Oleh: Merli Ummu Khila 

Mediaoposisi.com- Jumat, 15 Maret 2019 menjadi hari berduka bagi ummat islam, dunia dikejutkan oleh penembakan brutal di dua masjid di Christchurch, New Zealand yang menewaskan 49 orang Kepolisian Selandia Baru menyebut penembakan brutal itu 'direncanakan sangat matang'.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (15/3/2019), Komisioner Kepolisian Selandia Baru, Mike Bush, dalam konferensi pers menyebut korban tewas dalam serangan teroris itu mencapai 49 orang.

Perdana Menteri (PM) Jacinda Ardern telah menyebut penembakan brutal ini sebagai 'serangan teroris' dan mengecamnya. Seperti dilansir DetikNews Jumat 15 Maret 2019, 16:15 WIB

Serangan terhadap muslim yang sedang menjalankan ibadah ini merupakan perbuatan keji dan biadab dan pelaku nya adalah teroris yang sebenarnya.

Namun miris, ketika mendapati reaksi dari dunia yang seolah membisu. Tidak ada teriakan dari pejuang HAM atas nama kemanusiaan, tidak ada kecaman dari para pemimpin negara islam, padahal jelas-jelas motif dari penembakan adalah kebencian terhadap islam. Mengapa dunia seolah tak bersuara ketika korban nya adalah umat islam?

Kemunduran umat islam

Kemunduran umat islam memang sudah yang jauh sebelum diruntuhkannya negara islam dari negeri adikuasa 95 tahun silam. Masuk nya pemikiran asing yang menggoyahkan islam dalam penerapan nya. Sehingga  hukum yang dipakai justru lebih banyak yang diluar sistem islam.

Terlebih ketika kekhalifahan runtuh, umat mulai meninggalkan pengetahuan keislaman sehingga sedikit sekali ulama yang siap berpikir.

Ilmu agama berubah menjadi sekedar ilmu yang tidak dituntut untuk diamalkan dalam negara dan kehidupan. Umat hanya menuntut ilmu untuk memperkaya intelektualitas saja.

Nasionalisme yang  mengikis perasaan seakidah 

Runtuhnya khilafah juga membuat umat tersekat oleh nasionalisme. Perasaan cinta pada negara perlahan mengikis perasaan seakidah sehingga ketika ada saudara seiman yang berada di negara lain yang terdzalimi seolah tak peduli, meskipun peduli namun tidak mampu melakukan apa-apa selain kecaman dan bantuan logostik karena selain itu akan terhalang oleh otoritas negara setempat

Tersekat nya umat oleh nasionalisme ini tak lepas dari peran Barat yang sengaja membangkitkan rasa nasionalisme diatas perasaan seakidah demi menghambat persatuan umat islam. Sayangnya umat tidak menyadari, bahkan mulai terkotak - kotak dan assobiyah terhadap golongan nya.

Jadi mengapa dunia seolah tanpa suara saat muslim menjadi korban dari para teroris?. Mengapa muslim minoritas yang secara kasat mata di dzalimi namun para pemimpin negeri islam seolah tidak ada upaya membela. Ini semua karena tiada kepemimpinan dalam islam.

Umat tiada perisai yang mampu menjadi pelindung dari berbagai ancaman dan diskriminasi dari asing

Sudah seharusnya para pemimpin negeri islam tegas terhadap ke sewenang-wenangan terhadap umat islam. Bersatu dalam satu kepemimpinan seperti dahulu saat islam berjaya dibawah kekhalifahan dengan menerapkan sistem Islam.

Karena dalam islam, jangan kan muslim yang di kriminalisasi, wanita yang di lecehkan saja bisa berujung pada pengusiran satu kaum seperti kisah Bani Qainuqa yang tidak boleh tinggal lagi Madinah oleh Rasulullah hanya karena melecehkan seorang muslimah. 

Pada masa khalifah al-Mu’tashim Billah, yang mengerahkan 3000 tentara hanya karena ada seorang muslimah yang ditahan di  kota Amurriyah.[MO/ad]

Posting Komentar