Oleh : Vega Rahmatika Fahra 
(Aktivis Dakwah Kampus)

Mediaoposisi.com-Jumat, 15 Maret 2019 menjadi hari duka bagi dunia, lagi dan lagi darah umat muslim tertumpah secara tragis, 49 orang jamaah sholatJum’at di Mesjid Al-Noor dan masjid Lindwood, Christchurch New Zealand di tembak secara membabi buta oleh seorang warga Australia yang bernama BrentonTarrant (28) bersama dua rekannya laki-laki dan satu orang perempuan.

Teroris BrentonTarrant
Dari sebuah manifesto setebal 74 halaman dijelaskan alasan pelaku melakukan serangan itu, BrantonTarrant adalah orang kulit putih biasa berumur 28 tahun yang lahir di Australia dari kelas pekerja, keluarga berpenghasilan rendah dan dibesarkan di Grafton, New South.

Alasan pelaku melakukan serangan adalah untuk membalas ribuan kematian yang disebabkan oleh penjajah asing. Tarrant melakukan penembakan dengan begitu teratur dan berdarah dingin, dalam video siaran langsung di Facebook, terlihat dia sudah sangat terlatih menggunakan senjata api dan memahami ilmu dasar taktik militer.

Brandon Tarrant juga sempat mengunggah foto-foto magazine peluru, rompi dan kelengkapan militer serta senapan serbu yang dipenuhi dengan tulisan berwarna putih yang digunakan dalam penyerangan di akun Twitter pribadinya yang kini sudah di suspend. Namun meskipun korban kejahatan Tarrant mencapai 50 orang tewas, polisi baru menjerat pria itu dengan dakwaan sebagai pembunuh, bukan terrorist.

Bahkan Tarran setelah ditangkap tidak menyesali sama sekali tindakan kejinya tersebut, tetapi malah ingin membunuh semua orang muslim.

Lalu Siapa Terorist Sebenarnya?
Menurut KBBI teroris adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik); praktik tindakan terror.

Namun istilah terorisme masih dimaknai dengan standar ganda sesuai dengan kepentingan pihak yang berkuasa. Misalnya, Amerika menganggap pembunuhan Indira Gandhi sebagai aksi terorisme, sementara pembunuhan Raja Faisal dan Presiden Kennedy tidak disebut terorisme.

Pada tahun 1997, awalnya AS mencap pengeboman gedung kantor penyelidikan Federal (FBI) di Oklahoma sebagai aksi terorisme. Namun, setelah diketahui bahwa pelakunya adalah orang Amerika sendiri yakni Timothy Mc Veigh, pengeboman tersebut dikategorikan sebagai aksi kriminal biasa.

Ketika pejuang Hamas melakukan bom syahid melawan kebrutalan tentara Israel, AS menamainya sebagai aksi terorisme. Sebaliknya, tindakan brutal yang dilakukan para serdadu Israel yang telah membantai dan memporakporandakan kalangan sipil disebut sebagai pembelaan diri untuk merespon (serangan) musuh.

Peruntuhan gedung WTC—yang sampai detik ini belum terbukti siapa pelakunya disebut sebagai terorisme. Sebaliknya, tindakan brutal AS dan sekutunya yang menghancurleburkan Afganistan beserta 7,5 juta penduduknya yang telah menewaskan ribuan rakyat sipil yang tak berdosa dinamakan sebagai penegakkan keadilan tanpa akhir. Itulah arti terorisme yang mereka definisikan.

Di Indonesia berbagai aksi teroroisme yang terjadi seperti Bom Thamrin, kerusuhan di Mako Brimob, Peledakan gereja dan markas kepolisian di Surabaya, merupakan runtutan aksi terorisme yang terus berkelindan satu sama lain.

Sulit untuk mengetahui secara pasti apa motif utama dari para pelaku aksi terror tersebut. Yang pasti, stigmanisasi melalui media terjadi. Para pelaku diidentikan dengan ‘simbol’ keislaman, semacam cadar, keluarga aktivis, penggemar ajaran Islam dan sejenisnya. Bahkan ketika masih terduga saja,kalau dia Islam, langsung ditembak mati.

Di sisi lain keberadaan UU anti terorisme yang awalnya tersendat pembahasannya, kini dengan mulus disetujui oleh Parlemen.

Jika kita lihat, agama manapun tidak pernah mengajarkan terorisme, apalagi Islam, karena Islam adalah agama yang damai yang begitu melindungi nyawa manusia, bahkan ketika  perang dengan negri kafir, Rasulullah melindungi wanita wanita dan anak-anak untuk segera dilindungi.

Tapi kita lihat sekarang negri-negri kafir begitu mudah membunuh nyawa umat muslim yang ada di Palestina, Suriah, Uyghur, Allepo, dll tanpa melihat korbannya anak-anak dan wanita, ditangan mereka meregang nyawa kaum muslimin. Jadi telah jelas tampak yang menjadi korban dari terorisme adalah Muslim dan Islam. Dan yang menjadi terrorist adalah Negara kafir barat penjajah yang benci terhadap kebangkitan Islam.

Dengan demikian, wajarlah muncul anggapan bahwa perang melawan terorisme ini tidak lebih dari konspirasi global yang membawa kepentingan asing untuk mendeskreditkan Islam dan Umat Islam, terutama upaya dalam menegakkan syariat Islam.

Langkah Strategis Melawan Terorisme
Langkah yang harus ditempuh umat Islam dalam perang melawan terorisme ala kafir penjajah adalah dengan dakwah.

Pertama : Umat perlu disadarkan tentang pentingnya memiliki kesadaran politik (wa'yusiyasi) yang benar dan sesuai dengan tuntunan syariah Islam. Politik sejatinya adalah “Pengaturan tentang urusan umat/masyarakat”. Umat harus menyadari bahwa rangkaian kejadian terorisme yang mengkreditkan Islam adalah kebijakan politik yang dilakukan oleh penguasa.

Umat harus mewaspadai paham-paham yang ditaburkan oleh musuh seperti paham Demokrasi, Nasionalisme, Liberalisme, Fundmentalisme, Radikalisme, Terorisme dan isme-isme lainnya adalah paham yang jelas nyata menghancurkan Islam dan kaum Muslim.

Kedua, melakukan pembinaan umat dengan pemikiran Islam yang bersumber dari akidah Islam. Umat Islam harus mendapatkan penjelasan tentang makna politik dalam Islam dan bagaimana peran politik umat.

Pembinaan Islam itu harus dilakukan secara intensif sehingga memberikan pola pemahaman yang berkarakter sesuai dengan petunjuk Islam. Dengan itu umat memiliki pemikiran dan perasaan yang sama, yang distandarisasi dengan akidah Islam.

Pembinaan ini telah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Beliau menanamkan persepsi yang kuat atas visi misi hidup seorang muslim. Darimana berasal, untuk apa diciptakan, dan kemana setelah mati.

Kesadaran itu untuk menegakkan kembali syariah Islam secara Kaffah dalam naungan khilafah. Apabila kesadaran umat semakin menguat dan meluas maka itu akan menjadi mimpi buruk bagi Amerika dan negri kafir penjajah lainnya.

Karena khilafah akan menjadi pertanda runtuhnya peradaban kapitalisme-liberalisme di dunia.

Posting Komentar