Oleh : Novi Alfi 
(Admin Belajar Nulis Bareng)

Mediaoposisi.com-Beberapa hari lalu dikabarkan bahwa putra mahkota Arab Saudi mendukung China dalam membangun Kamp konsentrasi untuk muslim Uighur.

Padahal, seperti yang kita ketahui muslim Uighur disiksa oleh pemerintah China di kamp konsentrasi tersebut. Selain itu, Arab Saudi juga membangun kerjasama ekonomi dengan negara China, termasuk memasukkan bahasa Mandarin ke dalam kurikulum pendidikan di Arab Saudi.

Hal ini merupakan berita yang sangat miris. Bagaimana tidak, negeri muslim yang dikenal syu'ur Islam yang kuat tersebut justru mendukung musuh dalam menumpas umat muslim sendiri dan membangun kerjasama ekonomi juga memasukkan bahasa negara musuh ke dalam kurikulum pendidikannya. Sungguh biadab dan menyedihkan!

Putra Mahkota Arab Saudi mendukung pemerintah China dalam pembangunan kamp konsentrasi untuk muslim Uighur. Ia mengatakan tindakan China tersebut dapat dibenarkan. “China memiliki hak untuk melakukan pekerjaan anti terorisme dan ekstremisme untuk keamanan nasionalnya,” ujar putra mahkota di China hari Jumat (22/2)

Baca: Romi Teriak Paling Pancasilais Ternyata Dia Dalang Dibalik Jual Beli Jabatan di Kemenag

Dikutip dari tirto.id (28/2/2017) lalu, Raja Arab Saudi Raja Salman mengunjungi Cina. Ada yang menyebutkan bahwa kedua negara tersebut menjalin kerjasama dan membahas bisnis serta memperkuat kerjasama dalam pemurnian minyak yang dikelola oleh Saudi Aramco dan Sabic.

Bahkan Bahasa Cina akan dimasukkan dalam kurikulum Arab Saudi di seluruh tingkat pendidikan Arab Saudi.

Beberapa fakta diatas menggambarkan, ke arah mana sebenarnya Arab Saudi berpihak. Apakah ia berpihak kepada umat muslim ataukah ia berpihak pada musuh Islam. Jika dilihat dari berita diatas, tentu kita sudah mengetahui Arab Saudi berpihak pada musuh.

Arab Saudi yang notabene negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam dan diharapkan dapat menolong muslim Uighur nyatanya malah berpihak kepada musuh yang menghancurkan umat Muslim.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa kamp konsentrasi di Cina tersebut digunakan untuk menyiksa dan membantai umat muslim yang taat pada ajaran Islam. Bahkan beribadah pun dilarang ketika berada di kamp konsentrasi tersebut.

Jika putra mahkota Arab Saudi mendukung Cina dalam membangun kamp konsentrasi tersebut, hal itu sama saja dengan mendukung pembantaian Cina terhadap muslim Uighur.

Padahal seharusnya, sebagai seorang muslim, setiap kita harus menolong muslim lainnya ketika tertimpa bencana, bahkan pembantaian dari musuh Islam. Sebagaimana hadits berikut :

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. Tidak boleh mendzaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah memperhatikan kebutuhannya.

Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 2442, Muslim no. 2580, Ahmad no. 5646, Abu Dawud no. 4893, at-Tirmidzi no. 1426 ; dari Abdullah bin “Umar radiyallahu’anhuma)

Dari hadits diatas jelas sikap Arab Saudi kepada sesama muslim dipertanyakan. Jika Arab Saudi mendukung pihak musuh dan bekerjasama dengan musuh, apakah penguasa Arab Saudi pantas disebut sebagai seorang muslim? Bukankah sesama muslim adalah saudara yang seharusnya saling menolong jika muslim lainnya membutuhkan pertolongannya?

Lalu, siapa lagi yang bisa diharapkan jika tidak ada yang mau menolong umat muslim yang tertindas di China, Rohingnya, Suriah, Palestina, dan lainnya?

Negara muslim yang mana lagi yang dapat menolong muslim yang tertindas hingga hari ini? Siapa dan negara mana yang dapat diharapkan untuk menolong muslim yang tertindas ini?

Sungguh memang ketika dunia hari ini dikuasai oleh kapitalisme maka negeri-negeri di seluruh dunia secara otomatis akan sangat jauh dari pemahaman Islam tak terkecuali negeri muslim sekalipun. Maka satu-satunya jalan untuk membebaskan saudara-saudara kita yang teraniaya adalah dengan cara berjuang bersama menerapkan seluruh syariat Islam dalam bingkai negara.

Dengan tegaknya Daulah Islam di muka bumi ini, insya Allah umat muslim yang tertindas di berbagai negara segera dibebaskan dan ditolong oleh khalifah (pemimpin) dalam naungan Daulah Islam.[MO/ad]

Posting Komentar