Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Berat, sulit, itulah kata yang bisa mewakili rasa yang akan menjadi padu utama yang menggelayuti benak kader PPP pasca kasus Rommy kena OTT KPK. Suasana kebatinan yang patah, tergusur dan tragis, wajar menyelimuti jiwa dan sanubari kader.

Wajar juga, Jika Suharso Monoarfa menangis saat memberikan pidato PPP lewat forum Mukernas (20/3). Sang Plt Ketum ini sadar, sesadar-sadarnya bagaimana kondisi keterpurukan partai.

Pukulan telak bagi PPP, karena kondisi ini terjadi di injury time, menjelang pemilu. Tidak ada waktu, untuk melakukan antisipasi jatuhnya suara partai, kecuali hanya bisa pasrah dan berdoa.

Baliho dan spanduk, berbagai atribut partai, juga APK partai, pasti sudah banyak tercetak dengan poto manis Mas Rommy, sang Ketum yang ganteng dan milenial. Tentu, senyum ini memiliki makna lain. Jika senyum umumnya akan membuat orang tersenyum dan menghampiri, tapi tidak untuk senyum Rommy.

Senyum Rommy, membuat banyak orang mencibir dan menjauhi. Ummat tidak lagi memperhatikan lambang ka'bahnya, tapi perhatian mereka tertuju kepada foto Rommy yang ganteng. Ini, tentu membuat hati kader sangat pedih.

Belum lagi, rekan sejawat satu mitra koalisi di TKN, dari partai yang bergenre Islam justru memanfaatkan keadaan untuk merebut pemilih dan basis konsisten. PKB menyebut Rommy musuh Islam karena perilaku korupsinya. Lantas, bukankah ini bisa dimaknai PPP juga musuh Islam ?

Dalam interaksi koalisi di TKN, PPP sudah tidak dianggap. Posisi PPP pasca OTT Rommy telah menjadi beban TKN. Jika masih ada representasi formalistik pengganti Rommy, itu cuma nomenklatur saja. Secara subtantif, jelas peran PPP sudah diabaikan di TKN.

TKN tentu akan merasa terbebani, jika PPP banyak terlibat dalam agenda pemenangan Jokowi. TKN juga paham, fokus PPP saat ini adalah menanggulangi dampak destruktif kasus Rommy pada elektabilitas PPP. Jadi, sudah tidak punya energi untuk menggenjot elektabilitas Jokowi.

Jadi, hubungan TKN - PPP itu hambar, hanya formalis. Keduanya, saling membelakangi. Hanya saja didepan publik, keduanya harus nampak tetap romantis dan hangat, demi menjaga dampak destruktif OTT terhadap Rommy tidak berimbas lebih parah, baik kepada PPP maupun pada Jokowi.

Sekali lagi, kembali kepada PPP nasibnya pasca OTT KPK terhadap Rommy ini bisa dipastikan MADESU. PPP tidak mungkin berharap 'jatah kue politik' dari koalisi TKN Jokowi. PKB pasti mengajukan tawaran lebih berani kepada TKN pasca OTT Rommy, karena praktis hanya PKB representasi partai koalisi TKN yang merepresentasikan suara Islam.

PPP saat ini hanya bisa berharap, partainya selamat menuju Senayan. Tapi, melihat angka elektoral parlemen dipatok 4 % rasanya berat sekali. Mungkin, ada opsi PPP berfusi dengan PBB, baru bisa lolos. Gabungan suara dua partai ini, yang sama-sama bercitra buruk dimata umat karena manuver sang Ketum, diharapkan bisa melampaui patokan EP 4 %. [MO|ge]

Posting Komentar