Oleh : Tri Silvia 
(Pemerhati Masyarakat) 

Mediaoposisi.com-Ma'ruf Amin kembali menyampaikan kekagumannya atas kinerja yang dilakukan oleh Jokowi. Yakni terkait banyaknya infrastruktur yang dibangun pada masa pemerintahannya. Hal tersebut disampaikan di hadapan relawan Gerakan Indonesia Maju yang dibentuk Institut Lembang Sembilan di Hotel Aryaduta Jakarta pada Ahad (24/12).

Beliau mengatakan, "Yang luar biasa lagi, kita sudah memiliki investasi infrastruktur yang hebat. Tidak saja tol darat, tol laut, tol udara, tetapi saya sebutnya juga tol langit. Yaitu namanya yang kita gunakan untuk digital."

Ma'ruf Amin menyebut istilah 'Tol Langit' dalam artian sebuah jalur digital yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah yang lain dengan teknologi digital. Yang hal ini dianggap sangat memungkinkan untuk mendorong terciptanya unicorn-unicorn baru di Indonesia. (nasional.kompas.com, 24/2)

Istilah 'Tol Langit' diidentikkan dengan proyek infrastruktur telekomunikasi yang dibangun oleh Pemerintah. Proyek yang wacananya sudah bisa dinikmati Maret 2019 ini adalah proyek infrastruktur berupa pembangunan serat optik di seluruh Indonesia sepanjang 36.000 kilometer. Proyek itu terdiri atas tujuh lingkar kecil serat optik untuk wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, dan Maluku serta satu backhaul untuk menghubungkan semuanya.

Pembangunan jaringan serat optik nasional ini akan menjangkau 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Proyek akan mengintegrasikan jaringan yang sudah ada (existing network) dengan jaringan baru (new network) pada wilayah timur Indonesia (Palapa Ring-Timur). (klikaktifis.com, 01/02/2019)

Palapa Ring, mulai dikerjakan dari tahun 1998 dengan nama Nusantara 21. Mengalami penghentian pada 1999 (kala terjadi krisis ekonomi), muncul lagi wacananya pada tahun 2005, untuk kemudian baru selesai pengerjaannya pada 2019. Memerlukan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan proyek ini, tak heran penyelesaiannya mengundang banyak apresiasi dari masyarakat terutama bagi yang diuntungkan. Mereka pun menyebut proyek infrastruktur ini dengan istilah 'Tol Langit Jokowi' sebagaimana yang diungkapkan oleh Ma'ruf Amin selaku pasangan Jokowi pada pemilihan umum April nanti. (wikipedia.com)

Infrastruktur digital memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, terutama pada masa sekarang. Pasalnya segala informasi saat ini dapat tersampaikan dan berkembang dengan cepat melalui jaringan telekomunikasi dan internet. Selain itu, infrastruktur digital sangat bermanfaat untuk pengembangan usaha dan kreatifitas masyarakat secara umum sehingga mampu untuk bersaing dengan masyarakat global dari berbagai negara maju di dunia.

Namun sebagaimana benda-benda lainnya yang memiliki kelebihan dan kekurangan, begitupula halnya infrastruktur digital ini. Ada banyak sekali manfaat dan keuntungan yang bisa dipetik, namun terlepas dari hal tersebut Pemerintah pun harus berhati-hati dengan efek negatif atau keburukan yang diakibatkan oleh nya. Ada banyak sekali informasi dan tontonan di media Internet, yang masing-masing nya memiliki nilai tersendiri. Ada informasi yang baik dan positif, namun adapula informasi dan tontonan yang buruk dan tak layak.

Pemerintah harus mampu untuk menyaringnya. Jangan sampai masyarakat yang awam menjadi terbebani dengan pengaruh negatif dari informasi dan tontonan yang ada. Pun harus ada pembinaan intensif kepada masyarakat tentang bagaimana dan seperti apa mereka harus menyikapi infrastruktur yang tersedia. Ini adalah tugas pemerintah.

Adapun mengenai tindakan pembangunan infrastruktur yang telah dilakukan, hendaknya tidak berlebihan dalam mengagungkannya. Sebab bagaimana pun, itu adalah hak rakyat dan kewajiban Pemerintah. Pengagungan atasnya bisa jadi membuat pengkaburan atas hak dan kewajiban yang seharusnya. Itu tidak boleh dilakukan.

Islam memiliki banyak sekali contoh para pemimpin adil yang sangat berhati-hati terkait hak dan kewajibannya, begitupula hak dan kewajiban rakyatnya. Salah satunya Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau adalah salah satu Khalifah di masa pemerintahan Bani Umayyah. Hidup dengan sangat sederhana tanpa keinginan untuk menikmati fasilitas negara yang ada.

Beliau menyejahterakan seluruh rakyatnya di wilayah Daulah yang membentang dari Asia hingga Eropa. Hingga ada satu masa dimana tak ada masyarakat yang mau menerima infak dan sedekah, karena saat itu tak ada satupun masyarakat yang hidup di bawah standar, kecuali Khalifah nya sendiri yakni Umar bin Abdul Aziz. Menjadi Khalifah adalah beban berat baginya. Kesuksesannya dalam memimpin rakyat dan negara tak menjadi alasan untuk menikmati fasilitas negara yang berlebihan atau membangga-banggakan diri di hadapan rakyatnya. Apalagi sekedar untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi sebagaimana saat ini.

Arogansi atau kesombongan adalah sesuatu yang dilarang di dalam Islam. Tidak hanya bagi masyarakat biasa, Pemimpin pun tak lepas darinya. Bahkan tanggung jawab yang besar bagi seorang pemimpin menjadikan segala sikap dan perilakunya mendapatkan hisab yang lebih dibanding masyarakat biasa.

Apalagi jika berbicara mengenai infrastruktur digital dan Unicorn. Jika memang pembuatan infrastruktur digital tersebut hanya diklaim guna membentuk unicorn baru, maka bisa dipastikan bahwa apa yang telah dilakukan selama ini bukan untuk seluruh lapisan masyarakat, melainkan hanya segelintir orang atau badan yang dianggap mampu untuk memberikan keuntungan bagi negara. Sisanya diacuhkan, bahkan terkesan ditelantarkan.

Klaim kebanggaan dan pembangunan dipakai untuk meraih suara dan dukungan dari rakyat, yang bahkan mereka sendiri tidak merasakan pembangunan yang disebutkan.
Strategi semacam ini tidak bisa dibenarkan, sosoknya pun tak layak untuk dipertahankan. Sebab, mempertahankannya tak lebih dari sekedar mengukuhkan arogansi rezim yang terjadi.

Harus ada perubahan di negeri ini, agar istilah 'baldatun thoyyibatun warobbun ghofur' bisa terwujud secara pasti. Yakni dengan mengganti sistem sekuler liberal yang berlaku saat ini, dan menggantinya dengan sistem asli dari Ilahi Robbi.[MO/sr]

Posting Komentar