Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Sedikit memantik ingatan kita pada Pilkada DKI Jakarta, dimana pada akhirnya 'Ahok tumbang' meskipun sebelumya diunggulkan banyak pihak. Diatas kertas, dalam kalkulasi menggunakan teknik dan pendekatan apapun Ahok menang.

Diukur dari sisi partai pengusung, Ahok didukung partai besar dan berkuasa. PDIP, Golkar, PKB, PPP, Nasdem dan hanura berhimpun mendukung Ahok. Sementara, Anis hanya didukung Gerindra, PAN dan PKS. Posisi Demokrat yang netral, tidak memberi pengaruh signifikan terhadap posisi Anis.

Belum lagi, Ahok punya teman Ahok, punya Jokower, punya mantan jasmev, punya PSI, punya PPP sempalan dibawah Djan Faridz yang juga mendukung Ahok. Kelompok politik gurem seperti group PKPI dibawah Hendro Priyono juga mengolam dikubu Ahok.

Sokongan dana ? Ahok punya segalanya. Taipan China semua mendukung Ahok, dari raksasa tambang, perkebunan, industri hingga raksasa property mendukung Ahok. Sedang Anies ? Cuma disuplai beberapa pengusaha pribumi dengan besaran kocek tak seberapa.

Media ? Apalagi. Semua media mainstream, menjadi juru bicara Ahok. Belum lagi, media buzzer yang dikonsolidasikan oleh teman Ahok dan berbagai saluran non resmi menjadi duta dan konsul Ahok.

Lembaga survey ? Apalagi ini. Semua mengerubuti itu gula yang memang ada di seputar Ahok. Sulit untuk tidak mengatakan, semua lembaga survey ngalap berkah dari pencalonan Ahok.

Adu program ? Ahok punya segalanya, sebagai petahana dia memiliki dua Legacy. Program berjalan dan program yang direncanakan. Sedang Anies ? Kasarnya, baru bisa jualan program mimpi. Dan hal ini, lazim dialami semua calon yang melawan petahana. Petahana, selalu memiliki keunggulan komparatif sebagai penguasa yang memiliki akses pada Resources kekuasaan.

Lantas, apa yang membuat Ahok tumbang ? Media ? Kekuatan modal ? Narasi kampanye program ? Dukungan partai ? Sokongan buzzer ? Gerak kader partai ?

Mari kita periksa.

Kejatuhan Ahok, dimulai saat HTI mengunggah kampanye politik berbasis akidah Islam. HTI sebagai ormas Islam, konsisten menjadikan akidah Islam sebagai basis pergerakan.

Sisi politik yang dimainkan oleh HTI untuk menyelamatkan umat adalah seruan dakwah untuk menolak pemimpin kafir. Kampanye tolak Ahok tolak pemimpin kafir, secara teologis memiliki basis yang kokoh. Dalam pandangan Islam, umat Islam diharamkan memilih pemimpin kafir adalah pandangan yang mu'tabar. Karena ini, HTI mendapat hukuman politik dari rezim dg dicabut status BHP nya.

Kampanye ini, tentu membuat Ahok risau, gusar, hingga pada kondisi tertentu tidak mampu mengendalikan emosi. Ahok yang memang bertabiat temperamen, akhirnya tak mampu melawan kehendak diri untuk mengaktifkan kejengkelannya terhadap Islam. Ahok sadar, suara umat Islam adalah kunci kemenangan. Karena itu, kampanye tolak Ahok tidak pemimpin kafir sangat mengganggu Fikiran Ahok.

Pecahnya pertahanan diri Ahok, dimulai saat Ahok menyalak dan meminta seorang mahasiswa UI bernama Boby untuk pindah ke timur tengah, karena mrmbuat video menolak Ahok sebab Ahok kafir. Saking berangnya, Ahok juga mengulang kegeraman di pulau seribu yang dengan tegas menyebut 'jangan mau dibodoh bodohi dengan aurat Al Maidah'. Inilah awal petaka politik Ahok.

Al kisah, Ahok akhirnya berurusan dengan umat Islam. Kasus penistaan Ahok divonis secara politik dan secara hukum. Secara politik, Ahok dihukum kalah dalam Pilkada DKI Jakarta. Secara hukum, tidak berselang lama setelah kalah Pilkada Ahok divonis bersalah karena telah melakukan penistaan agama, dan divonis dua tahun penjara.

Kasus kekalahan Ahok oleh umat Islam, juga bisa berulang terhadap Jokowi. Realitas politiknya juga mirip.

