Oleh: Nana Munandiroh

Mediaoposisi.com-Darah muslim tertunpah lagi. Kali ini di kawasan Christchurch New Zealand (SelansiaBaru), sekitar 50 orang muslim yang sedang bersiap ibadah sholat jumat menjadi korban penembakan brutal oleh seorang teroris kristen Brenton Tarant. Ia berencana membunuhi kaum muslim dan berniat untuk menciptakan ketakutan pada kaum muslimin dunia dengan menyiarkan aksi terornya secara live streaming lewat media sosial.

Aksi penembakan ini memang menumbuhkan banyak kecaman di berbagai dunia. Bahkan banyak sekali dari mereka yang kemudian belajar Islam.

Para pelakunyapun sudah dibekuk aparat. Namun, yang menjadi persoalan, mengapa dengan mudah darah kaum muslin di berbagai belahan dunia, termasuk di negeri-negeri muslim demikian mudah untuk ditumpahkan? Di Suriah, Irak, Rohingya, Kashmir, India dan Uighur nyawa kaum muslim begitu mudah dicabut tanpa ada pembelaan sama sekali.

Ketika darah kaum muslim tertumpah, seolah-olah itu adalah kesalahan kaum muslimin sendiri. Lihatlah pernyataan Senator Australia Fraser Anning menyalahkan imigran muslim atas teror di New Zealand. Dalam Twitter ia berkomentar “Penyebab pertumpahan darah sesungguhnya di jalanan Selandia Baru hari ini adalah program imigrasi yang memungkinkan kaum muslim fanatik untuk bermigrasi ke Selandia Baru”.

Demikianlah barat yang menjunjung tinggi ide hak asasi manusia akan menyikapi persoalan di dunia ini dengan standar ganda. Ketika korban adalah non muslim dan pelakunya muslim, barat akan berbondong-bondong menyatakan adanya pelanggaran HAM, walaupun kejadiannya di picu oleh sikap mereka sendiri.

Seperti kejadian beberapa waktu lalu, ketika kantor Majalah Charli Hebdo di Paris, Prancis diserang karena telah menerbitkan kartun penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Mereka serentak menyatakan ada pelanggaran HAM.

Kini, ketika umat Islam menjadi korban kebrutalan oleh teroris kristen, mereka diam. Bahkan cenderung menyalahkan umat Islam padahal tidak ada kesalahan sedikitpun yang mereka perbuat.
Sampai hari ini, nyawa umat Islam terus terancam. Kasus di New Zealand bukanlah kasus yang pertama, sentimen terhadap Islam masih berlanjut.

Di negara-negara barat Islamophobia tumbuh subur yang mengakibatkan adanya teror terhadap uamat Islam.

Di negeri-negeri muslim, pembantaian terhadap umat masih berlanjut di Palestina, Irak, Uighur, Rohingya dan Kashmir. Aksi brutal tersebut terus berlanjut, karena tidak ada pelindung umat Islam, pelindung yang mampu menghancurkan dan membungkam musuh-musuh Islam.

Islam adalah agama satu-satunya yang memberi penghargaan terhadap nyawa manusia. Allah swt. Menegaskan dalam firman-Nya, “Siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia”(TQS Al-Maidah :32).

Demikian berharganya nyawa seorang manusia, maka sejak Rasulullah saw selaku imam umat Islam di Madinah, telah melindungi setiap tetes darah kaum muslim. Demikian pula Khulafaur Rasyidin dan para khalifah setelah mereka, mereka melindungi umat dari setiap ancaman dan gangguan. Dengan begitu umat dapat hidup tenang dimanapun mereka berada.

Umat Islam saat ini, jelas membutuhkan seorang pemimpin yang mampu melindungi mereka. Sebagaimana Khalifah Mu’tashim Billah yang melindungi kehormatan seorang wanita dengan mengerahkan pasukannya, sehingga membuat musuh gentar. Bukan hanya pemimpin yang mengecam tindakan brutal tapi bermesraan dengan musuh-musuh Islam.

Jelaslah umat Islam saat ini membutuhkan khilafah yang dipimpin seorang imam/kholifah, yang akan menjadi perisai yang melindungi umat Islam. Khilafahlah yang akan menghukum siapa saja yang berani menganiaya umat Islam.

Posting Komentar