Oleh: Arin RM, S.Si
(Freelance Author, Pegiat TSC)

Mediaoposisi.com-Kata Khilafah, seakan menjadi momok untuk sebagian orang. Apalagi di tengah-tengah isu kebangkitan gerakan umat Islam.

Kebangkitan gerakan Islam ini melahirkan orang-orang mulai cinta kajian Islam. Mereka menjadi paham Islam dan mulai menerima konsep Khilafah sebagai kepemimpinan seluruh kaum muslim di dunia.

Landingnya isu terkait khilafah adalah izin Allah. Atas kehendakNya semata perkara yang dahulu asing kini menjadi perbincangan banyak orang.

Memang tidak semuanya sepakat dan menerima konsep. Mereka biasanya cenderung menilai khilafah sebagai perkara negatif, sebab banyak yang mengaitkan khilafah dengan kekerasan dan menuliskan sisi buruknya.

Akan tetapi, di sisi lain masih banyak juga yang menerimanya dan mengakuinya sebagai bagian dari ajaran Islam. Mereka berasal dari berbagai level masyarakat.

Mereka biasanya berasal dari orang yang mau tau, kemudian cenderung objektif menilai berbagai sumber. Dari mereka inilah suatu saat ide khilafah akan semakin membesar dan meluas seiring dakwah yang tidak pernah putus.

Istilah khilafah sejatinya berkaitan dengan kepemimpinan.  Al-Khalil bin Ahmad (w. 170 H) mengungkapkan: fulân[un] yakhlufu fulân[an] fî ‘iyâlihi bi khilâfat[in] hasanat[in]; yang menggambarkan estafeta kepemimpinan. Hal senada diungkapkan oleh al-Qalqasyandi (w. 821 H).

Salah satu contohnya dalam QS al-A’raf [7]: 142. Al-Qalqasyandi menegaskan bahwa Khilafah secara ’urf lantas disebut untuk kepemimpinan agung, memperkuat makna syar’i-nya yang menggambarkan kepemimpinan umum atas umat, menegakkan berbagai urusan dan kebutuhannya.

Kepemimpinan yang dimaksudkan adalah menjadi pengganti kenabian dalam memelihara urusan agama ini, dan mengatur urusan dunia dengannya (Imam al-Mawardi (w. 450 H), Imam al-Haramain al-Juwaini (w. 478 H) dan para ulama lainnya).

Dengan kata lain, kepemimpinan dengan ruh Islam ini menjadi menjadi ciri khas mulia. Inilah yang diungkapkan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani.

Beliau menjelaskan makna syar’i Khilafah yang digali dari nas-nas syar’i, bahwa Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Hadirnya kepemimpinan Islam yang membangkitkan muslim seluruh dunia inilah yang agaknya ditakuti penghamba kapitalisme sekular. Ketakutan lantaran eksistensinya akan disudahi dengan keadilan Islam.

Ketika sebagian kalangan orang karena jeratan sekulerisme dan liberalisme meragukan khilafah, ternyata orang-orang Barat justru begitu yakin akan berdirinya khilafah dalam waktu dekat.

Bahkan Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (National Inteligent Council/NIC) pada Desember 2004 telah merilis laporan dalam bentuk dokumen yang berjudul Mapping The Global Future.

Dokumen ini berisikan prediksi atau ramalan tentang masa depan dunia tahun 2020 yang salah satu poinnya berisi kebangkitan kembali khilafah Islam, yakni pemerintahan global Islam yang bakal mampu melawan dan menjadi tantangan nilai-nilai Barat.

Karena itu Barat terus menghadang tegaknya khilafah dengan berbagai cara. Langkah awalnya adalah dengan memecah-belah umat Islam. Pada tahun 2003 Rand Corporation, mengeluarkan sebuah Kajian teknis yang berjudul, “Civil Democratic Islam.” Secara terbuka, Rand Corp membagi umat Islam menjadi empat kelompok Muslim: Fundamentalis, Tradisionalis, Modernis dan Sekularis.

Selanjutnya dilakukan  politik belah bambu; mendukung satu pihak dan menjatuhkan pihak lain serta membenturkan antarkelompok.

Langkah penghadangan selanjutnya adalah dengan monsterisasi atau demonologi Khilafah. Mereka memberikan label khilafah sebagai ajaran berbahaya.

Tujuannya jelas, yakni agar khilafah dipandang sebagai ancaman yang sangat menakutkan, dan karenanya ia harus dimusuhi, dijauhi, dan bahkan dibasmi. Padahal ajaran Islam itu tidak ada yang berbahaya, justru Islam adalah ajaran yang akan menebarkan rahmat bagi alam semesta.

Tentu saja, sebagai bagian dari ajaran Islam, kewajiban khilafah didasarkan pada sejumlah dalil syariah. Sebagaimana dimaklumi, jumhur ulama, khususnya ulama Aswaja, menyepakati empat dalil syariah yakni: (1) Al-Quran; (2) As-Sunnah; (3) Ijmak Sahabat; (4) Qiyas Syar’iyyah.

Kembalinya khilafah ini telah dijanjikan Allah dan dikabarkan dalam oleh Nabi, salah satunya adalah hadits riwayat Imam Ahmad yang mengabarkan akan kembalinya kekhilafan kedua mengikuti jalan kenabian.

Oleh karenanya penghadangan kebangkitan khilafah sebenarnya memposisikan diri berhadapan dengan janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah.

Berdasarkan pengalaman umat terdahulu, sepertinya tidak ada yang berhasil memenangkan pertarungan-pertarungan yang melawan ketetapan Allah. Dari sinilah maka pihak pengusung kebangkitan harus PD di jalannya.

Perlu untuk terus melangkah berpacu dengan waktu dalam rangka meninggikan ajaran Islam. Terlebih umat Islam juga semakin menunjukkan dukungan kepada Islam secara terbuka. Semakin hari semakin membesar.[MO/ad]

Posting Komentar