Jokowi didukung partai besar dan berkuasa. PDIP, Golkar, PKB, PPP, Nasdem dan hanura berhimpun mendukungnya. Sementara itu Prabowo hanya didukung Gerindra, PAN dan PKS. Memang saat ini Posisi Demokrat tidak netral, namun juga tidak terlalu memberi pengaruh signifikan terhadap pencapresan Prabowo. Posisi PPP sempalan dibawah humprey juga cuma senda gurau belaka.

Belum lagi, Jokowi punya tim
Buzzer, punya Jokower, punya PROJO, punya mantan jasmev, punya PSI, punya tim buzzer yang disebut-sebut digerakkan polisi di tiap Polda.

Sokongan dana ? Jokowi punya juga segalanya. Taipan China semua mendukung Jokowi, dari raksasa tambang, perkebunan, industri hingga raksasa property mendukung Jokowi. Sedang Prabowo ? Cuma disuplai beberapa pengusaha pribumi dengan besaran kocek tak seberapa.

Media ? Apalagi. Semua media mainstream, menjadi juru bicara Jokowi. Belum lagi, media buzzer yang dikonsolidasikan oleh Jokower dan PROJO di berbagai saluran non resmi menjadi duta dan konsul Jokowi.

Lembaga survey ? Apalagi ini. Semua menggemut itu gula yang memang ada di seputar Jokowi. Sulit untuk tidak mengatakan, semua lembaga survey ngalap berkah dari pencalonan Jokowi. Yang paling getol Deny JA, sampai tiap hari dia keluarkan meme untuk 'mengkampanyekan Jokowi'.

Adu program ? Jokowi punya segalanya, sebagai petahana dia juga memiliki dua Legacy. Program berjalan dan program yang direncanakan. Meski agak ngawur karena mengulang program kartu larutan. Sedang Prabowo ?

Kasarnya, baru bisa jualan program mimpi. Dan hal ini, lazim dialami semua calon yang melawan petahana. Petahana, selalu memiliki keunggulan komparatif sebagai penguasa yang memiliki akses pada Resources kekuasaan.

Lantas apa yang bisa memantik kekalahan Jokowi ? Adu program ? Adu uang ? Adu partai ? Adu media ? Atau ?

Perlu untuk dipahami bahwa kunci kemenangan itu ada pada suara umat Islam. Karena itu, jika ingin menumbangkan Jokowi para pejuang politik dan aktivis pergerakan perlu belajar dari kasus Ahok. Ahok kalah karena Ahok kafir.

Sementara apa yang bisa membuat Jokowi kalah ? Ya, Jokowi munafik. Tiga ciri munafik ada pada diri Jokowi. Jokowi dusta, ingkar dan khianat. Selain melekat tiga ciri munafik ini, Jokowi juga terkenal zalim, represif, anti Islam dan ulama.

Banyak kasus kriminalisasi terhadap ulama, habaib, simbol dan hingga ajaran Islam khilafah terjadi di era Jokowi. Di era Jokowi juga, banyak pelaku penista agama dibiarkan bebas bergentayangan. Ade Armando, Fictor laiskodat, abu janda, Cornelis, Busukma, adalah vigour penista agama yang melenggang bebas di era Jokowi.

Sementara Habib Rizq Syihab, Ust Alfian Tanjung, Jonru, Buni Yani, Gus Nur, Ahmad Dani, adalah tokoh yang dikriminalisasi rezim hanya karena berbeda preferensi politik. Sikap ini, menjadi bukti nyata adanya represifme dan kriminalisasi.

Karena itu, jika Ahok tumbang karena haram pemimpin kafir. Maka, Jokowi juga bisa tumbang karena haram pemimpin dusta, ingkar dan khianat. Haram pemimpin represif dan anti Islam.

Umat Islam wajib disadarkan bahwa Jokowi bukan sedang kampanye politik, tetapi sedang menebar dusta dan pengkhianatan. Jokowi dalam kampanye Pilpres kedua telah nyata menebarkan kebohong-an demi kebohongan.

Represifme dan anti Islam, adalah ciri khas kebijakan Jokowi yang mengkriminalisasi ulama, simbol bendera tauhid dan ajaran Islam khilafah. Haram bagi umat Islam memilih pemimpin zalim, pendusta, ingkar dan khianat.

Jadi Umat Islam ingin Jokowi tumbang ? Umat Islam wajib Gelorakan, haram pilih pemimpin bohong, haram pilih pemimpin ingkar, haram pilih pemimpin khianat, haram pilih pemimpin represif anti Islam dan ulama. [MO|ge]

Posting Komentar