Oleh : Dini Azra 

Mediaoposisi.com- Gelaran Pilpres 2019 semakin dekat. Persaingan antara dua kubu paslon juga semakin ketat. Beragam isu panas bergulir, dari para pendukung yang saling sindir hingga polemik istilah kafir. Dan di pusaran pilpres kali ini, ada satu isu yang terus dimainkan.

Yaitu tentang radikalisme, Islam garis keras, yang dituduh anti Pancasila dan NKRI. Salah satunya mengarah kepada satu ormas yang konon telah dibubarkan pemerintah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Karena kelompok dakwah ini selalu menyerukan penerapan syariah Islam secara kaffah, dan mengusung ide Khilafah. Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan M. Romahurmuziy atau biasa dipanggil Romy , mencoba menggoreng isu ini.

Dia menuding, bahwa kelompok yang menginginkan Khilafah dan mengubah Pancasila saat ini berkumpul di kubu 02 Prabowo-Sandi.

Diantara kelompok tersebut adalah HTI. Menurut Romy, HTI dibubarkan karena ingin mendirikan Khilafah, tidak mengakui Pancasila dan NKRI. Sebab itulah, sekarang mereka mendukung Prabowo untuk menang.  Dengan kemenangan Prabowo, HTI berharap bisa mengembangkan paham Khilafahnya lagi dan paham intoleran lainnya.

“Bagi HTI tidak ada pilihan lain kecuali mendukung Paslon 02. Sebab jika Jokowi terpilih lagi HTI sudah pasti tidak bisa lagi berkembang di Indonesia karena memang sudah dilarang,” kata Romahurmuziy saat bertemu dengan pengurus PCNU Sukabumi, Jawa Barat Selasa (5/3) malam, sebagaimana keterangan tertulis yang dikirim ke media. (/7/3/2019)

Masih menurut Romy, sejumlah kelompok Islam garis keras telah membangun narasi bahwa Prabowo adalah pembela Islam, walau faktanya bertolak belakang. Sehingga kelompok-kelompok itu termasuk HTI sudah tak perduli keIslaman Prabowo ataupun Sandiaga Uno.

Namun, semua pernyataan Romy ini hanya berdasarkan asumsi dan tidak berdasarkan bukti yang pasti. Hanya dari potongan video atau penggalan berita yang dia simpulkan sendiri.

Bahkan tokoh PPP Khittah DIY Syukri Fadholi, mengatakan bahwa apa yang dikatakan Romy itu ngawur, tak bisa dipercaya. Syukri sebagai salah satu pencetus PPP Khittah atau PPP yang tidak mengakui DPP PPP pimpinan Romy, menilai Romy sebagai penjual akidah dan moral demi jabatan dan kekuasaan. Karena dialah yang membawa PPP menjadi kehilangan perjuangannya.

Selama ini, Syukri tak melihat HTI sebagai kekuatan yang dilindungi di kubu Prabowo - Sandiaga. “Kalau mereka (eks HTI) berafiliasi mendukung Prabowo - Sandi ya itu silakan saja.” Namun itu bukan berarti Prabowo melindungi HTI.

Ia memastikan pernyataan Romy soal HTI di kubu Prabowo tidak berdasar, ngawur, dan fitnah. Begitu yang disampaikan Syukri di sela-sela deklarasi pemilu damai Laskar Harokah Islamiyah di Yogyakarta, Rabu 6 Maret 2019. (/7/3/2019)

Apa yang disampaikan Romy itu merupakan upaya untuk membantah stigma negatif yang selama ini terarah pada rezim Jokowi yang disebut rezim anti Islam.

Sekaligus untuk memberikan anggapan buruk, terhadap kubu lawannya yaitu Prabowo.Berusaha menggiring opini publik bahwa pendukung Prabowo adalah kelompok Islam garis keras dan radikal.

Padahal masyarakat pasti tahu siapa saja tokoh-tokoh Ulama yang tergabung dalam ijtima' ulama, yang mengusung Prabowo sebagai capres. Mereka adalah para Ulama yang mempelopori gerakan 212, yang jelas bukti cintanya terhadap Islam.

