Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Iya, rindu itu berat. Apalagi jika dipendam. Menahannya dalam dada, tidak menyelesaikan persoalan. Mengungkapkan, meski tidak langsung menyelesaikan masalah tapi sedikit bisa mengurangi beban.

Rindu yang berat itu, pada pemimpin yang jujur, berintegritas dan profesional. Bukan pada Jaenudin Ngachiro, yang hidupnya karib dengan dusta, ingkar dan pengkhianatan.

Karena itu, ungkapkan saja. Pecahkan saja kacanya, biar gaduh. Buang saja semua janji manisnya, biar terus berpeluh dalam perjuangan lebih mulia ketimbang berada pada senyum kedustaan.

Ingatlah, sosok itu tak setia. Ia, pengkhianat, kepada teman, mitra koalisi, bahkan kepada segenap bangsa dan negara. Bohong ganti untunglah. Bohong tidak ada kebakaran hutan lah. Bohong data Import lah. Kamu Ga mungkin banget kan, memendam rindu pada pembual seperti ini ?

Iya, aku tahu kamu cinta, aku juga cinta, kepada siapa ? Kepada bangsa dan negara ini. Tidak mungkin kita rela, cinta kita dikotori oleh noda noda dari dusta dan pengkhianatan Jaenudin Ngachiro.

Karena itu, jika cintamu tulus, cintamu sejati, cintamu sebagaimana seorang lelaki yang menemui wali untuk melamar anak gadisnya. Bukan cinta kotor dibungkus cokelat di bulan Februari, dan mengunduh dosa zina karena cinta dusta.

Cinta yang tulus itu, yang sejati itu, harus membawamu seperti diriku. Menyampaikan sumpah serapah kepada rezim yang mengotori cinta kita, rezim represif dan anti Islam, dibawah kendali Jaenudin Ngachiro.

Aku Ga kuat, aku juga Ga mau menanggung beban sendirian. Beban kerinduan pada keadilan itu berat, aku tak mau menanggung sendiri. Aku pasti tak akan kuat. Karena itu, menepilah dan menghampiriku, papah lah diriku dengan separuh Nafasku, untuk meneriakkan kata 'tumbangkan rezim Ngachiro'.

Ah, kata itu lebih romantis, ketimbang untaian syair dan sajak cinta yang selama ini kugubah untukmu, untuk hubungan kita yang sudah terjalin sekian lama. Aku ingin memahat kasih, diatas kesucian ikrar antara aku dan dirimu, yang bersama-sama mengikrar akad 'tumbangkan rezim pembohong, ingkar dan khianat'.

Ah cinta, bimbing lah diriku untuk mengikrar sumpah serapah, menampar muka rezim tiran dan bohong ini. Cinta, bawa daku bersamamu juga bersama segenap umat, untuk mencincaang kekuasaan yang sombong dan penuh kemunafikan.

Ah cinta, sampaikan tali cinta, agar kita saling bertaut, untuk terus mendobrak tirani kuasa diatas bangkai penderitaan umat. Cinta, atas nama cinta, atas nama kerinduan, atas nama kasih yang dalam, aku ingin ucapkan Padamu 'sungguh aku mencintaimu, dan aku tak ingin ada Jaenudin Ngachiro menjadi tirai diantara kasih kita yang suci'. [MO|ge]

Posting Komentar