Oleh: Dariani, S.Pd
(Guru SMPN 3 Asera)
Hadapi dengan senyuman
Semua yang terjadi biar terjadi
Hadapi dengan tenang jiwa
Semua kan baik-baik saja

Bila ketetapan Tuhan
Sudah ditetapkan, tetaplah sudah
Tak ada yang bisa merubah
Dan takkan bisa berubah

Relakanlah saja ini
Bahwa semua yang terbaik
Terbaik untuk kita semua
Menyerahlah untuk menang
(Created by Ahmad Dhani)

Mediaoposisi.com-Syair lagu diatas seakan menggambarkan akan apa yang telah terjadi kepada musisi pop legendaris Ahmad Dhani Prasetyo atau lebih populer dengan sebutan Ahmad Dhani. Pasalnya, Ahmad Dhani harus mendekam dipenjara karena kasus ujaran kebencian pada dua tahun yang lalu.

Dalam perkara ini, Ahmad Dhani didakwa melakukan ujaran kebencian gara-gara twitnya yang diunggah pada 6 Maret 2017 yang berbunyi, "Siapa saja yang dukung penista agama adalah bajingan yang perlu diludahi muka nya".
Lewat twit ini Ahmad Dhani harus menerima tuntutan oleh Jaksa yang  sebelumnya mendakwa Dhani dengan pasal berlapis, yakni pelanggaran pasal 45 ayat 2 UU No.19/2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), pasal 28 ayat 2 UU ITE, pasal 55 ayat 1 KUHP dengan total ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara. (Tribun.com)
Ahmad Dhani yang sebelumnya optimis tak akan pernah di penjara akan ujaran tersebut, bahkan dia menganggap tidak ada pasal yang dilanggarnya. Kini harus menerima dengan ikhlas dan senyum atas penahanannya di sidang perdananya.
Penahanan tersebut karena dirinya dianggap telah  melanggar pasal UU IT sebagaimana sebelumnya yang disebutkan diatas.
Setelah penahanan tersebut, Ahmad Dhani pun batal menghadiri acara konser reuni Dewa 19 yang digelar di Stadion Malawati, Shah Alam, Kuala Lumpur. Konser yang berlangsung Sabtu malam ( 2/2) semula dibuat sebagai ajang reuni Group Band legendaris Dewa 19 yang digawangi Ahmad Dhani. Dua mantan vokalis Ari Lasso dan Once Mekel direncanakan bergabung kembali.
Namun konser reuni itu, berubah menjadi konser tribute to Ahmad Dhani.  Konser penghormatan terhadap Ahmad Dhani. Musikus bengal tapi jenius yang kini mendekam di LP Cipinang. Dia dijebloskan ke penjara karena tuduhan melakukan ujaran kebencian.
Tampil dengan formasi awal Dewa 19, kehadiran Dhani digantikan oleh Abdul Qodair Jaelani (Dul).  Pilihan yang sangat tepat. Dari tampang dan tampilan, Dul putra bungsu ini merupakan figur yang paling pas merepresentasikan Dhani.
Dul mesti lebih kalem dibanding Dhani, tapi gayanya cuek dan lumayan slengekan dibanding dua orang kakaknya Al Ghazali  dan El Jalaluddin Rumi. Wajahnya pun lebih mirip Dhani ketimbang Maia.
Lagu yang dipilih oleh Ari lasso “Hadapi Semua Dengan Senyuman” sangat pas menggambarkan watak dan sikap Dhani. Bengal, tak mudah ditundukkan, tapi sangat filosofis,  dan relijius.
Dia tetap tenang, dan yakin semuanya akan baik-baik saja, pada akhirnya. Dia percaya pada takdir, ketetapan Tuhan. Ini sisi relijiusnya. Semuanya tinggal dia jalani. Ikhlas dan pasrah. Percaya bahwa skenario Tuhan adalah yang terbaik.
Namun kata-kata dalam bait terakhirnya sungguh khas Dhani. Taktis,  strategis. Terus melawan dalam kondisi apapun. “Menyerahlah untuk menang!” Kata-kata ini sungguh dahsyat dan bertenaga. Lagu ini membuat stadion Malawati berubah menjadi banjir air mata.
Lampu di stadion dimatikan. Ari Lasso mengajak para penggemar Dhani menyalakan lampu gadgetnya sebagai pengganti nyala lilin.
Bahkan video konser tersebut sukses membuat puluhan ribu orang mewek ketika menyaksikannya. “Be Strong Dhani,” seru Ari Lasso dari atas panggung. Akun instragram Ari Lasso yang memposting konser tersebut dengan fokus pengambilan gambar Dul,  hanya dalam hitungan jam dibanjiri ribuan komentar dan dukungan.
