oleh : Nita Nopiana,S.Pd., 
Penulis Antalogi

Mediaoposisi.com-95 tahun sudah perisai umat ,khusunya  perempuan telah hilang. Lihatlah bagaimana kondisi perempuan saat ini. Tak seorangpun bisa memungkiri jika kondisi kaum perempuan hari ini masih sangat memprihatinkan.

Berbagai persoalan terus membelit kehidupan mereka. Kemiskinan, kekerasan, diskriminasi dan ketidakadilan seolah tak bisa lepas dari potret kehidupan mereka. Dan ini terjadi merata di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Menurut data World Bank 2018, sebanyak 736 juta orang di seluruh dunia masih mengalami kemiskinan parah (pendapatan di bawah 1,9 dolar AS per hari), dan mayoritasnya adalah perempuan. Sementara di Indonesia, sebuah negeri kaya raya dan disebut jamrud katulistiwa, kemiskinanpun masih jadi PR besar.

Data resmi BPS di akhir 2018 menyebut ada 9,66 persen penduduk miskin di Indonesia, dengan standar garis kemiskinan yang sangat rendah dan tak manusiawi, yakni Rp. 401.220 per kapita per bulan. Dan ditengarai juga mayoritasnya adalah kaum perempuan.

Inilah yang menyebabkan kualitas hidup perempuan begitu rendah. Di Indonesia, jutaan perempuan di atas usia 15 tahun masih buta aksara karena sulitnya mengakses pendidikan. Jutaan perempuan pun rentan dengan penyakit yang identik dengan kemiskinan.

Kasus-kasus semacam TBC, gizi buruk, malaria, disentri dan kematian ibu saat melahirkan masih sangat tinggi.

Kemiskinan pun telah mendorong puluhan juta kaum perempuan Indonesia terjebak dalam dunia kerja yang tak ramah dan tak memihak perempuan. Sebagian diantara mereka hidup di kawasan-kawasan industri yang kumuh untuk menjadi roda pemutar mesin-mesin pabrik milik para kapitalis asing dengan upah yang dihargai murah.

Sebagiannya lagi bekerja di sektor-sektor informal yang tak menjanjikan kemudahan. Jutaan lainnya lagi berbondong-bondong menjadi buruh migran sekedar untuk menjual tenaga sebagai pembantu rumah tangga, bahkan di antaranya menjadi korban sindikat perdagangan perempuan.

Dampak kemiskinan lain yang dikukuhkan oleh merebaknya paham liberalisme dan hedonisme adalah terjebaknya kaum perempuan dalam bisnis kotor semacam pelacuran dan pornografi. Ini ditunjukkan dengan jumlah pelacur “legal” di lokalisasi dan pelacur “illegal” di jalanan yang kian hari kian bertambah.

Dan di antara mereka kebanyakan adalah gadis-gadis belia. Dampak lanjutannya bisa ditebak. Penyakit menular seksual termasuk HIV/Aids pun makin merebak. Bahkan, setidaknya ada tak sedikit ibu rumah tangga dan anak yang akhirnya terinfeksi virus hiv/aids dari suami-suami atau ayah mereka.

Inilah sebagian potret buram kaum perempuan di belahan dunia, khususnya di Indonesia, sebuah negeri besar dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Sungguh mengerikan.

Kapitalisme Merusak Perempuan
Siapa pun yang menggunakan akal sehatnya pasti akan percaya rusaknya sistem kapitalis-sekuler yang diterapkan saat ini. Penerapan sistem kapitalis-sekuler telah membawa seluruh manusia ke dalam kesengsaraan, termasuk perempuan.

Sistem ini memaksa perempuan bekerja untuk bisa hidup. Sistem ini tidak mewajibkan pada suami atau orangtua (ayah) memberikan nafkah kepadanya, sehingga perempuan menjadi sengsara. Akibatnya perempuan lalai kepada anak-anak dan keluarganya. Terlebih lagi, ketika perempuan bekerja di tengah-tengah masyarakat, mengalami pelecehan atas kehormatannya.

Hal-hal inilah yang kita saksikan di negeri-negeri barat, bahkan negeri-negeri Islam yang terpengaruh kapitalis barat. Semuanya berada dalam kondisi kehidupan yang buruk.

Sebagai contoh di Indonesia, perempuan terjun ke dunia kerja dan banyak dari perempuan telah menyibukkan dirinya (menenggalamkannya dalam kesibukan) sehingga dia tidak bisa menjaga tugas utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.

Demikian juga, laki-laki yang terpengaruh kapitalis telah berlepas tangan untuk menafkahi perempuan dan membantu kehidupan perempuan, sehingga perempuan terpaksa masuk ke dunia kerja.

Di Indonesia ada jutaan perempuan yang menjadi pekerja buruh industri, pertanian, dan sisanya masuk dalam sektor perdagangan. Perempuan eksis dalam karir sebagai tekhnisi, dokter, guru dan profesi lainnya, sebagaimana juga terdapat jutaan buruh migran yang pergi ke Malaysia, Negara teluk dan negeri Syam.

Mayoritas dari buruh migran ini tidak memperoleh hak-hak secara sempurna. Upah mereka umumnya lebih kecil dari laki-laki.

Mereka tidak mendapatkan layanan kesehatan yang memadai, khususnya ibu-ibu hamil dan menyusui. Apalagi didapati para buruh migran ini banyak yang buta huruf sehingga seringkali mendapatkan eksploitasi/penganiayaan, pelecehan seksual dan perlakuan yang tidak layak. Bahkan beberapa dari mereka disiksa dan dibunuh.

Dunia kerja telah memaksa perempuan melalaikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka, sehingga muncullah generasi yang menyimpang. Perempuan melalaikan kewajiban terhadap suaminya, sehingga terjadilah konflik dan perceraian.

