungguh, kebutuhan akan adanya Khilafah merupakan perkara yang wajib dan mendesak, yang dengannya kaum muslimin akan bersatu, hingga predikat khoiru ummah kembali terwujud.

Posting Komentar