Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Aku, masih yang dulu. Yang setia pada akad, berkomitmen untuk satu periode lagi. Untuk itu, aku telah berikan segala yang kumiliki, dan mengupayakan apa yang belum kumiliki. Semua, kupersembahkan untukmu.

Plat form partai Islam, aku rombak. Rumah besar umat Islam, sekarang dituding rumah besar penista agama. Besar sekali, nilai yang kukorbankan untukmu, untuk masa depan kita berdua.

Aku, masih memendam dalam untaian kata darimu, yang menyebutku 'ganteng dan milenial'. Aku, masih terkenang saat kau dan aku, berkeliling menemui rakyat, dan kau lempar buntelan kehinaan. Aku abadikan, kisah kita melalui layar ponselku.

Aku tahu aku salah, bukan karena kesalahanku. Tapi salah, kenapa bisa terendus KPK. Nyatanya, orang lain disekitar kita juga melakukan hal yang sama. Lantas, jika aku dirundung masalah, apakah serta merta kau lupakan kebersamaan kita ? Kedekatan kita ? Bukankah dahulu kita berikrar sehidup semati ? Untuk saru periode lagi memimpin bangsa ini ?

Ah, Mas Joko. Aku telah ditinggalkan. Partaiku mengabaikanku, sementara sahabatku semua menjauh dariku. Tak ada pembelaan hukum, padahal aku berjuang mati-matian demi kita, demi semua.

Aku tahu, ini akan terjadi. Dan itu biasa terjadi pada yang lain. Tapi aku tak mengira secepat ini terjadi. Disaat, aku benar benar mabuk kepayang pada kekuasaan. Disaat, engkau benar benar menghamparkan mimpi kekuasaan dan dunia dihadapanku.

Aku, tak mengapa kau ikut irama seriosa yang lain. Kau anggap aku bukan siapa siapa, tak pernah menjadi apa apa. Tak mengapa. Karena ini akan berimbas buruk pada elektabilitasmu. Tapi, tak bisakah secara rahasia kau menjengukku ? Seperti saat kau ke Semarang malam malam menemui nelayan secara rahasia ?

Aku tak meminta banyak, jika saja kau berkenan menjenguku. Tanpa media, tanpa pemberitaan, bahkan tanpa siapapun, cukup kita berdua. Aku ingin, disaat kesendirian ini, masih ada sisa kenangan yang bisa kita bagi. Masih ada episode tambahan, elegi kasih antara aku dan dirimu.

Aku ingin, sekali lagi mengunggah foto mesra kita berdua. Di jejaring sosial media, dan nanti caption nya aku tuliskan "Kami Indonesia, Kami Pancasila".

Mas Joko, jenguklah aku walau sesaat. Dani, telah mendapat kunjungan dari sahabatnya. Sedang aku, semua berlari menjauh. Tidak orang partai, tidak koalisi kita, semua menjauhiku. Seolah, mereka semua tidak pernah kenal diriku.

Mas Joko, jenguklah aku. Ingat, kita pernah kenal, dekat dan saling mengikat akad. Aku telah berkorban, untuk komitmen dua periode. Aku tak menuntut banyak, cukup jenguklah aku Mas Joko. [MO|ge]

Posting Komentar