Oleh : Ummu Nazry
(Pemerhati Generasi)


Mediaoposisi.com-Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berencana mensosialisasikan usulan penghapusan sebutan kafir ke nonmuslim Indonesia. Ketua PBNU Robikin Emhas mengatakan sosialisasi ini akan dilakukan kepada pihak-pihak terkait.(Jakarta, Tempo.com, 2019).

Sungguh lancang, manusia yang berani mengutak-atik ayat suci Al-Qur'an, tanpa ilmu. Tersebab mengutak-atik Al-Qur'an tanpa ilmu akan memberikan peluang timbulnya kesalahan dan penyesatan umat. Hal ini akan berpeluang pada dosa jariyah. Yaitu tumpukan dosa yang disumbangkan dari pengikut yang mengikuti pendapatnya tanpa ilmu.

Sungguh, bukan tanpa maksud Allah SWT menyematkan kata kafir pada orang-orang non muslim. Penyematan kata kafir pada non muslim ini terkait dengan hak dan kewajiban yang wajib diperoleh oleh seseorang yang mendapatkan cap kafir tersebut.

Kafir disematkan bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT. Walaupun urusan surga dan neraka adalah semata-mata hak prerogatif Allah SWT untuk untuk memilih dan memilah siapa yang berhak masuk ke dalam surga dan nerakanya Allah SWT. Lebih jauh dari itu, sematan kata kafir dan beriman itu terkait dengan hak dan kewajiban apa yang patut ditunaikan dan diperoleh didunia.

Dalam interaksi kehidupan yang diatur oleh syariat Islam kaffah, dalam sistem Islam. Baik muslim ataupun kafir memiliki hak dan kewajiban yang sama dimata Islam. Memiliki hak untuk memperoleh pelayanan publik yang baik, berupa kesehatan, keamanan, dan pendidikan. Juga memiliki hak yang sama dalam urusan memperoleh kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan pokok berupa sandang, pangan dan papan.

Baik muslim maupun kafir memiliki kewajiban untuk menjaga keutuhan negeri yang menaungi kehidupannya, menjaga kestabilan kehidupan masyarakat, menjaga keamanan dan ketertiban dan kewajiban menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan perilaku kriminal.

Baik muslim maupun kafir dalam sistem Islam diwajibkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan dilarang tolong menolong dalam perbuatan dosa dan maksiat.
Dosa dan maksiat dalam hubungannya antara muslim dan kafir adalah terkait dengan hal-hal yang berkaitan dengan kebiasaan buruk masyarakat. Antara lain dilarang saling menggunjing dan memfitnah.

Adapun untuk urusan keyakinan, maka sistem Islam menyerahkan kepada masing-masing individu. Islam tidak pernah mengintervensi keyakinan orang-orang kafir. Yang dilakukan Islam hanyalah berdakwah, membuka wawasan agar manusia mampu berfikir hingga ditemukan keyakinan yang dapat menjawab setiap tanya tanpa menyisakan pertanyaan baru, memuaskan akal, menentramkan jiwa dan sesuai dengan naluri penciptaan manusia.

Dalam sistem Islam, baik muslim maupun orang-orang kafir mendapatkan perlakukan yang sama dimata hukum. Siapapun, jika kedapatan melakukan pelanggaran hukum syariat, maka dia akan mendapatkan hukuman. Siapapun, jika kedapatan melakukan perbuatan maksiat, maka dia akan mendapatkan hukuman sesuai ketentuan syariat. Siapapun, jika kedapatan melakukan kedzoliman, maka dia akan mendapatkan hukuman sesuai aturan syariat. Hukum syariat tidak pernah tebang pilih dan pandang bulu dalam penerapannya. Semua sama dimata hukum sebagai warga negara.

Hubungan antar negarapun, syariat Islam mengaturnya dengan sangat elegan. Islam memandang jika hubungan luar negeri hanya akan dilakukan dengan negara kafir dzimni yaitu negara  yang melakukan hubungan baik dengan negara yang menerapkan syariat Islam kaffah. Hubungan luar negeri dengan negara kafir dzimni bisa berupa hubungan ekonomi dan perdagangan yang diatur dengan aturan syariat Islam. Bukan aturan kapitalis-sekuler ataupun sosialis-komunis.

Adapun negara kafir harbi yaitu negara yang berbuat dzolim yaitu negara yang tidak mau berhubungan baik dengan negara yang menerapkan syariat Islam kaffah. Maka hubungan dengan negara kafir harbi ini hanyalah perang, tersebab kedzoliman yang mereka lakukan secara fisik, yaitu menghalangi sampainya ilmu penerang jalan kehidupan kepada manusia dengan dzolim.

Alhasil, banyak konsekuensi hukum dari penyematan kata iman dan kafir ini. Karenanya, tidaklah patut manusia yang memiliki keterbatasan ilmu dan kemampuan, untuk menggugat kata kafir yang sudah Allah SWT tetapkan penyebutannya dalam AlQuran.

Terlepas dari cita rasa dan perasaan manusia. Sungguh penyematan kata kafir ini sebetulnya adalah untuk memacu manusia agar mampu menemukan jalan terang kehidupan. Agar manusia tidak terjebak dalam keyakinan yang abu-abu atau samar. Agar manusia berjiwa kesatria menerima setiap konsekuensi dari pilihan sebuah keimanan.

Maka Allah SWT, hendak mengajak manusia berfikir dan memikirkan tentang jalan mana yang akan mereka tempuh. Karena setiap jalan memiliki konsekuensi yang berbeda.

Sungguh, manusia yang hendak merubah sematan kata kafir bagi non muslim, adalah manusia -manusia yang hendak mencelakakan manusia yang lain, hendak menjerumuskan manusia yang lain kedalam perbuatan yang hina, dan menjebak manusia dalam pembuatan dosa.
Sungguh manusia yang hendak merubah sematan kata kafir yang telah Allah SWT sebutkan dan  jelaskan dalam AlQuran, sebetulnya tengah menyesatkan manusia dengan penyesatan yang nyata, tanpa mereka sadari.

Alih-alih dengan upaya merubah kata kafir, ingin agar ajaran Islam diterima oleh masyarakat non muslim dan dikompromikan dengan ajaran yang lain. Yang terjadi malah mereka yaitu orang-orang yang ingin merubah kata kafir, sebetulnya sedang menjatuhkan harga diri dan merendahkan martabat agamanya sendiri.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita dari perbuatan hina yaitu merubah ayat-ayat Al-Qur'an tanpa ilmu.
Juga mudah-mudahan Allah SWT, menjaga kita dari perbuatan hina, yaitu menjual ayat-ayat AlQuran dengan harga yang murah.
Apakah harga yang murah itu ?. Adalah dunia dan seisinya, bisa jadi harta, tahta atau wanita.[MO/sr]

Posting Komentar