Gambar: Ilustrasi
Oleh : NR. Tambunan
(Pengamat Masalah Sosial)

Mediaoposisi.com-Isu terorisme kembali menghangat pasca mencuatnya berita penangkapan terduga teroris di Sibolga pada hari Selasa, 12 Maret 2019. Isu ini semakin prominen dengan menyusulnya berita tentang istri salah seorang terduga teroris yang nekat meledakkan diri dan anaknya setelah menolak menyerahkan diri meskipun telah dikepung hampir 10 jam (news.detik.com, 13/3/2019).

Tak berapa lama, tepatnya sehari setelahnya, Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror kembali menangkap dua orang perempuan berinisial R dan M yang diduga bagian jaringan teroris Sibolga. Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Inspektur Jenderal Agus Andrianto, mengkonfirmasi penangkapan ini (nasional.tempo.co, 14/03/2019).

Layaknya film lama yang dimainkan berulang kali, terorisme yang terbersit kali ini pun memampangkan ISIS sebagai pelakon utamanya. Hanya saja kini, perempuan menjadi pemain figuran yang dipasang untuk mencapai tujuannya.

Peran perempuan dalam terorisme bukan kali ini saja terjadi di Indonesia. Pada bulan Mei tahun lalu di Surabaya, satu keluarga meledakkan diri dalam upaya teror di gereja Santa Maria Tak Bercela, gereja Pantekosta dan gereja GKI Diponegoro. Peledakan bunuh diri yang melibatkan perempuan dan anaknya (www.bbc.com, 15/05/2018). Fakta ini seakan mencoba menggiring pemikiran masyarakat bahwa perempuan juga memiliki peran dalam melakukan terror. Tidak hanya melulu dimonopoli kaum pria. Seakan kesetaraan jender pun sudah mulai merambah dalam lini terorisme.

Pemikiran ini bukan tak berdasar. Peneliti Habibie Centre, Vidya Hutagalung, mengatakan keterlibatan perempuan dalam jaringan terorisme semakin aktif dalam dua tahun terakhir. "Kecenderungan sekarang memang ada transformasi peran perempuan yang semula lebih 
sebagai pendukung, sekarang ke arah eksekutor. Contoh besar saat kasus bom Surabaya tahun lalu," kata Vidya kepada Tempo, Kamis, 15 Maret 2019. Vidya memaparkan pula bahwa perempuan teradikalisasi melalui propaganda yang tersebar di sosial media dan dakwah atau kelompok-kelompok pengajian (nasional.tempo.co, 14/3/2019).

Pada kasus terbaru, Abu Hamzah, sang terduga teroris menyampaikan kepada penyidik Densus 88, bahwa istrinya lebih keras pemahamannya dibanding dia sendiri. Istrinya lebih militan. Bahkan negosiasi dan bujukan untuk menyerahkan diri dari Abu Hamzah sendiri pun tak menuai hasil. Sang istri lebih memilih meledakkan diri beserta anaknya ketimbang harus tertangkap dan diinterogasi. Memperlihatkan scene yang menunjukkan seakan muslimah radikal di Indonesia sedang bangkit.

Adalah bukan hal yang baru jika Islam lagi-lagi dituding berkontribusi dalam terorisme. Pemahaman Islam yang melenceng dianggap sebagai akar permasalahan berkembangnya kejahatan ini. Namun, alih-alih mengembalikan pemikiran Islam dengan pemahaman yang benar, yang terjadi adalah upaya merekonstruksi pemahaman Islam dan upaya deradikalisasi yang mengarah kepada sekularisme, liberalisme dan pluralisme.

Proyek deradikalisasi Islam ini, tentu tak lepas dari ketakutan musuh-musuh Islam atas bangkitnya kekuatan Islam yang bertransformasi dalam bentuk negara. Monsterisasi negara Islam atau khilafah dalam teror ISIS, adalah salah satu tuduhan keji yang mereka lancarkan untuk memberangus khilafah sebagai ajaran Islam. Di sisi lain, upaya mendiskreditkan gerakan-gerakan Islam yang benar dengan dituduhkan setipe kelompok teroris ISIS adalah salah satu bentuk ketakutan lainnya akan bergolaknya pemikiran Islam yang benar di masyarakat melalui gerakan dakwah yang ikhlas.

Akan tetapi, fenomena hijrah yang tak terbendung memicu kepanikan para penentang Islam. Kajian Islam semakin marak. Kelompok-kelompok pengajian yang kecil maupun besar mulai dilakukan, baik secara online maupun offline. Menarik lebih banyak lagi kaum muslimin yang semakin sadar akan pentingnya mempelajari Islam dengan benar.

Muslimah hijrah, adalah salah satu fenomena ini. Media sosial yang menjadi halaman utama kaum perempuan bersosialisasi saat ini menampakkan kecenderungan yang tinggi akan pentingnya peran perempuan dalam dakwah Islam. Tokoh-tokoh muslimah ideologis yang nampak berseliweran, baik di dunia nyata maupun maya, mengindikasikan pergerakan muslimah kembali kepada Islam adalah potensi kebangkitan Islam yang patut diperhitungkan. Kembalinya pemahaman Islam yang kaffah mulai menggejala dan menantang musuh-musuh Islam untuk melakukan tindakan lebih.

Mencekal muslimah radikal adalah salah satu hal yang realistis untuk dilakukan. Untuk itu, perlu dimainkan sebuah gambaran yang akan menghantarkan stigmatisasi kepada publik. Deskripsi yang menjelaskan bahwa muslimah yang taat dengan pemahaman Islam yang radikal harus dijauhi, ditakuti, dan dicurigai. Sebuah sketsa yang berupaya dibenamkan kepada masyarakat bahwa perempuan yang sejatinya lemah lembut jauh dari kekerasan bisa berubah menjadi militan teroris yang kejam tak berperikemanusiaan.

Mencermati telaah ini, semakin menguatkan urgennya muslimah untuk mengkaji Islam lebih dalam lagi. Mendekati muslimah dengan pemahaman Islam ideologis. Mempelajari Islam secara totalitas, hingga turut serta dalam perjuangan penerapan Islam secara menyeluruh. Tak penting stigma yang berupaya disematkan kepada muslimah radikal.

Mestinya, ini tak membuat kita malah mencurigai dan menjauhi saudara sesama muslim. Jika kita kembali kepada Alquran dan Assunah, maka kita akan mendapati bahwa cap teroris tersebut adalah kesengajaan yang absurd dari musuh-musuh Islam untuk memberangus kebangkitan Islam dan persatuan kaum muslimin. [MO/ms]

Posting Komentar