Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Maman Imanulhaq menyebut, musuh Islam adalah korupsi, dan Ketua Umum PPP Romahurmuziy adalah musuh Islam. Pernyataan tersebut, diucapkan saat pidato deklarasi Alumni Universitas Nasional (Unas) di Studio For Jokowi, Jakarta, Sabtu (16/3).

Terang saja, pernyataan ini membuat kader PPP meradang. Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Bandung, Zaini Shofari menyesalkan, pernyataan Ketua Lembaga Dakwah PBNU itu. Zaini mengatakan, Maman tidak mempunyai kewenangan untuk mengurusi persoalan internal yang sedang dihadapi oleh PPP.

"Seharusnya setiap peristiwa apapun harus dijadikan bagian dari sebuah kesadaran berpolitik, bukan kemudian mencabik-cabik apalagi memaki dan menghujat internal partai lain," kata Zaini, Minggu (17/3).

Zaini meminta Maman lebih mengurusi persoalan internal partainya sendiri, daripada mengurusi persoalan partai lain.

Zaini pun menyinggung persoalan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, yang diduga ikut terlibat dalam dugaan suap pembahaan anggaran untuk dana optimalisai Direktorat Jenderal Pembinaan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi (P2KT), dengan istilah yang terkenal 'Kardus Durian', di Kementerian yang saat itu dipimpinnya.

"Bukankah ketika Ketua Umumnya Cak Imin, pada saat dulu pernah tersandung di Kemenakertrans pada tahun lalu, yaitu kasus Kardus Durian. Kita dari PPP tidak pernah Al-Makki Al-Hujat" tegas Zaini.

Jika, yang dimaksud musuh Islam itu adalah perilaku Rommy yang tersandung kasus korupsi, yang belum lama ini dicokok KPK, tentu pernyataan ini pernyataan normatif. Tidak ada yang salah. Sebab, tidak ada satupun ketentuan syariat Islam yang memberikan pembenaran pada perilaku korupsi.

Lantas, dimana salahnya Maman ? Ya, tentu saja salah secara politik, bukan secara hukum atau secara Syar'i. Kesalahan ini, juga disandarkan pada 'perspektif kepentingan politik PPP'.

Meskipun pernyataan Maman 'mengindividualisasi kepada Rommy' namun ungkapan yang menyebut 'Rommy musuh umat Islam' dampaknya akan menggeneralisasi. Tentu, PPP ketiban getah sial dari statement 'Rommy musuh umat Islam' karena notabene Rommy adalah Ketum PPP, sebelumnya.

Tindakan Rommy, tidak mungkin lepas dari image PPP. Menyebut 'Rommy musuh umat Islam' secara politik bisa disejajarkan dengan menyebut 'PPP musuh umat Islam'.

Adalah wajar, jika Zaini meradang dengan pernyataan Maman. Disaat musim pemilu, image itu sangat penting bagi partai. Persepsi 'PPP musuh umat Islam' akan sangat berpengaruh besar bagi elektabilitas PPP, apalagi PPP jelas mengandalkan ceruk pasar suara Islam.

Jika Novanto Ketum Golkar tersangkut korupsi, kemudian Maman menuding 'Novanto Musuh Umat Islam' tentu hal ini hanya berdampak bagi Novanto. Golkar relatif tak terdampak, karena ceruk pasar suara Golkar adalah kalangan nasionalis sekuler.

Maka sangat masuk akal jika PPP segera mengkomplain pernyataan ini. Betapapun PPP dan PKB adalah partai mitra koalisi Jokowi, namun keduanya jelas bersaing hebat untuk memperebutkan suara umat Islam.

Terlebih lagi bagi PPP, sejak Rommy mengambil alih tampuk kekuasaan partai, basis NU merasa memiliki representasi setelah sebelumnya kerajaan PPP selalu dikuasai klan Parmusi. PKB dan PPP juga mengalami hubungan pasang surut, saling mewaspadai. Persaingan sengit ini, konon membuat keduanya berkompromi mendudukkan Ma'ruf Amin sebagai cawapres Jokowi, bukan Rommy atau Cak Imin.

Saya kira, pasca kasus Rommy ini PPP wajib berhati-hati atas manuver koalisi Jokowi yang perlahan namun pasti akan meninggalkan PPP. Bagi TKN Jokowi, PPP sejak kasus OTT Rommy telah menjadi beban elektabilitas bagi Jokowi.

Sebaliknya, kondisi ini boleh jadi akan dioptimalkan oleh PKB untuk menguasai saham mayoritas dan ceruk pasar suara umat Islam di internal TKN Jokowi. PKB tentu juga punya ambisi, meningkatkan suara partai sehingga Kedepan tidak saja bisa mengajukan cawapres, tetapi juga memilik mimpi secara mandiri menganjukan capres.

Migrasi suara PPP akibat OTT Rommy, tentu sangat menggiurkan bagi PKB. Sebab, basis pemilih PPP tidak mungkin hijrah ke partai Golkar, PDIP, NASDEM atau partai nasionalis sekuler lainnya.

Pemilih PPP yang kecewa atas kasus Rommy tentu memilih hijrah ke partai yang juga memiliki genre Islam. Dan PKB, memiliki peluang besar mengunduh berkah suara PPP dari kasus OTT Rommy. [MO|ge]

Posting Komentar