Di Indonesia, angka perceraian itu melonjak tajam, terus meningkat. Begitu pun, banyak pemuda-pemudi Indonesia mengkonsumsi narkoba dan melakukan perzinahan. Akibatnya banyak perempuan yang hamil tidak mempunyai suami kemudian memilih aborsi sehingga jumlah aborsi selalu meningkat.

Seluruh fenomena diatas merupakan bagian yang juga terjadi di negera barat, dan kondisi ini dibawa oleh para pembebek tsaqofah barat ke negerinya.

Di negeri-negeri Islam banyak sekali program yang digencarkan dalam rangka target menghancurkan keluarga muslim, melalui penyebaran tsaqofah yang rusak kepada kalangan perempuan. Akhirnya anak-anak menjadi rusak, keluarga menjadi hancur sebagaiman hancurnya institusi-isntusi Islam lainnya.

Sistem kapitalis-demokrasi telah berbohong dalam undang-undang yang mengklaim menjaga hak-hak perempuan dan menyetarakan antara perempuan dan laki-laki. Padahal hal ini tidak pernah terjadi sampai sekarang di negera-negara barat.

Sebagai contoh, gaji perempuan hanya 75% dari gaji laki-laki, kekerasan terhadap perempuan semakin nyata dan meluas, banyak terjadi pembunuhan perempuan oleh suami, kerabat dan orang-orang disekitarnya.

Klaim pemikiran gender untuk memelihara hak-hak perempuan sebenarnya menunjukkan legalisasi laki-laki untuk meniadakan kewajiban menafkahi istrinya atau meniadakan kewajiban ayah atau saudara laki-laki untuk menfkahi anak/saudaranya perempuannya.

Khilafah Menjaga Kehormatan Perempuan
Perlindungan dan penjagaan kehormatan perempuan bahkan rakyat secara keseluruhan oleh Negara Khilafah telah banyak dibuktikan dalam sejarah pemerintahan Islam.

Dengan diterapkannya seluruh aturan Islam bagi seluruh rakyat khilafah, maka penjagaan kehormatan perempuan bahkan seluruh umat akan terjamin. Bukti bukti tentang tingginya tingkat kesejahteraan masyarakat di bawah naungan khilafahpun telah banyak dituliskan.

Perlindungan Khilafah terhadap kaum perempuan telah menorehkan tinta emas dalam sejarah yang tidak akan terlupakan sepanjang zaman.   Tidak dijumpai pada masa Khilafah berbagai tindak kekerasan dan pelecehan, apalagi kepada perempuan. 

Ketika  seorang Muslimah berbelanja di pasar Bani Qainuqa, seorang Yahudi mengikat ujung pakaiannya tanpa dia ketahui sehingga ketika berdiri aurat perempuan tersebut tersingkap diiringi derai tawa orang-orang Yahudi di sekitarnya.

Perempuan  tersebut berteriak. Kemudian salah seorang Sahabat datang menolong dan langsung membunuh pelakunya. Namun kemudian, orang-orang Yahudi mengeroyok dan membunuh Sahabat tersebut. Ketika berita ini sampai kepada Nabi Muhammad saw., beliau langsung mengumpulkan tentaranya. Pasukan Rasulullah saw. mengepung mereka dengan rapat selama 15 hari hingga akhirnya Bani Qainuqa menyerah karena ketakutan.

Selanjutnya apa yang terjadi pada masa Khalifah al-Mu’tashim Billah berkaitan dengan pembelaan Khilafah terhadap kehormatan perempuan. Ketika seorang perempuan menjerit di Negeri Amuria karena dianiaya dan dia memanggil nama Al-Mu’tashim, jeritannya didengar dan diperhatikan.

Dengan serta-merta Khalifah al-Mu’tashim mengirim surat untuk Raja Amuria “…Dari Al Mu’tashim Billah kepada Raja Amuria. Lepaskan wanita itu atau kamu akan berhadapan dengan pasukan yang kepalanya sudah di tempatmu sedang ekornya masih di negeriku. Mereka mencintai mati syahid seperti kalian menyukai khamar…!”

Singgasana Raja Amuria bergetar ketika membaca surat itu. Lalu perempuan itu pun segera dibebaskan. Kemudian Amuria ditaklukan oleh tentara kaum Muslim. Demikianlah sekelumit  sejarah kaum Muslim, yang menunjukkan betapa Islam yang mereka terapkan ketika itu benar-benar membawa keberkahan dan ketinggian kehormatan bagi semua.

Khilafah Islam benar-benar akan menjadi penjaga sekaligus pengatur dan pengurus setiap warga negaranya. Tentu saja, semua  ini tidak akan terwujud kecuali ketika Islam tegak dalam institusi yang menaunginya yaitu khilafah Islam.

Jelaslah, sangat berbeda kondisi umat yang menerapkan system kapitalis, perempuan dalam system kapitalis justru dibiarkan mengumbar auratnya, bahan eksploitasi bahkan harga diri mereka begitu murah.  Yang sesungguhnya justru menghinakan perempuan itu sendiri. 

Sedangkan, dalam Khilafah syariat Allah benar-benar akan berdaulat dan secara pasti rakyat akan berada dalam berkah-Nya.

Dalam sistem Khilafah, umat hidup dalam ketenangan dan rasa aman, karena khalifah akan memberikan perlindungan dan pertolongan kapan saja.  Kaum perempuan sebagaimana kaum laki-laki keduanya berada dalam kemuliaan dengan melaksanakan seluruh aturan Allah dan RasulNya.

Namun sayang hari ini, umat Islam tak memiliki negara yang bisa menerapkan hukum-hukum tersebut, setelah lebih dari 95 tahun yang lalu dihancurkan oleh musuh musuh Islam.

Posting Komentar