Oleh : Triana Nur Fausi 
(Founder Komunitas Penulis Muslimah Peduli Umat Kota Malang)

Mediaoposisi.com- di Indonesia tinggal menghitung dengan hitungan bulan saja, tepatnya kurang lebih tinggal 1 bulan. Masa-masa kampanye semakin digencarkan oleh masing-masing calon. Sejumlah masyarakat menyebut pemilihan ini dengan "pesta" demokrasi. 

Pembicaraan yang berkembang di masyarakat juga semakin memanas terkait pesta demokrasi ini. Pembicaraan tersebut tak lepas dari isu-isu yang berkembang selama persiapan "pesta" tersebut, misalnya partai mana yang akan dipilih, politisi mana yang tergolong licik dan yang mana yang dirasa bisa mensejahterakan rakyat.

Walaupun setiap individu boleh berbeda dalam pandangan partai mana yang dianggap bisa mengemban amanah, namun pembicaraan tersebut kian hari kian menggeliat. Baik pembicaraan di dunia nyata maupun di dunia maya.

Terkait dengan pemilu, semua pasangan punya strategi masing-masing agar bisa meraih kemenangan untuk berkuasa di periode 2019-2024.

Semua cara dilakukan agar suara umat didapatkan. Mulai dari pencitraan diri, menggandeng Ulama, blusukan ke berbagai tempat, membagikan sejumlah uang/barang ke rakyat, menebar janji disana-sini, hingga menebar berita yang tidak sesuai fakta.

 Inilah praktik politik di negeri ini yang merupakan buah dari penerapan sistem demokrasi. Segala cara bisa ditempuh untuk meraih kekuasaan. Hal tersebut sangat wajar terjadi dalam sistem demokrasi karena sistem ini memberikan ruang kebebasan bagi individu.

Sehingga tidak heran jika para politisi atau parpol bebas menyusun strategi agar bisa berkuasa termasuk menyampaikan berita yang tidak sesuai dengan realita, seperti apa yang disampaikan capres petahana.

Cara-cara apapun akan dilakukan demi meraih simpati rakyat dan terperolehnya jabatan sebagai pemimpin. Alhasil menemukan pemimpin sejati dalam sistem demokrasi ibarat suatu mimpi, karena mereka hanya mengandalkan pencitraan dan popularitas belaka.

 Berbicara mengenai kepemimpinan sejati maka alangkah baiknya kita sebagai seorang muslim mengembalikannya kepada Islam. Pada dasarnya kepemimpinan dalam Islam adalah sebuah amanah untuk menerapkan syariat Islam secara total. Rasulullah Saw bersabda:

"Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah suatu amanah, dan di hari kiamat akan mengakibatkan kerugian dan penyesalan kecuali mereka yang mengambilnya dengan cara yang baik serta dapat memenuhi kewajibannya sebagai pemimpin dengan baik" (HR Muslim).

Amanah kepemimpinan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Begitu beratnya tanggungjawab pemimpin, sampai-sampai Khalifah Umar Bin Khaththab pernah berkata :

"Seandainya seekor keledai terperosok di kota Baghdad niscaya Umar akan diminta pertanggungjawabannya (oleh Allah), seraya ditanya: Mengapa tidak meratakan jalan untuknya?"

Terkait amanah tersebut maka harus diserahkan kepada ahlinya, atau kepada orang-orang yang layak untuk diangkat sebagai pemimpin. Kepemimpinan bukanlah barang dagangan yang dapat diperjualbelikan atau sesuatu yang bisa dicitrakan.

Karena itu pada prosesnya, seorang calon pemimpin tidak dibeli oleh mereka yang menghendakinya, ataupun membeli dukungan dengan mengharap kemenangan. Rasulullah SAW bersabda:

"Tunggu saat kehancurannya, apabila amanat itu disia-siakan. Para sahabat serentak bertanya, 'Ya Rasulullah apa yang dimaksud menyia-nyiakan amanah itu?' Nabi Saw bersabda: Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah tanggal kehancurannya." (HR Bukhari).

Karena Islam memandang kepemimpinan adalah sebuah amanah maka sistem Islam mencetak para pemimpin yang jujur dalam mengurusi urusan rakyat berdasarkan Syariah Islam dan tidak gila akan kekuasaan.

Begitu pula karena amanah tersebut perlu dipertanggungjawabkan dihadapan Allah Swt maka sejumlah praktik manufer untuk meraih kekuasaanpun sangat minim terjadi bagi orang yang paham Islam. Penguasa yang memahami tanggung jawab amanah kepemimpinan tentu akan berhati-hati dalam perbuatan, kebijakan dan ucapannya.

Dia tidak akan berdusta untuk menarik simpati rakyat karena dia paham bahwa kelak akan dipertanggung jawabkan di akhirat. Bahkan karena saking besarnya pertanggung jawaban amanah tersebut, maka tidak heran jika Kholifah Umar Bin Khattab dan Kholifah Umar Bin Abdul Aziz malah menangis ketika mendapatkan jabatan tersebut.

Begitu Pula Ali bin Abi Tholib awalnya juga menolak ketika diminta untuk menjadi kholifah, tapi karena permintaan umat pada waktu itu maka Ali pun bersedia di baiat.

Itulah makna kepemimpinan dalam Islam, sehingga orang Islam yang paham hal tersebut  tidak menyia-nyiakan amamah kepemimpinan.  Untuk itu Islam menetapkan 7 syarat menjadi seorang pemimpin, dan syarat tersebut adalah Islam, laki-laki, baligh, merdeka, adil, mampu, berakal.

 Sesungguhnya pemimpin sejati hanya ada dalam sistem Islam yang dibangun diatas asas aqidah Islam dan menjadikan halal haram sebagai standart perbuatan. Islam memandang politik (as-siyasah) adalah kepengurusan urusan ummat dengan syari'at Islam, baik dalam dan luar negeri. Sehingga fokus pembahasannya adalah bagaimana mengurusi rakyat dengan baik sesuai syari'at.

Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang menerapkan Syariah untuk mengatur segala aspek kehidupan berdasarkan hukum buatan Allah semata. Dengan demikian pemimpin yang akan dihasilkan adalah pemimpin yang takut pada Tuhannya sehingga benar-benar berjuang untuk kemaslahatan rakyat,  bukan demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.

 Untuk itu marilah kita bersama-sama di tahun politik ini menyatukan langkah untuk memahamkan masyarakat terkait pemimpin sejati sesuai Al-Quran dan As-Sunah yang akan menerapkan Syariah Islam secara kaffah sehingga rahmatan lil alamiin bisa terwujud.

Posting Komentar