Oleh : Ummu Aqeela

Mediaoposisi.com-Sebagai sarana hiburan, film juga merupakan sebuah media yang dapat membawa pesan moral untuk kalangan masyarakat luas. Untuk dapat tepat sasaran, sebuah film memang harus mempunyai konten yang sangat kuat dan bermakna agar dapat tersampaikan ke masyarakat apa maksud cerita didalamnya. Di Indonesia sendiri begitu banyak genre film yang tersebar, mulai dari film anak-anak, remaja,bahkan film berbau hororpun sering bertengger di bioskop-bioskop Indonesia.

Namun dengan begitu banyaknya tontonan itu hanya sedikit sekali yang dapat dijadikan tuntunan yang baik di masyarakat. Sebagian besar film hanya menggambarkan kehidupan yang bebas, menekankan di adegan syahwat ataupun berbagai mistik yang mendorong orang untuk berbuat syirik. Seperti genre film remaja yang baru-baru ini menjadi perbincangan masyarakat luas di dunia online maupun offline, yaitu 'Dilan 1991.

Film yang berjudul Dilan tersebut sudah kedua kalinya bertengger di bioskop Indonesia, yang pertama 'Dilan 1990 dan yang kedua yang saat ini menjadi perbincangan adalah'Dilan 1991. Film yang kedua ini tidak semulus debut pertamanya, baru sehari tayang secara serentak di bioskop tanah air, film ini mendapat penolakan di Makasar, Sulawesi Selatan.

Sejumlah mahasiswa menggelar unjuk rasa, dalam aksi tersebut yang dilakukan didepan Bioskop Mal Panakkukang, mereka menilai begitu banyak adegan di film 'Dilan 1991 yang dianggap dapat memicu para remaja untuk melakukan tindakan amoral dan asusila didunia pendidikan, sehingga ini menjadi perhatian dari banyak pihak.(Kumparan 02/03/2019)


Memang film adalah sarana paling kuat untuk mempengaruhi perilaku banyak masyarakat. Ketika sebuah tontonan itu menyajikan hal yang baik tentu akan berimbas baik, begitupun sebaliknya jika sebuah tontonan menyajikan keburukan berdampak buruklah buat sekitarnya.

Jika kita telisik banyak sekali adegan film remaja yang menampilkan begitu bebasnya mereka berperilaku, dari cara berpakaian, cara interaksi dengan lawan jenis, bahkan cara menghormati orang yang lebih tuapun dibuat demikian rupa seolah-olah adab-adab agama sudah tidak berlaku lagi.

Karena itulah didunia nyata sekarang banyak sekali perilaku masyarakat yang terinspirasi dari tontonan yang disajikan, saat ini begitu banyak wanita remaja yang berpakaian kurang sopan, bahkan dari sisi tingkah lakupun sudah membuat miris. Berani dengan orang tua, berani dengan para gurunya bahkan melakukan pergaulan bebas dengan lawan jenis dimuka umum secara terang-terangan sudah dianggap hal yang lumrah dan biasa.


Apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi?

Mendarah dagingnya pemahaman sekulerisme dan liberalisme di masyarakatlah penyebab semua ini bisa terjadi. Secara tidak sadar sudah sekian lama pamahaman ini digulirkan ke masyarakat, yaitu sebuah pemahaman yang menjauhkan kita dari syari'at agama Islam dengan menjunjung tinggi nilai kebebasan yang didasarkan Hak Asasi Manusia.

Dan saat ini menjadi kebebasan yang kebablasan, kebebasan yang dapat mendatangkan adzab dari Allah. Seharusnya ini menjadi bahan renungan kembali untuk semuanya, dan kembali ke awal untuk berpikir tentang hakikat dan tujuan kita ada didunia. Bukankah Allah menciptakan untuk beribadah dan tunduk hanya kepada-Nya? Mengumpulkan banyak bekal pahala untuk meraih ridho-Nya sebagai bekal kembali ke hadirat-Nya kelak.


Mulai berbenah dari sekarang, bekerjasama semua pihak mulai dari orang tua, masyarakat, bahkan pemerintah, untuk kembali ke satu-satu-Nya syari'at yang bisa menyelamatkan kita semua yaitu Syari'at Islam. Karena hanya Islam yang memuliakan manusia, bukan hanya untuk kehidupan didunia namun hingga kelak di kehidupan akhirat. Islam mengatur begitu detail mulai dari kita bangun tidur sampai kita tidur kembali.

Posting Komentar