Oleh: Dian Puspita Sari
(Founder Komunitas Remaja Shalihah) 

Mediaoposisi.com-Gegap gempita dan huru-hara menyambut peringatan haul ke-14 sang Guru tercinta KH. Abdul Ghani atau lebih dikenal dengan Abah Guru Sekumpul tengah berlangsung di kota Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Euporia agenda tahunan ini selalu disambut antusias oleh masyarakat sekitar, bahkan masyarakat luar.

Di tengah hiruk pikuk persiapan haul sang Guru, nampaknya banyak yang melupakan atau mungkin belum menyadari ada satu momentum lagi yang juga telah genap kematiannya di bulan ini.

Momentum paling menyakitkan yang dialami oleh kaum muslimin, yang bisa jadi itu termasuk dalam salah satu hal yang pernah disampaikan oleh sang Guru ketika beliau masih hidup.

03 Maret 2019. Genap sudah 95 tahun paska keruntuhan Khilafah Islamiyah. Hal ini diibaratkan seperti kematian sang ‘Ibunda’ yang menjadi pelindung kaum muslimin di seluruh dunia. Dari semenjak itulah, penderitaan dan kerusakan akidah serta moral umat Islam bermula.

Baca juga Di Balik Runtuhnya Khilafah 1924

Ironisnya, saat ini kaum muslimin bersuka-cita, bahkan para penguasanya saling berjabat tangan secara sukarela dengan pembunuh sang ‘Ibunda’ tersebut.

Bagaimana tidak? Belum lama ini dan masih segar diingatan dunia bagaimana tragisnya nasib muslim Uighur yang dizhalimi di Cina. Tapi apa yang dilakukan oleh para penguasa kaum muslimin? Jangankan mengecam aksi itu, yang terjadi malah sebaliknya.

Para pemimpin Muslim sejauh ini tidak membahas krisis Uighur dengan Cina. Sebab, negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir menjadi mitra dagang penting dengan mereka.

Putra Mahkota Arab Saudi misalnya, malah mendukung pembangunan konsentrasi untuk Muslim Uighur. Dia mengatakan bahwa tindakan Cina itu dapat dibenarkan.

“Cina memiliki hak untuk melakukan pekerjaan anti-terorisme dan ekstremisme untuk keamanan nasionalnya,” pungkas Putra Mahkota, yang telah berada di Cina menandatangani banyak kesepakatan dagang pada Jumat (22/02/2019).

Lebih jauh lagi, bahasa Cina pun akan dimasukkan dalam kurikulum pada semua tingkat pendidikan di Arab Saudi. “Rencana ini bertujuan untuk memperkuat persahabatan dan kerja sama antara Kerajaan Arab Saudi dan pemerintah Cina dan untuk memperdalam kemitraan strategis di semua tingkatan,” demikian menurut laporan Badan Pers Saudi (SPA). (kiblat.net)

Tidak hanya penguasa Arab Saudi, Presiden Turki yang pernah menuduh Cina melakukan genosida, tetapi sejak itu menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi yang lebih dekat dengan Beijing.

Demi mempertahankan kekuasaanya, rezim Assad di Suriah juga telah membunuh rakyatnya sendiri lebih dari 500 ribu orang. Lebih kejam lagi, mereka membiarkan negara-negara imperialis dengan leluasa melakukan pembunuhan massal terhadap rakyatnya sendiri.

Demikian seperti yang dilakukan penguasa Pakistan dan Afghanistan. Mereka membiarkan pesawat-pesawat tanpa awak Amerika membantai rakyatnya sendiri. Di Irak, penguasa boneka Amerika menjadi alat politik untuk memecah-belah Irak, dan membiarkan konflik horisontal yang menimbulkan banyak korban.

Lalu bagaimana dengan Palestina? Kendati keputusan Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel beberapa waktu silam sempat menuai aksi protes dimana-mana, tetapi tetap saja para zionis itu tidak bergeming.

Padahal sejatinya, hakikat dari masalah Palestina adalah perampasan tanah kaum Muslim yang didalangi oleh Barat dengan tujuan untuk membentuk negara yang memusuhi kaum Muslim di jantung wilayah kaum Muslim sendiri.

Dari sini maka terlihatlah, kemana penguasa Muslim selama ini memihak. Hal ini semakin meyakinkan kita pula bahwa umat Islam memang butuh khilafah. Sebab, hanya khilafah yang akan menjaga darah dan kehormatan umat Islam di hadapan musuh. Bukan sistem selainnya yang telah terbukti kebobrokannya.

 Nasionalisme dan kepentingan nasional telah membutakan mata hati para pemimpin Muslim untuk menolong saudara seakidah. Serta malah tunduk di hadapan negara yang menumpahkan darah saudaranya.

Ada baiknya bila saat ini kita mengambil teladan dari Sultan Abdul Hamid II yang didatangi oleh bapak Zionis di masa-masa sekaratnya negara Khilafah pada saat itu untuk membeli tanah Palestina dan kemudian ditolak mentah-mentah. Walau diiming-imingi harga yang sangat tinggi, Beliau dengan tegas mengatakan:

"Saya tidak akan pernah menjual tanah ini berapapun harganya. Palestina bukan milik saya tapi milik ummat Islam yang mereka telah menyiraminya dengan darah dan jiwa mereka.

Namun jika suatu saat negara Khilafah tiada, maka Yahudi bisa memilikinya tanpa perlu membayar harganya. Namun selama Khilafah Islam masih ada, mati-matian akan kami pertahankan tanah ini".

SubhanAllah. Benarlah perkataan Sultan saat itu hingga Khilafah Islam dibubarkan di tahun 1924, itulah awal duka rakyat Palestina. Juga duka dan kemerosotan umat Islam di dunia. Ketiadaan sang ‘Ibunda’, yakni Khilafah Islamiyah telah membawa penderitaan bagi seluruh anak kaum muslimin.

Sejak itu umat Islam tidak lagi memiliki Khilafah yang menerapkan seluruh syariah Islam, mempersatukan dan melindungi umat Islam. Umat Islam terpecah dalam negara-negara kecil yang dibelenggu oleh ikatan nasionalisme sempit yang melemahkan mereka.

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian pada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian”. (QS al-Anfâl [8]: 24)

Oleh sebab itu, kaum muslimin harus menyadari urgensi kesatuan dan persatuan yang harus diwujudkan dalam institusi Khilafah Islamiyah. Institusi yang akan menjaga kehormatan dan kemuliaan kaum muslimin dan Islam. Bersatulah wahai kaum Muslim dan penuhilah seruan Allah.[MO/ad]

Posting Komentar