Gambar: Ilustrasi
Oleh Tawati 
(Pemerhati Perempuan dan Generasi)

Mediaoposisi.com-Sejak Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam diutus untuk menyebarluaskan risalah Islam, para muslimah generasi awal telah terlibat secara aktif dalam pergerakan dakwah bersama kaum muslim lainnya. Mereka melakukan transformasi sosial. Mengubah masyarakat Jahiliah yang menjadi masyarakat mulia, yaitu masyarakat Islam. Mereka, bahkan secara bersama, merasakan pahit-getirnya mengemban misi dakwah.

Mereka melakukan perang pemikiran dan perjuangan politik di tengah-tengah masyarakat. Atas pertolongan Allah, akhirnya mereka berhasil membangun masyarakat Islam yang agung di Madinah. Itulah masyarakat yang tegak di atas landasan akidah dan hukum-hukum Islam yang menerapkan dan melaksanakan aturan Allah secara sempurna.

Demikian halnya pada masa Khulafaur-Rasyidin dan para khalifah sesudahnya. Peran kaum Muslimah dalam kehidupan, termasuk dalam percaturan politik tercatat, demikian besar. Mereka terlibat dalam aktivitas amar makruf nahi mungkar, muhâsabah (koreksi) terhadap penguasa, bahkan jihad. Istimewanya, pada saat yang sama, mereka pun mampu melaksanakan peran utamanya sebagai ummun wa rabbatul bayt (ibu dan pengelola rumah suaminya).

Mereka berhasil mencetak generasi terbaik. Generasi mujahid dan mujtahid. Generasi yang mampu membangun peradaban Islam yang tinggi, yang mengalahkan peradaban-peradaban lainnya di dunia dalam rentang waktu yang sangat panjang. Generasi demikian, lahir dari ibu-ibu yang paham Islam.

Ibu yang mengajarkan Islam kâffah kepada anak-anaknya. Ibu yang mengajarkan Islam sebagai ideologi yang melahirkan aturan-aturan Islam yang sempurna, yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Tak aneh jika umat Islam pada rentang tersebut betul-betul bisa tampil sebagai ‘khayru ummah’ atau umat terbaik.

Ini sesuai dengan janji Allah SWT di dalam surat Ali-Imran ayat 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik."

Pada masa Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam, para shahabiyah melakukan aktivitas politik dan perjuangan politik. Itu mereka lakukan tanpa meninggalkan peran strategis dan tugas utamanya sebagai ibu dan pengelola rumah suaminya. Mereka berjuang bersama-sama Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam dan shahabat lainnya. Tanpa memisahkan barisan mereka dari barisan Rasul dan sahabatnya.

Mereka berada dalam perjuangan menegakkan Islam di muka bumi ini. Mereka mendukung perjuangan beliau bersama suami dan anak-anak mereka.

Dalam Islam, perempuan diposisikan sebagai perhiasan berharga yang wajib dijaga dan dipelihara. Ini tidak berarti mengekang perempuan dalam wilayah tertentu. Islam memberi peran bagi perempuan dalam ranah domestik sekaligus publik. Dia adalah agen perubahan, penyangga peradaban mulia.

Sejarah mencatat nama-nama besar semisal Sayyidah Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha,Fathimah Az-Zahra radhiyallahu ‘anha, Aisyah binti Abubakar radhiyallahu ‘anha, Sumayyah radhiyallahu ‘anha, Fathimah binti al-Khaththab radhiyallahu ‘anha, Ummu Jamil binti al-Khaththab radhiyallahu ‘anha, Ummu Syarik radhiyallahu ‘anha, dan lain-lain.

Sejak bersentuhan dengan Islam, keseharian mereka hanya dipersembahkan demi kemuliaan
dan kejayaan Islam. Mereka bersungguh-sungguh mengerahkan segenap kemampuan dalam menjunjung tinggi syiar Islam. Membela agama Allah dengan ketulusan yang tidak diragukan. Mencintai Allah dan Rasulullah dengan kecintaan yang mendalam.

Semua itu mereka refleksikan dengan ketaatan pada risalah yang beliau bawa. Mereka bersabar dengan segala kesulitan hidup mereka. Mereka patuh dan menghargai suami dengan kepatuhan dan penghormatan yang patut diteladani. Mereka mendidik anak-anak dengan pendidikan yang baik.

Lahirlah para pahlawan sejati yang dijamin masuk surga. Mereka merelakan buah hati mereka terbunuh sebagai syahid membela agama-Nya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang terjun langsung dalam jihad fii sabilillah demi meraih mardhatillâh dan jannah-Nya.

Kini, sudah saatnya kaum Muslimah menyadari bahwa dia adalah penyangga peradaban Islam. Mereka memiliki tanggung jawab yang sama dengan laki-laki: melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakat menuju peradaban mulia dengan menegakkan Islam kâffah. Hanya dengan sistem Islamlah kita akan mampu meraih kemajuan Islam, yaitu sebagai umat terbaik, khayru ummah, di muka bumi ini. [MO/ms]

Posting Komentar