Pendukung Jokowi Setelah Ahmad Dhani di Tahan?
Penahanan Ahmad Dhani membuat Jokowi tidak hanya mengahadapi Prabowo-Sandi dan para pendukungnya. Mulai saat ini dia harus bersiap menghadapi perlawanan dari para penggemar Ahmad Dhani yang pilihan politiknya beragam.  Banyak diantaranya adalah pendukung Jokowi dan mereka bahkan belum menentukan pilihan.
Pertama, Perlawanan dari Al, El, dan Dul, anak-anak Ahmad Dhani juga tidak boleh diremehkan. Mereka punya penggemar di kalangan milinial yang tidak kalah besarnya. Padahal segmen pemilih yang cukup besar ini  sudah lama digarap oleh Jokowi.
Kedua, Tangisan Dul dan Al hampir dapat dipastikan membuat perlawanan emak-emak, kian mengeras.  Sebagai ibu, mereka punya empati besar terhadap penderitaan seorang anak.
Apalagi anak-anak dari keluarga yang terpecah seperti keluarga Ahmad Dhani-Maia Estianti. Namun kini, bapaknya direnggut secara paksa oleh rezim berkuasa, hanya karena pilihan politik yang bebeda.  Mereka pun akan semakin militan.
Ketiga, Jokowi juga harus menghadapi perlawanan kelompok-kelompok seniman, artis,  pejuang kebebasan berpendapat, dari dalam dan bahkan luar negeri. Mereka banyak yang tidak setuju dengan sikap dan pilihan politik Ahmad Dhani. Tapi mereka juga tidak sepakat bila ekspresi dan kebebasan berpendapat harus dipasung
Islam Menuntaskan
Sistem politik dalam kepemimpinan Islam yang benar-benar tegak untuk mengurusi kepentingan umat, yakni dengan menegakkan Islam secara kaffah dan membuka ruang pada umat untuk mengawal pelaksanaannya melalui mekanisme muhasabah atau mengkritisi penguasa sesuai ketentuan hukum syara'.
Dalam kitab tafsir Ad Durrul Mantsur di Tafsiril Ma'tsur karya syeikh Jalaludin As Suyuthi di ceritakan tatkala Umar bin Khattab menjadi Khalifah beliau tidak pernah anti kritik.
“Suatu ketika beliau naik ke atas mimbar lalu berpidato di hadapan khalayak ramai. Beliau hendak membatasi mahar bagi para lelaki yang ingin menikah tidak boleh lebih dari 400 dirham.”
Di dalam riwayat lain Khalifah Umar akan memangkas kelebihan mahar tersebut untuk dimasukkan ke dalam kas baitul mal. “Seusai berpidato datanglah seorang wanita berdiri dan memprotes beliau seraya membacakan QS An Nisa ayat 20 yang menjelaskan bahwa Allah pun tidak membatasi mahar”.
Protes itu pun di sambut hangat oleh Khalifah. Beliau lalu beristighfar dan mengatakan "wanita ini berkata benar sedangkan aku salah".  Dan Kemudian beliau naik kembali ke mimbar berpidato lagi bahwa beliau tidak lagi membatasi mahar.
Begitulah kepemimpinan di dalam Islam yang memberikan ruang kepada siapapun untuk melakukan muhasabah jika pemimpinnya melanggar syariat Islam.
Oleh karena itu, fungsi partai politik dalam kepemimpinan Islam adalah melakukan kontrol dan muhasabah terhadap negara, terutama dalam penerapan syariat Islam di dalam negeri maupun luar negeri. Jika Khalifah melakukan penyimpangan-penyimpangan, maka partai politik Islam lah yang akan melakukan koreksi dan muhasabah terhadap penguasa.
Begitu juga seharusnya kondisi politik saat ini hendaknya berpegang pada pesan Rasulullah SAW dalam menghadapi pemimpin yang represif. Rasulullah bersabda:
"siapa saja yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka, maka dia bukan golonganku , aku pun bukan golongannya dan dia tidak masuk dalam telagaku (di surga), sebaliknya siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka maka dia termasuk golonganku , aku pun termasuk golongannya, dan dia akan masuk ke dalam telagaku (di surga)" (HR Ahmad, Al Hakim dan Al Baihaqi)
Oleh karenanya, sudah saatnya negara kita mengubur sistem demokrasi dan beralih menerapkan sistem Islam secara sempurna.[MO/ad]

Posting Komentar