Oleh : Muhammad Akbar Ali 
(HUMAS GEMA PEMBEBASAN SULAWESI TENGGARA)

Mediaoposisi.com- Degradasi nalar kritis mahasiswa bukan saja disebabkan aturan kampus yang represif, namun juga dikarenakan paradigma hedonis yang menyelimuti pikiran mahasiswa. Saat mengenyam pendidikan di ruang kuliah, mereka hanya berpikir agar cepat selesai dengan IPK tinggi dan setelahnya mendapatkan pekerjaan sesuai kebutuhan tanpa menaruh kepedulian atas berbagai kondisi amoral yang terjadi disekitarnya terlebih masalah yang dialami masyarakat.

Gelagat mereka hanya terukur dari kos, kampus, warnet, dan warkop. Itulah tontonan yang kita saksikan dekade ini dikalangan mahasiswa. Lulus kuliah dengan waktu cepat dari waktu yang semestinya dengan raihan IPK tinggi adalah status sakral dan kebanggan besar dalam angan-angan mereka.

Inilah bentuk transformasi pemikiran yang diharapkan oleh kaum korporat, pemimpin yang zalim, maupun para mafia. Dengan kondisi demikian maka akan membuat keperkasaan musuh-musuh atas ketidakadilan sosial semakin menancapkan cengkaramanya menjajahan negeri ini, baik dari segi politik, ekonomi, pendidikan, dan ranah lainya. Sebab tidak ada yang menyentuh atas kezaliman mereka. Sekali lagi karena mahasiswa tidak lagi memiliki nyali kepedulian atas berbagai problematika sosial yang sejatinya adalah bagian dari kewajiban utama mereka sebagaimana yang terkandung pada tri dharma perguruan tinggi yaitu mengabdi kepada masyarakat. Idealisme mereka telah tergadai oleh materialisme yang telah meracuni jiwanya.

Saksikanlah realita yang terjadi saat mahasiswa hanya memikirkan kuliah semata, maka siapa yang akan melawan berbagai kebijakan pemerintah yang menyengsarakan orang tua kita atau rakyat. Siapa yang akan melawan kongkalikong pejabat dan pengusaha dalam membuat kebijakan yang menindas rakyat. Siapa yang akan melawan para korporasi saat melakukan penggusuran atas tanah proletar dan sawah-sawah petani (agraria).

Siapa yang akan menjadi penyambung lidah nelayan saat mata pencaharian mereka hilang akibat reklamasi. Siapa yang akan menentang tingginya biaya pendidikan dan kesehatan di negeri yang kaya raya ini. Siapa yang akan melawan arus proyek impor pangan yang sangat merugikan petani. Siapa yang akan menyuarakan penolakan atas penjarahan tiada henti atas sumber daya alam kita dengan royalti yang tidak masuk akal. Sekali lagi siapa, kalau bukan mahasiswa.

Wahai mahasiswa, bangkitlah dari pemikiran individualis menuju Ideologi jati dirimu yang sesungguhnya. Sadarlah atas berbagai ketidakadilan ini. Terlalu rendah kehidupan mahasiwa jika hanya memikirkan materi semata. Jangan biarkan eksistensi hedonisme terus menggerus idealisme. Lihatlah diluar sana, rakyat dan kaum tertindas akibat berbagai ketimpangan dinegeri ini menaruh harapan besar.

Bangkitlah. Lawan rasa takut dengan naluri semangat membara yang tinggi. Karena ketakutan yang terpelihara adalah perpanjangan tangan atas perbudakan. Gelorakanlah semangat idealisme. Semangat melawan penindasan dan ketidakadilan. Sebab pengaruh atas ketidakadilan itu juga termasuk orang tua kita. Dan untuk menciptakan nyali idealisme tersebut harus dengan Ideologi. Perihal tersebut ada pada Ideologi Islam. Ideologi Islam adalah dinn yang sempurna tiada tanding. Secara historis dan konspetual telah terbukti membawa pengembanya dalam melakukan perubahan hakiki ditengah-tengah masyarakat dalam melawan berbagai kezaliman yang terjadi.

Dengan ideologi Islam akan membawa mahasiswa dari pemikiran rendah ke pemikiran yang tinggi. Maka sudah seharusnya mahasiswa mempelajari Islam secara ideologis dan menjadikan mainstrem perjuangan politik maupun disetiap aktivitasnya. Karena mahasiswa yang memegang teguh Ideologi Islam pasti memiliki idealisme yang kokoh dan kepekaan yang kuat atas berbagai polemik sosial. Dan yang paling utama dari pengemban Ideologi Islam, yakni berjuang semata-mata untuk Ridha Allah Swt, bukan materi ataupun pengakuan.[MO/sr]

Posting Komentar