Oleh: Al Azizy Revolusi

Mediaoposisi.com-Umat Islam mulai mundur ketika pada abad 18 dakwah internal mulai mengendor. Akibatnya pasokan sumber daya manusia berkualitas menyusut. Teknologi yang sebelumnya dikembangkan untuk menopang jihad terabaikan, sampai suatu saat tersalip kemajuan di Barat, “revolusi Industri”.  Pada saat itu, umat Islam tak serta merta kembali menggenggam erat ideologi Islam, namun justru mulai mengimitasi Barat, bahkan sampai sistem perundangannya.  Akibatnya malah makin buruk.

Pada Perang Dunia I, agen-agen Barat memancing agar Negara Khilafah – yang sudah sakit-sakitan itu – terlibat.  De facto mereka menghabisi Khilafah pada perang itu, dengan dikuasainya banyak wilayah Khilafah oleh Inggris dan Perancis.  Lalu untuk menghabisi sama sekali sistem Khilafah, mereka memanfaatkan Kemal Attaturk, yang bak pahlawan, memproklamirkan berdirinya Republik Turki, sebagai syarat ditariknya pasukan asing dari Turki.  Pada 3 Maret 1924, secara resmi Attaturk membubarkan Khilafah, seraya mengusir Khalifah terakhir, yaitu Abdul Madjid II.

Setelah Khilafah bubar, Barat makin leluasa menerapkan dan menyebarkan ideologi kapitalisme-sekulerismenya ke seluruh dunia, terlebih ke dunia Islam yang kaya sumber daya alam.  Kalaupun upaya ini kadang terkendala, itu hanyalah persaingan sesama mereka. Pertengahan abad-20, upaya itu dihambat Uni Soviet yang berusaha menyebarkan sosialisme-komunisme.  Namun di awal abad-21, Amerika Serikatlah yang memimpin dunia dengan kapitalisme-sekulerismenya.

Maka umat Islam kini semakin jauh dari misi yang dibebankan Allah kepada mereka, yaitu misi merahmati seluruh alam – seperti yang pernah berhasil dibuktikan Daulah Khilafah. Jangankan merahmati seluruh alam, melindungi mereka sendiri saja, seperti di Palestina, Bosnia, Cechnia, Kashmir, Xinjiang, Moro, Afghanistan, Iraq, juga Indonesia, mereka tidak mampu.

Ini karena misi tadi memang hanya bisa dilaksanakan dalam suatu barisan, suatu formasi ideologis. Tanpa formasi yang rapi, energi 1,5 Milyar umat Islam tidak akan fokus. Bukankah Amerika Serikat, Inggris, Perancis atau Uni Soviet, juga hanya mampu melaksanakan misi ideologis mereka dalam suatu formasi, struktur yang rapi, dengan negara sebagai panglimanya? 

Negara mereka peduli menjalankan pendidikan, mengembangkan teknologi, menerapkan ekonomi yang menjamin kemakmuran bangsanya, dan politik luar negeri yang melindungi kepentingannya di seluruh dunia. Mereka bahkan menempatkan misi-misi budayanya di seluruh dunia, juga misi-misi militer, termasuk kapal-kapal induk dan selam bertenaga nuklir, di seluruh samudra.

Suatu struktur hanya bisa ditandingi dengan struktur pula. Sejarah membuktikan bahwa adidaya Romawi dan Persiapun akhirnya tunduk oleh struktur bentukan Rasulullah. Sekalipun struktur tadi pada awalnya sangat kecil (hanya sebesar Madinah) dan juga secara ekonomi, teknologi maupun militer tak berarti. Namun mereka memiliki ideologi yang kuat dan orang-orang yang meyakini aqidah yang sangat kuat.

Oleh karena itu, tak bisa tidak, struktur seperti Daulah Khilafah itu dinantikan dunia ini kembali, untuk menandingi struktur zalim dari ideologi kapitalisme-sekulerisme.

Tentu saja Khilafah yang akan berdiri kembali ini bukan negara masa lalu atau negara utopia.  Dia adalah negara modern dalam teknologi dan manajemen yang mutakhir. Namun visi misinya adalah Qur’ani, dan seluruh perangkat hukumnya semata-mata digali dari Islam, bersumber Qur’an, Sunnah, Ijma’ Shahabat dan Qiyas, dengan olah ijtihad tanpa henti dari para mujtahid.

Mendirikan kembali Khilafah tentu tak semudah membalik tangan. Juga tak “semudah” kudeta militer yang penuh kekerasan (power of muscle), maupun menang pemilu dengan politik uang (power of money).

Kita harus memahami sejarah perjuangan Nabi dalam mentransformasi permikiran dan perasaan umat, sehingga mereka bersedia memperjuangkan penerapan Islam sekalipun menanggung penderitaan yang luar biasa. Inilah kepemimpinan pemikiran (power of mind), yang merupakan kunci dari kesuksesan para Anbiya’. Alvin Toffler menyebut power of mind adalah kekuatan atau kekuasaan dengan mutu yang paling tinggi.

Karenanya, semua gerakan dakwah, para ulama dan cendekiawan, juga tokoh-tokoh politik, sudah saatnya bersama-sama mengkaji dan menggali lebih dalam, bagaimana konsep dan sistem Khilafah itu.

Rasulullah dalam berbagai haditsnya mengabarkan akan kembalinya lagi Khilafah, setelah era kekuasaan-kekuasaan sekuler (Mulkan Jabariyyan), sebagaimana beliau telah meramalkan dibebaskannya Konstantinopel. Pertanyaannya adalah, sudahkah kita jadi bagian dari orang-orang terbaik yang berkontribusi pada proses ini?[MO/sr]

Posting Komentar