Oleh: Ropi Marlina, SE., M.E.Sy

Mediaoposisi.com-Media memiliki peranan penting dalam membentuk opini umum, semakin sering berita itu dikabarkan maka akan terbentuk opini umum di masyarakat. Berita kecil pun akan menjadi besar ketika secara masif terus diangkat dan dibesar-besarkan. Media menjadi alat kontrol masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Bahkan media pun dijadikan alat untuk kepentingan politik.

Sebagaimana Presiden AS, Barrack Obama memanfaatkan media sebagai ajang mendongkrak popularitas yang akhirnya menjadi sebuah keberhasilan dalam kampayenya melalui media.
Tak dipungkiri di tahun politik ini, elektabilitas capres dan cawapres pun menggunakan media sebagai alat untuk kampanye.

Jika kita perhatikan peran media yang ada saat ini dinilai tidak netral. Meskipun ada salah satu media mainstrem yang dinilai netral oleh masyarakat. Terdapat keberpihakan media mainstream di tahun politik semakin gamblang condong ke petahana. Sehingga media dijadikan bumper penguasa.

Berbagai penangkapan pun dilakukan oleh penguasa atas nama pasal ujaran kebencian bagi pengkritik kebijakan pemerintah. Semakin mengukuhkan bahwa penguasa hari ini, tak memberikan ruang pada oposisi dalam hal kebebasan berpendapat. Oleh karena itu, menurut Fadli Zon, sungguh ironis saat Pa Jokowi diberikan penghargaan medali kemerdekaan pers. Karena tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Kemerosotan fungsi dan peran pers menjadi catatan dalam Peringatan Hari Pers, 9 Februari 2019 di Surabaya, Jawa Timur. Pasalnya, peringkat kebebasan pers Indonesia di posisi 124 versi Reporters Without Borders (RSF) yang dirilis 25 April lalu . Posisi ini jauh dari negara yang baru lahir seperti Timor Leste di posisi 95 dan negara yang masih penuh konflik, yakni Afghanistan pada posisi 118.

Media dalam Islam
Media dalam Islam bersifat netral tidak ada keberpihakan. Media menjadi wadah aspirasi umat dalam kontrol kepada penguasa. Khalifah akan mengambil peranannya dalam mengendalikan media sebagai sarana edukasi terkait dengan kebijakan-kebijakannya, yang semata untuk kemaslahatan umat dan mencerdaskan ummat bukan untuk kepentingan politik.

Kebebasan pun dikaitkan dengan syariat. Pemilik media akan senantiasa menjaga agar media yang dikelola, hanya bermuara pada kebenaran. Karena semua akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Keimanan pada Allah menuntut insan media muslim mengerahkan segenap daya dan kekuatan dalam menyuarakan kebenaran Islam di kancah perang opini ini. Keimanan pula yang mendorongnya untuk mengoptimalkan peran media sebagai mikrofon untuk memperbesar gaung dakwah. Dan itu jua lah yang seharusnya membentengi insan media muslim dari iming-iming kenikmatan dunia yang akan menggerus idealisme mereka.

Untuk itu, insan media muslim harus senantiasa mengasah kepekaan berpikir serta membangun kesadaran politiknya. Dalam artian memahami problematika masyarakat serta meyakini syari’ah dan khilafahlah solusi tuntas atas seluruh permasalahan itu. Dengan demikian, ujung-ujung pena mereka akan selalu siap menjadi amunisi yang senantiasa menyuarakan kebenaran dan mengungkapkan kebathilan.

Sungguh, media adalah sebagai alat ropaganda yang efektif diharapkan mampu memberikan pencerdasan politik di tengah masyarakat, bukan menjadi corong kepentingan rezim neolib, penjajah asing atau malah menebar gaya hidup yang merusak. Dia akan menjelma menjadi baik jika dikelola dengan sistem baik, yaitu Islam. Sebaliknya, media akan berubah menjadi buruk jika disetir oleh sistem buruk buatan manusia.[MO/sr]

Posting Komentar