Oleh: Kamila Amiluddin 
(Member Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com-Alangkah lucunya negeri ini..kalimat yang pantas untuk disematkan pada suatu negeri yang tidak pernah memikirkan nasib rakyatnya dan lebih mementingkan sesuatu yang jauh dari sebuah kepentingan. Berkali-kali rezim ini mampu memperlihatkan ketidakberdayaannya dalam mengurus dan mensejahterahkan rakyatnya.

Faktanya ini adalah kesekian kalinya pemerintah bersikap tidak adil terhadap suatu masalah, melalui BPBD atas musibah banjir bandang  yang terjadi di Papua tepatnya Sentani beberapa waktu lalu pemerintah hanya memberikan dana 1 M.

Sementara untuk acara apel kebangsaan pemerintah menghabiskan dana sekitar 18 M. “Nalar publik terceradai” ujar Natalius Pigai menegaskan.

Bukan hanya soal dana yang saat ini membuat masyarakat cukup heran dengan keadaan negeri ini. Tahun 2018 lalu pemerintah pun rela menggelontorkan dana yang tidak mai-main yakni Rp 855, 5 miiliar hanya untuk menjadi tuan rumah dalam acara IMF-World Bank Aannual Meeting di Bali. “#rezim sontoloyo,” cuitan akun dari Fadli Zon.

Benar-benar penguasa tidak berpihak pada negeri sendiri, yang seharusnya nominal yang cukup besar lebih dibutuhkan bagi mereka yang mengalami musibah tersebut.

Mengapa? Sebab musibah ini tentu saja membuat mereka sangat-sangat terpukul. Kehilangan tidak hanya harta benda, rumah beserta isinya bahkan keluarga. Puluhan nyawa terbawa oleh arus banjir dan para korban yang selamat pasti masih menyimpan trauma.

Apakah itu tidak cukup untuk menggerakkan rasa empati yang lebih kepada penduduk di negeri sendiri? Menggelontorkan dana yang besar hanya untuk acara apel kebangsaan pun yang hadir hanya sedikit apakah tidak berlebihan? Sesuatu yang sangat mubadzir disaat yang lain terkena musibah.
Berdasarkan Firman Allah dalam Qur’an suarh Al Isra’ ayat 26-27
           
26. dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
           
27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Telah Allah jelaskan dari kata mubadzir yang artinya pemborosan atau sesuatu yang berlebihan merupakan bagian dari prilaku setan. Kita berharap seorang penguasa kita bukanlah seorang yang seperti itu akan tetapi sudah terlalu banyak bukti yang menyatakan rezim tidak pernah memberikan sikap yang adil kepada rakyat.

Hilangnya nilai kemanusiaan untuk menyelamatkan rakyat yang terkena bencana, memprioritaskan penghamburan uang yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan rakyat.

Pemerintah dalam pandangan islam merupakan pihak yang wajib mengatur dan mengalokasikan dana yang didapatkan dari sumber daya alam dan pajak pada negaranya.

Contohnya pada masa kepemimpinan Umar Bin Khattab, dalam bidang sosial Umar membangun departemen jaminan sosial. Departemen ini berfungsi untuk mendistribusikan dana bantuan negara kepada seluruh fakir miskin dan orang-orang yang menderita pada saat itu.

Jika kita masih ingin berkutat pada sistem yang diterapkan negara saat ini yakni sekuler dan kapitalis maka rakyatnya akan terus disengsarakan hingga terbunuh secara perlahan, namun ketika syariat Islam yamg digunakan akan kita temukan penyelesaian secara tuntas.[MO/ad]

Posting Komentar