Oleh : Desi Dian Sari
Mahasiswa Universitas Merdeka Malang

Mediaoposisi.com-Menurut KBBI online kata spirit merujuk pada makna semangat: -- yang tinggi merupakan salah satu faktor kemenangannya; jiwa; sukma; roh.
Teringat pidato ustadz kondang yang mengatakan bahwa capres 01 memiliki spirit kenabian yang layak ditiru. Ini adalah hasil penelitian pribadi sang ustadz, terkait sisi religiusitas petahana.  Keislamannya murni karena ketaatan beragama, bukan pencitraan di ruang publik.  Dia menjadi sosok yang memberi harapan dalam kapasitasnya sebagai kepala negara sekaligus kepala keluarga yang sukses., katanya. (indonews.id, 3/3). 

Bahkan juga disampaikan bahwa 01 memiliki kebiasan positif yakni shalat dan puasa Senin-Kamis di tengah kesibukannya. Lantas bagaimana korelasi ibadah seseorang dengan kapasitas dan kompetensinya sebagai pemimpin negara?

Islam: Tak sekedar Spirit

Masyarakat perlu tau, bahwa kata “Islam” memiliki pengertian Aslama (أَسْلَمَ) yang artinya menyerah atau berserah diri yaitu agama yang mengajarkan menyerahan diri kepada Allah SWT, tunduk dan patuh kepada hukum-hukumNya tanpa tawar menawar.

Sebab Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw yang meliputi Akidah dan Syariah (termasuk di dalamnya hukum-hukum ibadah). Sebagai Al-khaliq (pencipta) sekaligus sebagai al – Mudabbir (pengatur), tak kan membiarkan manusia begitu saja tanpa petunjuk kehidupan (the way of life), maka Allah memberikan petunjuk berupa aturannya dalam Al-Quran dan Assunah.

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. [al-A’râf/7:52].

Bisa dikatakan, bahwa setiap muslim- yang beriman kepada Islam- harusnya tak sekedar punya spirit untuk beribadah semata.  Karena Islam lebih dari itu, yaitu melaksanakan semua petunjuk dan syariat yang dibawa Rasulullah Saw, sebagai rasul-Nya.  Islam sebagai agama samawi (berasal dari langit) harus diterapkan secara kaffah dalam kehidupan. Dengan bentuknya sebagai ideologi sebab Islam memiliki fikrah (pemikiran) dan thorikoh (metode pelaksanaan). Islam tidak hanya diambil sekedar spirit, akhlaq dan simbol

Jika dikaitkan dengan teladan kita –Nabi Muhammad Saw- bagaimana kepemimpinan beliau, maka Allah telah berfirman : “ Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” [al-Ahzab/33:21].

Keteladanan yang baik pada diri Beliau sangatlah sempurna. Baik dari aspek individu, keluarga maupun ketika memimpin negara.  Dan dikecualikan pada hal-hal yang khusus berlaku bagi Beliau, sebagaimana banyak diterangkan oleh ulama ushul dalam kitab-kitab mereka (alwaie, November/2018).

Dalam kapasitasnya sebagai individu dan kepala keluarga, tak ada khilafiyah tentang keutamaan Beliau. Sebagaimana sabda Beliau :

“ Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang baik kepada keluarga (istri)-nya.  Dan aku adalah yang terbaik dari kalian terhadap keluargaku.” (HR al Hakim dan Ibnu Hibban). 
Apalagi sebagai individu yang sangat dengan Allah, bahkan tak satupun manusia bisa meniru begitu khusu’ dan luar biasanya ibadah Beliau. 

Namun justru aspek terpenting dalam peri kehidupan Rasulullah, yang banyak diabaikan saat ini.  Mereka tak mau terima bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang pemimpin Negara Islam. Padahal orang “luar” Islam secara jujur berkesimpulan soal ini, Prof. Jules Masseman-peneliti independen di Universitas Chicago Amerika- mengatakan : “ Barangkali pemimpin teragung sepanjang sejarah adalah Muhammad yang telah memenuhi tiga syarat tersebut.”  Ketika beliau menentukan syarat untuk mendaulat seseorang “layak” menjadi pemimpin terbaik, yaitu (1) Ada proses pembentukan kepemimpinan yang baik, (2) Mampu menaungi kesatuan masyarakat yang terdiri dari keyakinan yang heterogen, (3) Mampu mewujudkan sebuah sistem masyarakat yang manusia hidup di dalamnya dengan aman dan tentram.  (Majalah Time, Who Were History’s Great Leaders,  edisi 15 Juli 1974).

Karena Islam adalah sistem kehidupan, membutuhkan kepemimpinan dalam negara agar sistem ini bisa diaplikasikan total (kaffah).  Bukan sekedar ibadah atau urusan berkeluarga semata. Jadi sampai di sini pernyataan ustdz kondang tadi, sungguh tak ada nilainya.  Sebab ketika mengatakan seseorang layak untuk ditiru karena memiliki spirit kenabian, padahal nyatanya tak stetes pun ada “kesamaan” level dengan sang nabi, Habiballah. Teutama sisi politis Rasulullah sebagai pemimpin negara.

Sungguh, saat ini kita membutuhkan seseorang yang “layak” menjadi pemimpin, yang memiliki sifat ke-negarawan-an.  Bukan yang cuma dicitrakan oleh berbagai pihak bahwa dia “layak”.  Karena sejatinya itu klaim sepihak tanpa bukti nyata.  Dan rakyat sudah muak. Wallahu’alam bishowab[MO/vp]

Posting Komentar