Oleh: Diah Nartiyah
Ibu Rumah Tangga Tinggal di Depok

Mediaoposisi.com-Khilafah Islam dengan izin Allah SWT pasti tegak kembali. Episode peradaban ini adalah sebuah fakta yang tumbuh dikonstruksi atas keyakinan dan keniscayaan perubahan peradaban. Dunia semakin renta, peradaban kapitalis, sekuler kian bobrok dan gagal dalam menata dunia setelah sosialis ambruk.

Semua ini meniscayakan Islam sebagai satu-satunya alternatif yang dapat menata dunia. Khilafah adalah janji Allah, setiap Muslim wajib meyakini kembalinya khilafah secara i’tiqad (keyakinan). Maka keimanan seseorang akan dipertanyakan jika ragu atau bahkan tidak percaya akan hal ini.

Seperti firman Allah pada surah An-Nuur ayat 24-25 yang artinya:

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh di antara kalian, bahwa dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa;

akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; juga akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan apapun dengan-Ku siapa saja yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu. Mereka itulah orang-orang fasik.”

Rasulullah  juga telah mengabarkan, dunia ini akan kembali pada masa kekhilafahan di atas manhaj kenabian setelah fase malkan jabriyyan (kekuasaan diktator) seperti pada saat ini,“Kemudian akan datang masa khilafah ala minhaj an-nubuwwah” (HR. Ahmad)

Sistem Pemerintahan Islam pernah eksis dan runtuh setelah Rasul wafat, kemudian dilanjutkan dengan sistem kekhilafahan. Sistem ini pernah mewarnai ¾ dunia selama lebih dari 1000 tahun mulai dari Khulafaur Rasyidin, Khilafah Bani Umayyah, Khilafah Bani Abbasiyah dan Khilafah Bani Utsmaniyah yang akhirnya runtuh  pada 3 Maret 1924.

Begitu juga rezim diktator, tidak begitu lama akhirnya juga akan tumbang. Realitas perputaran roda peradaban dunia di atas membuktikan bahwa perubahan adalah sesuatu yang biasa. Pergiliran hal tersebut adalah hal yang nyata.

Segalanya akan terus berproses dan terus berubah persoalan yang tepenting adalah menjadikan arah perubahan itu akhirnya adalah pada Islam karena Islam adalah satu-satunya alternaif pelanjut peradaban.

Tegaknya Khilafah Semakin Dekat
Tegaknya khilafah semakin dekat, ditandai semakin menguatnya kesadaran umat untuk bersatu. Puncak dan resminya kekuatan yang hakiki pada umat itu adalah dengan tegaknya khilafah Islamiyah. Tanpa khilafah persatuan umat adalah fatamorgana.

Umat semakin membutuhkan kekuatan global untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kaum muslim. Seperti persoalan di Palestina, Suriah dan Muslim di negeri Syam yang mereka diperangi dan ditindas, bahkan PBB tidak dapat menyelesaikan persoalan tersebut.

Hanya Islam yang dapat menyeleasaikan persoalan tersebut dengan cara memerangi, seperti pada firman Allah, “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan perantaraan tangan-tangan kalian, menghinakan mereka, menolong kalian atas mereka dan melegakan hati kaum muslim” (Qs At-Taubah: 14)

Fenomena saat ini adalah semakin lemahnya kepercayaan masyarakat dunia terhadap sistem kapitalis apalagi masyarakat Muslim sangat merasakan penderitaan atas penerapan sistem ini, masyarakat pun lebih mempercayai sistem Islamiyah.

Dapat kita lihat, persatuan Muslim Indonesia pada momen aksi 212 beberapa waktu yang lalu, dapat menjadi petunjuk umat Islam semakin bersatu, kita dapat menyaksikan lautan ar-rayyah dan al-liwa yang kini sudah tidak asing di mata masyarakat.

Umat memerlukan motor penggerak untuk menyempurnakan proyek besar persatuan. Umat memerlukan kelompok dakwah yang jelas, mulai dari aspek pemikiran maupun metode pelaksanaan (thariqah). 

Insya Allah kelompok yang siap dan saat ini melakukan itu dengan serius adalah Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir berdiri dalam rangka menyambut seruan Allah SWT. Allah berfirman dalam surah Ali-Imran ayat 104  yang artinya, “Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebaikan dan melakukan kebaikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Cara Khilafah Menghadapi Tantangan dari Musuhnya
Dengan melihat fenomena di atas, akhir-akhir ini para pemimpin negara Barat dan para peneliti mereka telah memberikan banyak peringatan bahwa kembalinya khilafah sudah demikian dekat. Berbagai survei yang mereka lakukan di negeri kaum Muslim semakin membuat mereka cemas. Rata-rata ¾ responden menyatakan persetujuannya atas penerapan aturan Islam.

Negara-negara yang dipimpin AS tentu tidak akan membiarkan khilafah tegak. Mereka akan berusaha mengaborsi khilafah sebelum ia lahir. Namun, dengan penuh keyakinan kepada Allah upaya mereka pastoi gagal. Khilafah yang akan datang pasti mampu menghadpi makar mereka. Khilafah bahkan mampu menjadikan tipu daya mereka menjadi wasilah kehancurannya.

Predikat umat Islam sebagai khairu ummah meniscayakan bahwa mereka tidak pernah rela berada dalam kemunduran dan hidup di bawah cengkeraman peradaban lain.