Apakah Prabowo sendiri adalah sosok yang akan membela Islam, hal itu baru bisa dibuktikan nanti setelah dia terpilih menjadi Presiden. Ulama hanya berikhtiar mencari calon pemimpin yang lebih baik dari rezim sekarang.

Bersamaan dengan itu Romi seakan menjadikan HTI sebagai kambing hitam. Padahal tidak ada bukti, atas dukungan HTI terhadap Prabowo. Seandainya benar, bukankah itu merupakan hak para simpatisan HTI sebagai warga negara? Masalahnya adalah apa yang didakwahkan HTI selama ini, yaitu tentang ide Khilafah.

Romy dan juga rezim Jokowi selama ini selalu membangun narasi untuk mengkrimalisasi dan memonsterisasi gagasan Khilafah. Padahal jelas bahwa Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam. Membenci Khilafah sama saja membenci ajaran Islam.

Mendakwahkan Khilafah adalah kewajiban, sebagai bagian dari keimanan, dan perjuangan menyambut kabar gembira, yang telah dijanjikan Allah dan Rasul Nya.

Allah Subhanahu wa ta'ala telah menjanjikan kemenangan akan kembali kepada Umat Islam. Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam juga telah mengabarkan tegaknya Khilafah sebagai babak terakhir dari perjalanan umat Islam.

Beliau bersabda :
" Kemudian akan datang masa Khilafah 'ala minhaj an-nubuwah.."(HR. Ahmad)
Khilafah juga merupakan mahkota kewajiban bagi umat Islam.

Sebab tanpa adanya Khilafah, sejak Khilafah Utsmani Turki diruntuhkan 95 tahun silam, sebagian besar syariat Islam di bidang Muamalat menjadi terabaikan. Seperti bidang ekonomi, politik, pendidikan, hukum/ peradilan, politik luar negeri, dsb yang saat ini justru mengadopsi dari sistem kapitalis barat.

Selain tidak sesuai dengan syariat, terbukti tidak membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi umat.

Menuduh Khilafah sebagai paham intoleran bahkan hanya mitos dan utopis, menjadi tindakan ahistoris, melupakan sejarah. Bahkan membohongi publik yang masih awam tentang Khilafah. Sebab sejarah dunia sendiri tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang kegemilangan Khilafah.

Kemajuan tehnologi saat inipun, merupakan bagian dari sumbangsih para ilmuwan muslim di era kejayaan Khilafah. Dan sejarah juga mencatat betapa Khilafah, selain melindungi kaum kafir dibawah naungannya. Tapi juga perduli terhadap bangsa lain selain Muslim.

Misalnya, Mary McAleese, Presiden ke-8 Irlandia (1997-2011) telah memuji kepedulian Khilafah saat itu. Dalam pernyataan persnya yang dilansir di laman irishcentral.com, ia memuji bantuan Khilafah Turki Utsmani ke negaranya pada tahun 1847.

Ketika Irlandia terkena musibah kelaparan hebat yang dikenal dengan peristiwa the great famine, yang telah menyebabkan sekitar 1 juta penduduknya meninggal dunia. Dia berkata,

" Sultan Ottoman (Khalifah Utsmani) mengirimkan tiga buah kapal, yang penuh dengan bahan makanan. Melalui pelabuhan-pelabuhan Irlandia di Drogheda. Bangsa Irlandia tidak pernah melupakan inisiatif kemurahan hati ini."

Sebagai kewajiban, perjuangan menegakkan Khilafah tentu bukan hanya milik HTI, tapi merupakan tugas seluruh umat Islam. Sekaligus upaya membebaskan umat Islam dari segala bentuk penjajahan.

Jika merasa belum mampu menjadi bagian dari perjuangan ini, setidaknya janganlah menjadi duri yang menghalangi. Sebagaimana orang-orang kafir yang akan selalu berusaha menghadang kebangkitan umat Islam. Mereka juga bersusah payah mencegah kembalinya Khilafah, padahal mereka juga meyakininya. Apakah engkau rela menjadi penolong mereka?

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman : Sungguh orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, mereka akan dikalahkan, dan kepada Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan." (QS.Al-Anfal[8]: 36).

Posting Komentar