Oleh : Riyanti 
(Aktivis BMI Banten, Member Akademi Menulis Kreatif) 

Mediaoposisi.com-Siapa yang menginginkan Indonesia maju? Siapa yang menginginkan masyarakat Indonesia bangkit? Siapa yang tega melihat Indonesia semakin hari semakin terpuruk? Tentu jika pertanyaan ini di lontarkan ke khalayak ramai maka semua akan menjawab

"Saya ingin memajukan Indonesia", "saya ingin membangkitkan masyarakat Indonesia karena tak ingin melihat Indonesia terpuruk". Begitulah kira-kira jawabannya. Sebab kecintaan terhadap Indonesia telah terpatri dalam diri mereka.

Begitu pula dengan paslon presiden nomor 01 Jokowi -  Ma'ruf yang menggaungkan slogan "Indonesia Maju" yang merupakan sebuah wujud optimisme bukan sekedar slogan. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Ma'ruf di International Convention Center (24/02).

Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa kabar Indonesia hari ini benar-benar sedang dalam keadaan terpuruk. Terpuruk bukan hanya dari satu bidang tapi di segala bidang, diantaranya pendidikan, ekonomi, politik, hukum, kesehatan, Moral dan lain sebagainya.

Jika kita mengingat bahwa paslon nomor urut 01 sudah pernah memimpin negeri ini, bagaimana kinerja mereka selama memimpin? Apakah kesejahteraan dan kemajuan sudah dirasakan masyarakat Indonesia? Ternyata tidak. Janji manis ketika kampanye, Visi misi hebat ketika debat, tidak terealisasi bahkan banyak yang berkhianat. Tidak banyak prestasi yang membangkitkan masyarakat Indonesia. Yang ada hanya mencekik dengan kebijakan yang menyengsarakan.

Harga bahan pokok semakin hari semakin naik, harga BBM naik saat harga minyak dunia turun, Beras import ketika petani panen, pemuda krisis identitas ketika digaungkan "revolusi mental". Fakta ini bukan sebuah rahasia, tapi sudah jelas kita rasakan dan saksikan dengan mata kepala.

Untuk memajukan Indonesia ternyata bukan hanya mengganti siapa pemimpinnya, seberapa hebat Visi misinya. Tidakkah kita memperhatikan sudah berapa kali Indonesia ganti pemimpin. Apakah mereka orang-orang bodoh? Apakah Visi misi mereka jelek? Tentu tidak. Mereka adalah orang-orang yang berprestasi, Visi misi mereka visioner. Tapi kenapa tidak bisa memajukkan dan menyejahterakan masyarakat Indonesia?

Apa sebenarnya yang menjadikan Indonesia lemah, terpuruk, terbelakang?
Mari kita perhatikan firman Allah SWT :

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya penghidupan yang sempit, dan sungguh Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta" (Thaha: 124)

Penghidupan yang sempit diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang enggan berhukum dengan hukum Allah. Indonesia merupakan negara demokrasi yang memiliki pandangan bahwa yang berhak membuat hukum adalah "Rakyat" bukan Allah.

Sekulerisme faham yang memisahkan agama dari kehidupan menjadi faktor utama mengapa masyarakat Indonesia tidak maju, kenapa ummat Islam di seluruh penjuru alam semakin terpinggirkan. Sebab tidak diterapkannnya aturan Islam sebagian aturan kehidupan.

Lagi-lagi Allah memperingatkan untuk berhukum dengan hukum Allah, agar kesejahteraan dirasakan.

Penerapan aturan Islam dalam naungan Khilafah sudah pernah dirasakan selama 13 abad di 2/3 dunia. Apa yang mereka saat itu rasakan? Kesejahteraan.

Will Durant adalah seorang sejarahwan barat, ia mengatakan:

"Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka"

Di masa kepemimpinan khalifah Ummar bin Abdul Aziz tidak ada masyarakat miskin atau kelaparan sehingga masyarakat kala itu bingung kemana harus membayar zakat karena tidak ada fakir miskin atau mustahik zakat lainnya.

Akhirnya zakat tersebut dimasukkan ke kas Baitul mal, alhasil saat itu kas Baitul mal penuh sehingga bingung akan dipakai untuk apa. Akhirnya harta tersebut digunakan untuk menikahkan para pemuda yang hendak menikah.
Luar biasa bukan!

Ternyata kesejahteraan pada saat itu tidak hanya dirasakan oleh kaum muslim tapi juga orang-orang yang tidak memeluk Islam. Seorang mantan biarawati sekaligus penulis besar Karen Amstrong memuji kehidupan beragama dalam khilafah  "Under Islam, the Jews had Enjoyed a golden age in al-Andalus" tulis Karen Amstrong. (kiblatnet.com)

 Itu semua telah dijanjikan oleh Allah swt :
وما أرسلناك الا رحمة للعالمين
"Dan kami tidak mengutus Engkau (Muhammad) kecuali untuk memberikan rahmat (kesejahteraan) bagi seluruh alam". (Q. S. Al-Anbiya :107)

Maka satu-satunya solusi untuk memajukkan dan menyejahterakan Indonesia adalah dengan menerapkan syari'at Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah 'ala Minhajin Nubuwah.

Posting Komentar