Pemikiran, adalah senjata paling kuat baik dalam kebangkitan suatu bangsa maupun dalam mempertahankan eksistensinya. Barat telah gagal mengubah keyakinan umat Islam atau setidaknya mengguncang loyalitas mereka pada agamanya, masyarakat Islam sadar bahwa sekularisme adalah sumber kerusakan. Tak ada kekuatan yang mampu menandingi sebuah gagasan  yang telah tiba masa kejayaannya.

Bangsa manapun yang terlibat perang dengan umat Islam tidak sepenuhnya menyadari sejauh mana keyakinan Islam yaitu kekuatan pemikirannya mampu mengalahkan berbagai kekuatan fisik. Oleh karena itu, mereka senantiasa mengandalkan peningkatan kekuatan fisik mereka untuk mengalahkan Muslim.

Padahal bagaimanapun peningkatan kekuatan fisik itu dilakukan, takkan mampu menandingi kekuatan umat Islam selama mereka mengimani Islam dan mengemban pemikiran-pemikirannya.

Dunia Islam memiliki negara-negara yang berkekuatan militer besar seperti Turki dan Pakistan. Sifat tentara adalah patuh terhadap pimpinan. Jika para pengemban dakwah berhasil menyisihkan para pewira agen penjajah dalam tubuh militer dan mampu menarik para pewira yang tulus, tentu akan lebih mudah mengubah para pasukan dari pada mengubah orang biasa.

Kaum Muslim di berbagai negeri Islam saat ini berusaha lepas dari kejahatan penguasa dan rezim mereka. Umat saat ini sadar bahwa kekuatan mereka ada pada kesatuan mereka.

Saat rezim-rezim antek penjajah itu jatuh dan daulah Islam itu tegak tak mungkin umat rela untuk kembali berada dalam cengkeraman penjajah. Saat itulah, penjajah kehilangan tumpuannya, belum lagi penyebaran dunia Islam yang cukup luas tak mudah bagi Barat melakukan peperangan yang cepat dan luas meliputi seluruh wilayah.

Ada yang mengatakan, “rakyat tidak bergerak kecuali bila mereka digerakan.” Saat khilafah berdiri, tentu khilafah akan berpacu dengan waktu untuk menggunakan seluruh media yang sebelumnya dikuasai kekuatan penjajah untuk menggerakan seluruh rakyat. Saat itulah kekuatan umat benar-benar hadir kembali.

Untuk menghadapi serangan AS dan sekutunya tentu tak cukup dengan tentara reguler saja, melainkan seluruh komponen umat bangsa harus terlibat hal tersebut meniscayakan khalifah untuk melakukan hal berikut: Pertama, memanggil seluruh umat Islam yang mampu mengangkat senjata untuk berlatih perang, menguatkan keimanan, kesabaran dan pengorbanan mereka, meyadarkan bahwa mati syahid adalah kemuliaan bagi mereka.

Kedua, distribusi senjada kepada setiap Muslim yang telah dilatih dan membuat mereka dalam kelompok-kelompok pasukan dengan satu kepemimpinan. Ketiga, meningkatkan kemampuan pasukan reguler, terutama menyangkut kekuatan pemikiran dan keimanam, agar nafsiyah mereka benar-benar matang.

Keempat, menghimpun kekuatan umat yang berada di luar kekhilafahan. Kelima, menyiapkan kelompok khusus yang disebar di seluruh dunia Islam untuk melakukan lobi yang tepat untuk mendukung khilafah.

Menegakkan Khilafah
Banyaknya kelompok Islam dan mazhab yang berbeda bukan penghalang tegaknya khilafah. Justru sebaliknya karena perbedaan tersebut bisa saling melengkapi dan mengisi.

Yang penting masing-masing kelompok Islam dan mazhab yang berbeda memiliki kesadaran yang sama tentang wajibnya mengembalikan khilafah. Ini semua dibuktikan dalam sejarah Islam pada masa lalu. Semua mazhab dalam Islam sepakat menegakkan dan menjaga khilafah hukumnya wajib. Mereka semua bahu-membahu untuk menegakkan dan menjaganya.

Para ulama tentu wajib berjuang untuk menegakkan khilafah di garda terdepan bukan semata-mata karena khilafah wajib diperjuangkan tetapi khilafah jugalah yang akan menjadikan ilmu mereka menjadi bermanfaat dan bisa diterapkan dalam kehidupan. Sebab hanya khilafah yang bisa memastikan, Islam secara kaffah yang selama ini diajarkan di madrasah pesantren dan masjid itu bisa diwujudkan.

Dengan kembalinya khilafah dan diterapkannya ilmu yang diajarkan itu artinya, mereka akan mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat sebab pahala ilmu mereka akan terus mengalir meski mereka telah meninggalkan dunia yang fana ini tak hanya itu mereka pun didoakan oleh para malaikat seluruh penghuni langit, bumi bahkan ikan di laut pun memanjatkan doa untuk mereka.

Mereka dipuji oleh nabi bahkan dianugerahi kebaikan melebihi dunia dan seisinya. Ini bukan hanya berlaku bagi ulama, tetapi siapapun yang memperjuangkan kewajiban ini, termasuk umat.

Maka, peran penting kelompok dakwah Hizbut Tahrir menjadi kelompok Islam yang serius memperjuangkan khilafah. 

Karena Hizbut Tahrir telah berhasil mendiagnosis problematika Islam saat ini, sekaligus telah mengetahui dan memiliki solusi yang dibutuhkan, kemudian bersungguh-sungguh mendidik dan menyiapkan mereka untuk menjadi umat terbaik.[]

Posting Komentar