OLEH : AB LATIF

Mediaoposisi.com-“KAFIR” sebuah kata yang sudah ada sejak diutusnya Rosulullh saw. ribuan tahun yang lalu, kini menjadi kontroversi diera milenial.

Kafir yang merupakan sebutan bagi orang yang diluar islam atau tidak beriman kini mau diamandemen oleh sebagian orang yang mengatasnamakan ulama’ dengan alasan agar tidak menyakiti hati non muslim. Padahal sejak diutusnya Rosulullah saw.

Sebagai Nabi dan Rosul, tak pernah ada seorang muslim pun dan bahkan orang kafir pun yang protes tentang hal ini. Tetapi ternyata kini kata “kafir” yang merupakan kata pilihan Allah swt. Y

ang tertuang dalam kitab suci Al qur’an, digugat oleh para liberalis komunis yang mengatasnamakan ulama’. Dan akhirnya menjadi topik perdebatan nasional dan juga kegaduhan nasional. Ada agenda apakah dibalik kata “kafir” ini ???

Ditengah hiru-pikuk panasnya suasana politik menjelang Pilpres 2019, sebuah keputusan kontraversi diluncurkan oleh sebuah organisasi yang berlatar belakang kumpulan para Ulama’ dalam munasnya di Jabar awal bulan ini.

Para ulama’ ini berkumpul dan bersepakat dan juga memutuskan bahwa non muslim bukanlah kafir. Tentulah keputusan ini bukan suatu kebetulan, ada semacam skenario politik yang sudah di persiapkan mereka untuk suksesi kepemimpinan politik ditahun-tahun yang akan datang. Benarkah??

Keputusan hasil munas ini, berkaitan dengan hasil keputusan munas di tahun yang lalu. Ditahun 2017, hasil munas mereka di NTB juga telah memutuskan bahwa kepemimpinan non muslim adalah legal. Artinya mereka memutuskan bahwa kepemimpinan orang kafir bukanlah haram.

Dan ternyata di tahun ini juga mereka memutuskan bahwa non muslim bukanlah kafir. Dari rangkaian hasil munas inilah tercium adanya indikasi upaya menghilangkan kata “KAFIR” dalam kamus umat islam.

Tujuannya sangat jelas yaitu untuk menghapus istilah KAFIR dalam benak umat islam. Dengan hilangnya istilah kafir ini diharapkan mereka para liberal dan aseng komunis dapat menjadi pemimpim Indonesia atas pilihan umat. Karena mereka faham jika kata kafir ini masih melekat dalam benak kaum muslimin, mereka tak akan mampu menguasai secara politik.

Hal ini bisa kita lihat bahwa betapa dahsyatnya pengaruh kata “KAFIR” ini. Kata ini telah mampu menggulingkan Ahok dalam Pilkada DKI tahun 2017.

Gencarnya kampanye haram memilih pemimpin kafir tidak hanya dapat mengalahkan Ahok dan bahkan dapat menjebloskannya ke penjara. Tentu saja hal ini yang sangat mereka takuti. Untuk bisa meraih tujuan politik ini, tidak ada cara lain kecuali dengan menghilangkan kata “KAFIR” dari kamus kaum muslimin.

Untuk menghilangkan kata “KAFIR” ini, tidak mungkin bisa tanpa ada kekuatan yang dapat melegalitasnya. Oleh karena itu mereka berupaya masuk ke salah satu organisasi yang sudah diakui umat secara umum.

Disinilah sebenarnya mereka berupaya dan berjuang untuk menghilangkan kata “KAFIR” dalam benak kaum muslimin melalui legalitas para ulama’. Dan bahkan negara pun ikut-ikut memback up ide sesat ini. Lihatlah apa yang dikatan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu “ siapa yang bilang kafir saya tempeleng.

Selain agenda utama diatas, ada agenda lain yang hendak dicapai dalam keputusan ini. Ibarat sebuah pepatah sambil menyelam minum air.

Ketika kita lihat elektabilitas petahan menurun, polling di berbagai Lembaga survei baik di media social maupun elektronik serta media cetak, petahan selalu dapat dikalahkan oleh lawan politiknya. Begitu juga dengan program-program yang menjadi unggulan petahana senantiasa dapat di counter lawannya.

Begitu juga dengan opini negative KTP ganda, DPT warga asing, masuknnya Tenaga Kerja Aseng khususnya asal China yang setiapa hari membajiri Indonesia telah menoreh rapot merah pada petahana. Semua orang bisa melihat betapa pencitraan yang selama ini menjadi alat pemikat tidak lagi dilirik umat.

Rakyat sudah bosan dengan kebohongan-kebohongan yang selama ini di pertontonkan. Dari sinilah isu panas ini diangkat ke permukaan. Dijadikanlah kegaduhan nasional.

Tujuannya tidak lain adalah untuk mengalihkan semua opini yang menyudutkan petahana. Menutup berita negative petahana dengan mengarahkan focus pandangan umat pada kontraversi kata “KAFIR”.

Dari sini jelas sudah kemana arah politik yang diciptakan oleh mereka. Orang-orang kafir tidak akan rela sampai mereka dapat memalingkan umat islam dari jalan agamanya. Hal ini sudah di sampaikan Allah SWT. Dalam Al qur’an Surat Al Baqoroh ayat 120.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”

Posting Komentar