Oleh  : Sry Rahmadani

Mediaoposisi.com-Sebanyak 1000 lebih warga (relawan) Nawa Cita Jokowi di Lhokseumawe melaksanakan deklarasi pemenangan calon presiden dan wakil presiden 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin pada Pemilu 2019.

Nawa Cita merupakan sembilan program prioritas jika kembali terpilih sebagai presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2019, Sembilan program itu disebut Nawa Cita.

Janji manis pada saat musim pemilu memang selalu menjadi andalan para calon yang ingin duduk dikursi.

Tetapi nyatanya bila telah terpilih tak banyak dari mereka yang memenuhi janjinya itu. Bukan hal yang baru mereka hanya berjanji tapi tak merealisasikan.

Maunya duduk di kursi mewakili rakyat duduk menjadi pemimpin. Tetapi tak pantas dikatakan pemimpin bila janji saja tak dapat di penuhi. Bukankah janji adalah hutang, dan hutang harus dibayarkan.

Pemimpin harusnya tidak berkepribadian seperti ciri orang munafik.
Dimana ciri orang munafik adalah bila berjanji maka ia berdusta. Stop berjanji kami tak butuh janji tanpa solusi.

Pemimpin harus mengayomi dan mengurus urusan rakyat. Bukan cuma janji tanpa bukti. Kalau hanya janji bahkan anak kecil pun bisa berjanji.

Inilah pemimpin hasil dari sistem kapitalisme . Dimana takkan ada mengurusi masyarakat karena yang terpenting dari budak kapitalisme adalah manfaat dan dapat memperkaya diri sendiri.

Padahal di dalam islam pemimpin harus memiliki  4 ciri khusus. Pertama, Shiddiq artinya benar. Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatannya juga benar.

Sejalan dengan ucapannya. Sangat berbeda sekali dengan pemimpin sekarang yang kebanyakan hanya kata-katanya yang manis membuat janji busuk penuh dusta namun perbuatannya berbeda dengan janjinya.

Kedua, Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya. Jika satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dan yang ketiga adalah Tabligh artinya menyampaikan. Menyampaikan kebenaran walupun itu pahit baginya dan yang ke empat adalah Fathonah artinya Cerdas.

Pemimpin dengan  ciri khas semacam ini tidak akan lahir dari sistem bangkai kapitalisme berbau demokrasi.

Mau si anu atau si ane atau si ano pemimpinnya bila masih di dalam sistem kapitalisme ini takkan dapat menyelesaikan masalah umat . Ini bukan hanya masalah pemimpin tapi juga masalah sistem yang dipakai.

Ibarat sebuah mobil yang rusak mau supirnya diganti dengan pembalap F1 sekalipun mobil itu tidak akan bisa bergerak . Karena bukan hanya sopir saja penentu mobil berjalan tapi mobil itu juga punya andil besar untuk bisa bergerak.

Jadi bukan masalah pemimpin tapi masalah sistem yang digunakan. Stop janji busuk kampanye dan campakkan sistem kufur sekuler kapitalisme. Kembalilah pada sistem buatan Allah sang pencipta agar bumi kita menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur (negeri yang subur dan makmur, adil dan aman) karena telah menerapkan hak Allah.[MO/ad]

Posting Komentar