Oleh: Farah Sari, A.Md
(Member Komunitas Muslimah Jambi Peduli Generasi)

Mediaoposisi.com-Korupsi kembali saja terulang  menyasar semua pihak. Tak peduli individu/kelompok. Baik beragama muslim atau non muslim.

Seperti kasus yang terjadi beberapa waktu lalu. Masyarakat kembali dibuat geger karena korupsi meminta tumbal Ketum salah satu partai politik yang mengatakan berazaskan islam. Dan meluas pada pemeriksaan lembaga Kementrian Agama.

Kabiro Humas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah mengungkapkan alasan KPK menyegel ruang kerja milik Menteri Agama Lukman Hakim Saefudin dan ruangan Sekertaris Jenderal Kementrian Agama (Kemenag) Nur Kholis.

Diketahui, sejumlah ruangan di kantor Kemenag pusat langsung disegel setelah tangkap tangan yang melibatkan Ketua Umum PPP M Romahurmuziy di Jawa Timur

 Sungguh sulit dipercaya. Mendapati realita pahit. Orang dan lembaga yang seharusnya menjadi sandaran bagi umat muslim untuk bisa diurusi hajat hidupnya sesuai dengan syariat islam, malah jauh dari tuntunan islam. Tentu saja, islam melarang praktik korupsi.

Lalu apa yang salah sesunguhnya di negeri ini? Kenapa korupsi tak pernah bisa diselesaikan? Padahal negara sudah membentuk lembaga KPK

Demokrasi gagal, selamatkan dengan islam

Berulangnya kasus korupsi menunjukan hadirnya lembaga KPK bukan solusi tuntas. Lalu solusinya apa? Mari kita analisa akar masalah muncul dan suburnya korupsi. Setidaknya ada 3 komponen utama yang dapat memberangus korupsi.

Pertama. Individu memerlukan kontrol yang kuat untuk mengendalikan diri agar tidak korupsi. Maksudnya adalah keimanan kepada Allah SWT. Individu haruslah memahai sebagai muslim ia terikat dengan syariat. Syariat islam melarang korupsi.

Saat muslim memiliki keimanan yang kuat ia akan selalu merasa diawasi oleh Allah dan ingat dengan penghisaban di akhirat kelak.
Allah SWT  berfirman: "Dan ketahuilah sesungguhnya Allâh Maha mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dirimu, maka berhati-hatilah "( QS Al-Baqarah :235)

Maka hari ini kontrol keimanan pada individu muslim sangat lemah. Buktinya, masih banyak muslim yang mudah meninggalkan shalat.

Padahal shalat adalah ibadah pertama yang akan dihisab Allah. Jika shalat yang utama saja mudah ditinggalkan menjadi wajar jika korupsi mudah dilakukan.

Upaya kita adalah bersegera membentuk ketakwaan dan pemahaman pada islam. Tentu ini butuh dukungan penguasa secara sistemik. Terutama lembaga pendidikan haruslah mampu menjadikan lulusannya berkepribadian islam dan keimanan yang mantap.

Inilah perkara yang hilang di negeri kita. Sistem demokrasi tidak memfasilitasi hal tersebut. Disebabkan katena menjadikan aturan yang dibuat manusia sebagai aturan hidup termasuk mengatur sistem pendidikan.

Bagaimana keimanan akan kuat, pemahaman islam akan mantap dan berkepribadian islam jika belajar agama islam hanya 2 jam/minggu? Diperparah dengan terbatasnya cakupan materi ajar seputar ibadah mahdoh saja.

Kedua, adanya kontrol sosial masyarakat dalam amar makruf nahi mungkar (dakwah). Islam mewajibkan setiap muslim melakukan dakwah.

Disamping itu jalan dakwah adalah jalan yang mulia.  Kewajiban dan kemuliaan, tidakkah kita tergiur untuk meraihnya? Allah SWT berfirman : “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS: Ali Imron 110)

Fakta saat ini, masyarakat cendrung bersifat cuek dan individual. Enggan menasehati saat melihat kemaksiatan. Ketidak peduliaan ini juga diperparah adanya penerapan HAM.

Merasa melanggar hak seseorang jika menasehati. Meskipun nasehatnya kepada islam. Inilah bukti kerusakan sistem hidup demokrasi. Melahirkan HAM yang malah menjadi bumerang bagi masyarakat.

Ketiga, kontrol negara dengan penerapan sistem islam yang sempurna dan paripurna. Kita meyakini islam adalah satu-satunya agama yang benar. Karena islam berasal dari Allah SWT. Islam juga adalah solusi dari seluruh problematika hidup manusia. Siapa yang paling memahami manusia jika bukan penciptanya! Yaitu Allah SWT.

Allah SWT berfirman : “Wahai orang orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh).” (QS. Al-Baqarah: 208).

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sungguh Aku akan menjadikan di muka bumi Khalifah…” [QS al-Baqarah : 30].

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” [QS Al-Maidah  : 44]

lantas atas dasar apa hari ini negeri mayoritas muslim, dipimpim oleh seorang muslim tapi tidak menhambil islam sebagai sistem hidup? Malah mengambil demokrasi yang berasal dari plato dan tidak ada dalil syari yang memerintahkan hal tsb.

Bahkan aturan yang dilahirkan demokrasi membuka kran menjamurnya korupsi. Ongkos pemilu mahal, gaya hidup yang serba bebas, memisahkan agama dalam kehidupan. Jadi penerapan demokrasilah biang masalah korupsi dinegeri ini.[MO/ad]

Posting Komentar