Oleh : Adreena Shazfa

Mediaoposisi.com-95 tahun sudah, dunia tanpa naungan Islam. Waktu yang cukup lama bagi kelompok nasionalis untuk menghapuskan jejak bersejarah tentang sebuah negara adidaya yang berkuasa hingga 14 abad lamanya.

Baca : Jokowi Bagi-Bagi Sertifikat, Warga Memilih Pindah Masjid

Maka tak heran jika mayoritas masyarakat milenial tak tahu tentang peristiwa besar bersejarah yang bertepatan pada 3 Maret 1924 dimana tak ada lagi saksi mata atasnya.

3 Maret 1924, adalah tahun kesedihan bagi umat Islam diseluruh dunia. Dimana berakhirnya sistem kenegaraan yang diperjuangkan Rosulullah SAW selama 23 tahun hingga wafatnya beliau,

Selanjutnya dilanjutkan oleh kepemimpinan empat sahabat terbaiknya, hingga para Amirul Mu'minin setelahnya. Yang selama 14 abad itulah umat manusia dimuka bumi hidup sejahtera dibawah naungan Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Para penentang Islam tak tinggal diam atasnya. Ratusan tahun peperangan mereka upayakan untuk meruntuhkan negeri Islam. Sampai akhirnya mereka tersadar bahwasannya melalui perang upaya mereka tak akan berhasil dikarenakan kekuatan kaum muslimin yang cukup kuat.

Hingga mereka menjumpai satu titik untuk menghancurkan umat Islam, yaitu dengan strategi menyusupi  filsafat Persia dan Yunani kedalam pikiran kaum muslim.

Paham nasionalisme juga disebarkan hingga kaum Muslim mengelompokkan diri sebagai Arab, Turki atau Mesir, daripada menganggap mereka satu Muslim.

Baca juga: Said Aqil Siradj Disuruh Mundur

Perlahan namun pasti. Kejadian Vienna 1683 jadi titik tolak mundurnya Islam. Tatkala jihad dan ijtihad ditinggalkan, barat mulai ekspansi militer dengan membawa 3G (gold-gospel-glory), yang  dengan itulah mereka menjajah negeri muslim.

Dan penyebab terbesarnya adalah  karena  ditinggalkannya bahasa arab sebagai bahasa Ibu, sehingga lemahlah pemahaman Islam.

Mustafa Kemal Ataturk, seorang militer Turki dari Salonica. Seorang Yahudi Daunamah, yaitu kaum Yahudi yang berpura-pura memeluk agama Islam. Melalui Inggris, Ia berhasil mengganti Khilafah Utsmani menjadi Republik Turki, dan Khilafah resmi dihapus pada 3 Maret 1924.

Kemudian Inggris mengambil wilayah India, Cina Barat, Sudan, dan akhirnya merebut Mesir dari Prancis. Kaum Muslim seperti hidangan yang direbutkan. Kini negeri muslim tercecer, bercerai berai dan berdaulat menjadi negeri-negeri kecil.

Padahal dulu hanya ada dua negara. Yaitu negara Islam, dan negara Kafir. Dan dua pertiga dari dunia, itulah negeri Islam “Daulah Khilafah Islamiyah”.

Umat muslim bagai anak ayam kehilangan Induk. Konflik terjadi diberbagai negeri seperti Suriah, Palestina, Rohingya, Uighyur, hingga Indonesia yang dilanda diskriminasi dan kemiskinan ditengah hamparan sumber daya alam yang tak bisa dinikmati.

Kemana negeri negeri ini harus mengadu? Senjata 3G (gold-gospel-glory) yang luncurkan para antek liberalis dan sekularis berhasil melumpuhkan karakter generasi muda yang kini diperbudak oleh kebebasan.

Dengan menelusuri jejak sejarah 3 Maret 1924, kita dapat belajar untuk memahami kesalahan dimasa lalu. Meniti kembali  jalan yang pernah diperjuangkan Rosulullah SAW beserta generasi terbaiknya dimasa itu.

Mulailah membuka mata dan hati akan hal ini. bersama-sama membangunkan raksaka yang tertidur hampir satu abad lamanya. Untuk menyongsong kembalinya Khilafah Islamiyah yang telah dijanjikan.

Rosulullah SAW bersabda: “Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya.

Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya.

Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa.

Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih).[MO/ad]

Posting Komentar