Oleh : Shita Ummu Bisyarah

Mediaoposisi.com-Tanggal 15 Maret 2019 pukul 13.40 waktu New Zealand, umat islam kembali disuguhkan tragedi kemanusiaan yang memilukan. Umat muslim yang hendak sholat jumat di masjid Al Noor di Christchurch dan Linwood Avenue diberondong tembakan brutal oleh teroris bengis yang menewaskan setidaknya 49 orang dan melukai 20 lainnya.


Lebih parahnya pelaku secara barbar menyiarkan secara langsung serangan berdarah ini melalui akun media sosialnya. Dalam video tersebut terlihat bagaimana pelaku dengan sangat brutal menyerang jamaah masjid  yang hendak sholat jumat bak main game menggunakan senapan mesin selama lebih dari 6 menit. 

Saksi mata juga melihat pelaku sempat kembali ke mobil untuk mengambil amunisi, lalu masuk lagi ke masjid untuk kembali melakukan penembakan

Lagi – lagi dunia dalam iklim kapitalisme berlaku tak adil. Pelaku yang jelas – jelas melakukan aksi teror tidak disebut teroris akan tetapi “gunman” dan aksinya disebut “penembakan bersenjata” hanya karena pelakunya bukan orang islam.

Dilansir dari Harian New Zealand, Herald melaporkan bahwa pelaku merupakanseorang pria Australia yang telah menulis manifesto berisi ideologi ekstrim kanan yang anti ilsma dan anti imigran.

Dari latar belakang pelaku sangat jelas bahwa ini adalah aksi teror terhadap kaum muslim. Jelas bahwa kaum muslim adalah korban terorisme sebenarnya, namun dunia memandang bahwa kaum muslim adalah teroris itu sendiri.

Lalu apa reaksi dunia, terutama negri – negeri yang mayoritas penduduknya adalah muslim? Mereka hanya bisa mengecam, bahkan tak sedikit yang diam.

Arab Saudi, UAE, Turki, Yordania, Indonesia, Malaysia, Afghanistan, Pakistan menyatakan kesedihan dan kecamannya melalui cuitan di twiter atau video singkat yang diunggah di media sosial.

Dengan kecaman itu seolah-olah telah gugur kewajiban mereka dan merasa bangga bak pahlawan yang sudah menyelamatkan dunia. Bahkan parahnya ada upaya untuk menutupi fakta teror ini kepada masyarakat umum dengan melarang penyebaran video yang dianggap sebagai “konten negative”.

Salah satunya Indonesia melalui Mentri Kominfo Rudiantara melarang penyebaran video ini dengan dalih mengandung aksi kekerasan dan melanggar UU No 11 Tahun 2008 mengenai Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Bahkan segala cara ia kerahkan, instansinya sudah bekerja sama dengan media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan lainnya untuk mengatasi peredaran konten ini. Sudah sekitar 500 unggahan yang dihapus dari berbagai platform sampai sore ini,” kata dia lewat akun Twitter @rudiantara_id, Jumat (15/03/2019).

Tragedi berdarah yang menyerang kaum muslim sebenarnya tak hanya sekali ini, puluhan kali aksi teror bahkan genosida yang meregang nyawa kaum muslim yang tak bisa disembunyikan dari mata dunia.

Sebut saja pembantaian Muslim Rohingya, genosida Muslim Uyghur, hujan bom di Palestina yang tak kunjung usai, kaum muslim di Bosnia, Suriah dan negara muslim lainnya yang sudah merenggang ribuan nyawa saudara kita.

Dunia seolah bungkam tak berdaya, buta matanya dan tuli telinganya. PBB terbukti gagal, sebab masalah ini sejak lama. ASEAN tidak berkutik, Indonesia hanya sekedar menyesalkan. Dunia juga hanya bisa mengecam tanpa aksi nyata.

Sebenarnya sebagai kepala negara yang memiliki kekuasaan, mereka bisa melakukan yang jauh lebih heroic daripada hanya mengecam. Mengecam, mengutuk dan yang sejenisnya sebenarnya tak menyelesaikan masalah ini secara tuntas. Kaum muslim akan terus menjadi korban kebengisan musuh - musuhnya.[MO/ad]

Posting Komentar