Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Sore itu suasana tampak suram, selain mendung menggulung terlihat pula wajah sembab keluarga Pak Joko yang dilanda kesedihan dan duka yang mendalam. Bu Joko, nampak masih terisak menahan tangis.

"Pak, apa kita memang harus pulang ke Solo ?" Tanya Bu Joko kepada suaminya.

Sedikit mengerenyutkan dahi, nampak Pak Joko menerawang jauh. Ada semacam sesak yang mendalam, sulit untuk menjelaskan sesuatu yang sudah diketahui secara pasti. Mengabarkan dan mengulang penjelasan kenapa harus pulang ke Solo, itu sangat menyakitkan.

Bagaimanapun, betapapun Bu Joko sudah paham kenapa keluarga Jokowi harus pulang ke Solo, Pak Joko tetap harus menjelaskan. Pak Joko, terpaksa harus menyampaikan penjelasan yang redaksinya sangat menyakiti hatinya.

"Iya Bu, kita harus pulang. Jakarta, sudah tak menghendaki kita lagi. Mimpi kita untuk Indonesia, sudah tak dianggap menarik lagi" desah Pak Joko lirih.

"Kita harus pulang ke Solo, karena itu kampung kita, rumah kita. Setidaknya, di solo kita masih memiliki sisa asa, sisa semangat untuk modal kita melanjutkan kehidupan. Betapapun perih..." tegas Pak Joko, yang nampak ingin menghibur diri dan membesarkan hati sang Istri.

Tiba-tiba, suara nyaring Bajai menerpa kesunyian. Pak Joko segera bergegas mengajak istrinya.

"Ayo Bu, bajai sudah datang. Tiket kita di stasiun Senen jam 19.00, paling tidak jam 18.00 kita sudah sampai stasiun. Barang-barang penting sudah Bapak paketkan ke Solo, anak-anak juga sudahBbapak minta mengepaki bisnis pisang mereka. Di solo, Bapak sudah cari sewaan tempat untuk melanjutkan bisnis pisang mereka.." sambil berlari kecil, Pak Joko memasukan beberapa tas dan koper kedalam bajai.

"Ke stasiun Senen ya Pak" ujar Pak Joko kepada masinis bajai.

=====oo000oo=====

Sejurus kemudian, Pak Joko dan Bu Joko sudah ada di kereta. Tujuan akhir Kereta yang mereka tumpangi ke stasiun Lempuyangan Jogja, tapi mereka turun di stasiun Solo Balapan. Dalam suasana yang hening, kembali Bu Joko berbicara lirih kepada suaminya.

"Pak, apakah kita tidak mungkin lagi kembali ke Jakarta ? Ibu sudah terbiasa dengan Jakarta, biasa dilayani, biasa mgemol, biasa selvie, biasa karib dengan wartawan. Apakah kita akan selamanya tinggal di Solo ?" Bu Joko nampak sambil sesekali menikmati buntelan bekal, ada beberapa potong arem-arem yang sengaja dibuat untuk bekal perjalanan mereka berdua.

"Bu, kita harus melupakan Jakarta. Anggap saja, kita pernah bersafari tour ke Jakarta. Sekarang kita harus berani kembali pada kenyataan, bahwa Jakarta tak menginginkan kita, bahwa indonesua tak berkenan pada mimpi kita" ujar Jokowi.

"Kita saat ini justru harus mempersiapkan diri, karena bapak belum yakin hanya Jakarta yang tidak menginginkan kita. Bapak merasa, solo pun sudah tak ramah lagi kepada kita. Bapak sadar, ini semua salah bapak yang terlalu banyak bohong dan mengumbar janji. Saat ini, kita sedang Ngunduh Uwohing Pakerti".

Pak Joko terus melayani keluh kesah dan curhatan sang istri. Pak Joko sadar, tinggal istri dan kekuarga saja yang masih setia menjaga hidupnya.

Opung sudah melupakan, karena opung hanya dekat karena pamrih. Saat Pak Joko jatuh, opung tidak lagi menampakan hubungan persahabatan.

Beberapa peringgi partai tak kecuali Bude dan cukong yang sebelumnya tersenyum manis sumringah, selalu meminta waktu Pak Joko, saat ini juga sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Mungkin, satu-satunya yang masih mengingat Pak Joko adalah Mas Rommy. Tapi, ingatan Mas Rommy juga bukan karena kedekatan dan ketulusan.

Ingatan Mas Rommy justru muncul dari rasa kecewa yang mendalam, karena pernah diabaikan Pak Joko. Kasihan sekali Mas Rommy.

Tidak terasa, kereta sudah melewati banyak stasiun. Akhirnya, Pak Joko beserta istri sampai juga di stasiun Solo balapan. Keduanya, agak berlari kecil menuju ojek untuk menjangkau rumah. Benar saja, beberapa orang di stasiun yang sangat mengenal wajah Pak Joko, terlihat sinis dan mengabaikan. []

*Selamat jalan Pak Joko, selamat mengarungi hidup baru. Semoga, ada waktu untuk merenung dan menginsyafi segala dusta dan kesalahan.

Posting Komentar