Gambar: Ilustrasi
Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Siapa yang tidak tahu, SAS yang sering membuat pernyataan kontroversi dengan menyebar hoaks dan ujaran kebencian yang membuat banyak kalangan marah dan sakit hati? Semua orang tahu bahwa mulutnya berbisa yang menyebarkan racun kebencian pada kelompok lain, terutama pada umat Islam. Namun, dia selalu selamat dari jeratan hukum karena dia licik dan licin seperti belut. Dia pandai mengambil hati penguasa sehingga selalu dalam perlindungannya. Beranikah Jokowi membiarkan kasus SAS berjalan sesuai koridor hukum yang tidak tebang pilih?

Hukum harusnya berlaku adil untuk semua orang bukan tajam ke lawan tapi tumpul ke kawan. Menyadari kondisi hukum saat ini dalam sistem demokrasi, dia merasa arogan karena selama ini dia kebal hukum dengan berlindung pada ketiak penguasa. Dia sudah melakukan banyak keresahan di tengah umat namun hukum tidak berdaya dihadapannya. Ini yang membuat dia semakin sombong dan seenaknya mengucapkan kata-kata yang memecah belah umat.

Umat tidak lagi simpati padanya karena tingkah dan ucapannya yang tidak lagi menggambarkan seorang ulama'. Memelihara dia tidak lagi menguntungkan bagi petahana yang ingin berkuasa satu periode lagi karena tebaran kata-katanya akan terus menurunkan elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf. Rakyat semakin muak dan tidak simpati dengan tingkah lakunya yang sok kebal hukum. Bahkan kalangan NU sendiri banyak yang tidak senang dengannya.

Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Dia harusnya mengambil pelajaran dari pepatah tersebut. Jika dia tidak berhenti dengan perilakunya yang sangat arogan dan meremehkan pihak lain, pasti dia akan terjungkal dan itu pasti menyakitkan.

Ketua Umum Aliansi Anak Bangsa (AAB) Damai Hari Lubis menyatakan sudah melaporkan SAS karena menyebarkan kebencian di ruang publik yang berdampak pada konflik horizontal. SAS lewat pernyataannya dinilai menyebarkan fitnah dengan pernyataan pasangan Prabowo-Sandi telah didukung kelompok Islam ekstrem. Pernyataan tersebut diucapkan ketika SAS diwawancara oleh salah satu program acara stasiun televisi. SAS menyatakan di sini (pendukung Prabowo) terdapat kelompok Islam radikal, ekstremis, dan teroris.

Dilaporkannya SAS ke polisi bisa menjadi pelajaran baginya agar dikemudian hari bisa lebih berhati-hati saat mengucapkan kata-kata tersebut. Seperti yang disampaikan cucu pendiri PBNU, bahwa sudah waktunya SAS mengambil pelajaran dari perbuatannya yang suka menebar hoaks dan kebencian terhadap umat.

Sebenarnya, ini bukan pertama kali dia dilaporkan ke polisi untuk diproses hukum atas kata-katanya yang menyebarkan kebencian. Namun, hukum tebang pilih dalam sistem demokrasi selalu menyelamatkannya. Pandainya mendekati penguasa membuat dia selalu selamat dan tidak diproses hukum. Ingat, hukum dunia mungkin dia bebas tapi tidak pengadilan akhirat yang pasti akan menghukum dia dengan hukuman yang paling berat.

Beranikah Jokowi membiarkan proses hukum SAS berjalan tanpa intervensi karena dia adalah anak emasnya yang setia? Apapun keputusan Jokowi atas kasus SAS tidaklah menguntungkan petahana. Jika hukum tidak bisa tegak dan SAS bebas lagi atas intervensi penguasa, rakyat akan semakin tidak percaya atas supremasi hukum dan itu bisa turunkan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf. Lebih dari itu, jika hukum berjalan lambat untuk menyelamatkan SAS, dia akan semakin sombong dan banyak memproduksi ujaran-ujaran kebencian yang tidak menguntungkan rezim yang sedang berkuasa.

Sebaliknya jika hukum dibiarkan menjerat SAS, kubu Jokowi-Ma'ruf akan kehilangan pendukung setianya lagi setelah Romi yang terjerat OTT oleh KPK. Jokowi bingung di ujung kehancurannya karena sikap pendukungnya yang tidak bisa menjaga perilaku dan kata-katanya. Belum lagi konflik internal antara partai koalisi yang mulai memanas membuat Jokowi semakin terancam kalah dalam pertarungan pilpres yang tinggal menghitung hari. [MO/ms]

Posting Komentar