Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Pepatah Arab menyatakan, jika ingin terkenal kencingilah sumur zam zam. Di epos filosofi Jawa, ada istilah yang relevan, 'waton suloyo'. Mungkin, filsafat waton suloyo ini yang dijadikan modus oleh PSI untuk mengererek popularitas dan elektabilitas.

Meski partai bau kencur, PSI telah berani mengkritik secara terbuka partai lama yang sudah lebih dahulu eksis. PDIP, mendapat kritik keras PSI ihwal Perda syariah.

Beberapa waktu lalu, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melontarkan kritik tajam kepada partai-partai politik berlabel nasionalis namun mendukung Perda Syariah yang diskriminatif. PSI menyebut salah satu partai tersebut adalah PDIP.

Tentu saja, hal ini membuat partai pendukung Jokowi meradang, terutama PDIP. Manuver PSI ini, diyakini ingin mencuri konstituen nasionalis PDIP melalui isu Perda syariah.

PSI ingin menelanjangi PDIP yang tidak 'genue' mengusung visi nasionalis, karena masih meloloskan sejumlah Perda syariah. PDIP sendiri, menyebut telah menolak sejumlah Perda syariah namun akhirnya kalah jumlah dalam voting.

Tentu saja, yang ditarget adalah konstituen PDIP. PSI berharap, tindakan ambivalen PDIP yang dianggap 'mengkhianati cita nasionalisme' dengan meloloskan Perda syariah, memicu konsisten PDIP pindah preferensi politik dan bermigrasi dari PDIP menuju PSI.

Bagi partai pendatang baru seperti PSI, sulit untuk membuat ceruk pasar baru. Apalagi, pasar politik di negeri ini telah terbelah menjadi pasar berbasis suara Islam dan partai berbasis nasionalis sekuler.

PSI dengan membawa visi anti perda syariah, tentu tidak akan mungkin laku dibawa ke basis pemilih berlatar belakang Islam. Bagi basis pemilih Islam PSI mendapat serangan hebat dalam isu ini, sebagaimana mitranya PDIP yang juga mendapat pukulan telak sebagai partai yang anti syariah.

Pilihan yang paling rasional adalah PSI masuk ceruk pasar nasionalis sekuler yang merupakan ceruk pasar PDIP, Golkar, Hanura, Perindo dan Demokrat untuk mengambil sebagian suara yang masih tersedia dengan mengambangkannya. PSI tidak memiliki kemampuan membangun pasar suara, kecuali nimbrung melalui jalur distribusi suara partai nasionalis yang sudah tersedia.

Mengambil pangsa pasar Golkar, tentu terlalu sulit bagi PSI. Golkar dikenal sebagai partai tua dan berpengalaman, dan memiliki basis masa dan konstituen yang sulit ditembus. Disamping itu, ceruk suara yang dimilik Golkar tidak sebesar PDIP.

PSI menghantam PDIP jelas punya tujuan untuk merontokkan kepercayaan konstituen PDIP agar berpaling dari PDIP dan mencari partai alternatif yang menjiwai visi nasionalisme. Dalam konteks ini, PSI melakukan dua aktivitas sekaligus.

Pertama, menyerang kemunafikan ideologi yang diemban PDIP sehinga konstituen PDIP berpaling. Kedua, mengunggah keyakinan atas konsepsi ide PSI yang dikesankan lebih genue dan kongkrit mengusung ide nasionalisme.

Sampai tulisan ini diterbitkan, saya belum melihat PDIP membuat kounter sepadan untuk menghadapi manuver politik PSI. Jika dibiarkan, ceruk pasar PDIP -khususnya dari kalangan milenia- tak menutup kemungkinan hijrah menuju PSI.

Dalam konteks itulah, pencapresan Jokowi yang diusung PDIP terancam. Jokowi, tidak melihat partai pengusungnya bersinergi untuk fokus memenangkan Jokowi dalam Gawe Pilpres. Partai koalisi justru sibuk bermanuver untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

PSI tentu lebih berkepentingan pada ikhtiar meloloskan partainya ke Senayan, ketimbang fokus menjajakan capres Jokowi. PDIP, terpecah konsentrasi karena harus menghadapi dua lawan sekaligus.

Pertama, lawan eksternal dari kubu BPN yang terus menjepit posisi Jokowi. Juga serangan eksternal yang tidak mewakili partai tapi ijma' untuk segera mengakhiri kekuasaan Jokowi.

Kedua, lawan internal PDIP khususnya kelak jika kekuasaan dimenangkan akan ada pertarungan serius untuk membagi kue kekuasaan. Golkar adalah ancaman nyata dalam hal bagi konsesi kuasa. Sedangkan PSI, ancaman nyata, duri dalam daging yang bisa merebut suara konstituen PDIP dan bermigrasi ke PSI. []

Posting Komentar