Dwi Surya Ningsi Rais
(Anggota FLP Ranting UIN Alauddin Makassar)

Mediaoposisi.com-Saat ini kita sedang berada di era politik (demokrasi) yang akan diadakan pada tanggal 17 April 2019 mendatang. Dalam rangka pemungutan suara dari rakyat Indonesia, yang merupakan hal wajib bagi negara.

Pada bulan Januari kedua pasangan calon (paslon) presiden Republik Indonesia telah melaksanakan penyampaian visi dan misi masing-masing. Visi-Misi dari paslon memiliki pandangan sendiri dan tujuan yang sama dengan jalan yang berbeda. Dengan visi-misi tersebut, kedua paslon akan memperebutkan hati rakyat Indonesia begitulah yang terjadi. Bagaimana pun caranya.

Faktanya, rentetatan sejarah telah menunjukkan bahwa sebahagian janji-janji (visi-misi) yang dipaparkan saat kampanye oleh pasangan calon (paslon) kerap kali diingkari. Janji yang terucap hanya sebatas janji belaka dan minus aplikasi. Maka dapat dikatakan ‘kemunafikan’ telah merasuk dalam jiwa politisi.

Pesta demokrasi akan bergemuruh di lidah-lidah manusia, seluruh penjuru Indonesia. Dari sudut-sudut desa hingga kota-kota besar. Salah satu sponsornya yaitu, ‘media’ ia telah mengukir bait demi bait janji-janji paslon. Manakah yang betul-betul bekerja untuk rakyat dan mana yang betul-betul bekerja untuk hawa nafsunya atau menampakkan kemunafikan?

Munafik/Nifaq
Nifaq atau sifat munafik telah dituliskan oleh Firman Hidayat dalam artikelnya (Muslim.or.id) bahwa munafik adalah salah satu penyakit berbahaya.  Adapun menurut Ibnu Katsir, nifaq adalah menampakkan kebaikan dan menyembuyikan keburukan.

Menurut ‘Aid Abdullah al-Qarni dalam salah satu kitabnya, Al-Qur’an menyebut sejumlah perilaku orang munafik.

Diantaranya: dusta, khianat ingkar janji, riya (doyan pencitraan), mencela orang-orang taat dan shalih, memperolok-olok al- Qur’an, as-Sunnah dan Rasulullah saw, bersumpah palsu, tidak peduli terhadap nasib kaum Muslim, suka menyebarkan kabar bohong (hoax), mencaci maki kehormatan orang shalih, membuat kerusakan di muka bumi dengan dalih mengadakan perbaikan.

Tidak ada kesesuaian antara lahiriah dan batiniyah, menyuruh kemungkaran dan mencegah kemakrufan, sombong dalam berbicara, menantang Allah swt. dengan terus berbuat dosa, dan lain-lain (Itinya semua hal yang buruk-buruk).

Jika kita berbicara dalam ruang lingkup sekarang. Faktanya, banyak politisi dengan dalih ingin memperbaiki, malah semakin menyengsarakan rakyat. Dusta, sudah tidak asing lagi dalam dunia politik, pencitraan apalagi.

Awalnya manis tapi ujung-ujungnya pahit. Seperti maraknya korupsi saat ini, bahkan sudah berapa tahun lamanya korupsi tidak pernah tuntas-tuntas. Setiap tahun ada saja pihak atau oknum-oknum yang terlibat dalam meraup uang rakyat.

Mengapa demikian? Menurut hasil riset LPEM UI, seorang calon DPR rata-rata harus mengeluarkan dana minimal sebesar Rp 1,8 miliar untuk melakukan kampanye agar dapat menduduki kursi legislatif.

Oleh karena itu ketika telah terpilih menjadi penguasa mereka akan berusaha mengembalikan modal mereka sebelumnya dengan menyeludupkan uang rakyat. Uang dari mana, kalau bukan dari uang korupsi?

Begitu miris bukan? berapa banyak pejabat-pejabat di seluruh penjuru negeri rela melakukan perbuatan tidak beretika. Ternyata korupsi bukan hanya terjadi di kota-kota besar. Namun, di daerah pedesaan pun tidak lepas dari yang namanya korupsi.

Menurut hasil pemantauan Indonesia Corruption Watch (ICW) terhadap korupsi yang terjadi di tigkat desa menunjukkan bahwa jumlahnya selalu melonjak lebih dari dua kali lipat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2015, kasus korupsi berjumlah 17 kasus dan meningkat menjadi 41 kasus pada tahun 2016.

Dan tahun 2017 melonjak kembali menjadi 96 kasus. Total kasus dari tahun 2015-2017 mencapai 154 kasus. Apakah negara mengalami kerugian? Tentu saja mengalami kerugian, mengambil uang rakyat Rp. 1.000 saja sudah korup namanya.

Manager Riset Transparency International Indonesia Wawan Sujatmiko mengatakan skor IPK (Indeks Persepsi Korupsi) naik satu poin. “Skor IPK Indonesia tahun 2018 adalah 38, setelah 2016, 2017 Skor IPK 37,” Kata Wawan Suyatmiko dalam keterangan tertulisnya (9/1/2019) Pesta Nifaq, ternyata sudah menggerogoti negara Indonesia,  kejadian ini bukanlah hal yang sepele.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena saat ini, sebagian besar mereka menjadikan sekularisme bersemayam dalam jiwanya. Yaitu memisahkan agama dalam kehidupan, yang dapat mengakibatkan kerusakan bukan hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada seluruh mahluk yang ada di muka bumi.

Solusi yang terbaik adalah membumikan kehidupan dengan syariah Islam. Karena hanya dengan syariah itulah yang dapat memakmurkan dan memberikan keadilan bagi seluruh alam semesta. Aturan manusia berasal dari akal, namun akal memiliki katerbatasan.

Lain halnya dengan aturan Allah yang maha sempurna karena Dia-lah yang menciptakan mahluk yang ada di muka bumi ini. Dengan  segenap aturan yang memuliakan, sehingga meminalisir terjadinya kata dusta, pencitraan, korupsi, apalagi menebar nifaq dan lain sebagainya….

Posting Komentar