Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-  Demokrasi adalah sistem rusak yang membawa kerusakan pada kehidupan umat manusia. Korupsi tumbuh subur dan pejabat menjadi penjahat. Krisis moral dan perilaku menyimpang terjadi dimana-mana. Kriminalitas menghiasi kolom berita di sosial media hampir setiap hari.

Sungguh, demokrasi telah merusak sendi-sendi bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pemimpin berbuat dzalim pada rakyatnya. Hoax dan ujaran kebencian tersebar dimana-mana. Saling menghujat dan mengancam itu biasa. Hukum tak bisa tegak pada semua orang secara adil.

Hidup dalam sistem demokrasi seperti hidup dalam sistem jahiliyah. Orang yang sadar dan mampu berfikir cerdas dan cemerlang pasti akan muak dengan sistem demokrasi dan menginginkan perubahan. Mereka ingin diatur dengan sistem Islam, solusi terbaik untuk semua masalah kehidupan. Kesadaran atas rusaknya demokrasi adalah awal kebangkitan umat yang sangat ditakuti oleh para penjaga demokrasi, kaum imperalisme barat dan antek-anteknya.

Para penjaga demokrasi ketakutan saat umat mulai menyadari fakta rusaknya demokrasi. Mereka
menyebarkan tuduhan dan fitnah pada rakyat yang menginginkan dan memperjuangkan sistem Islam. Mulai dari tuduhan makar, radikal bahkan teroris ditujukan pada rakyat yang tidak menginginkan demokrasi dan ingin diatur dengan sistem Islam.

Perubahan yang konstitusional bukan makar. Jika kesadaran rakyat meningkat dan menguat menginginkan perubahan sistem, apa salahnya? Katanya negeri ini milik rakyat, lalu apa salahnya jika rakyat ingin diatur dengan sistem Islam. Perubahan konstitusional bukanlah makar.

Bagaimana bisa rakyat kecil tanpa senjata dituduh makar. Jika setiap pemikiran yang tidak sejalan dengan demokrasi dianggap makar dan radikal, tidak akan ada perubahan padahal itu diperlukan untuk kebaikan. Rakyat menginginkan perubahan tanpa kekerasan. Pemimpin harusnya peka, merespon dan mempertimbangkannya bukan malah memusuhinya.

Kesadaran dan bangkitnya umat ini yang ditakutkan rezime, penguasa boneka kaum imperialis barat. Umat jengah dan muak dengan demokrasi. Perlahan tapi pasti umat tidak hanya meninggalkan rezim yang terbukti dzalim, otoriter dan anti Islam tetapi umat juga akan meninggalkan demokrasi yang terbukti telah membentuk manusia munafik dan serakah serta kering akan nilai agama saat menjalankan kehidupan. Umat secara fitroh akan menginginkan kembali untuk diatur dengan Islam.

Jika rakyat sudah muak dengan sistem demokrasi yang menipu, apa salah menginginkan sistem
Islam yang akan membawa pada perubahan yang lebih baik untuk semua orang. Kesadaran
rakyat inilah yang ditakuti para penjaga demokrasi.

Mereka yang menginginkan perubahan yang lebih baik dituduh makar, radikal dan anti kemapanan bahkan tuduhan keji terorisme. Sungguh tuduhan keji yang tidak berdasar. Sering penguasa dengan kroninya, pemimpin boneka imperialis barat yang tidak ingin perubahan melakukan tindakan kekerasan dan menyebar fitnah keji tanpa bukti. Mereka berasumsi bahwa siapa saja yang menginginkan perubahan dianggap sebagai ancaman.

Merekalah yang anti perubahan yang tidak ingin kemampanan milik semua orang. Mereka tidak
ingin rasa aman dan kesejahteraan dirasakan seluruh rakyat. Mereka juga tidak mau keadilan hukum untuk semua orang, tidak pandang bulu.

Mereka yang anti perubahan merasa nyaman dengan kemapanamnya tapi tidak perduli dengan yang lain. Mereka tidak ingin hukum berlaku untuk semua orang karena mereka hanya ingin hukum berpihak padanya saja.

Tidak perduli yang lain didzalimi dan diperlakukan tidak adil. Mereka juga tidak ingin melihat semua orang sejahtera dan merasa aman. Sehingga kesadaran dan kebangkitan umat membuat mereka
ketakutkan kehilangan jabatan dan kemapanan hasil dari menipu dan makan uang rakyat. [MO/ra]

Posting Komentar