Nurul Fadhilah Fakaubun
(Aktivis Mahasiswi Malang Raya)
Mediaoposisi.com-Kata “Kafir” menjadi viral ditengah-tengah masyarakat Indonesia, setelah kegiatan Munas NU dilangsungkan, maka kata “Kafir” menjadi naik daun akhir-akhir ini. Kafir sendiri ialah sebuah istilah didalam islam yang mana secara makna syar’i ialah seseorang yang tidak memeluk islam dan tidak percaya akan adanya Allah serta hari akhir. Inilah makna kafir secara Syar’i. Namun, kata kafir  yang telah secara jelas diberikan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang menutup diri dari-Nya, masih diperbincangkan ditengah-tengah masyarakat pun juga ditengah-tengah umat Muslim sendiri.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berencana mensosialisasikan usulan penghapusan sebutan kafir ke nonmuslim Indonesia. Ketua PBNU Robikin Emhas mengatakan sosialisasi ini akan dilakukan kepada pihak-pihak terkait.
Menurut Robikin, sosialisasi atas usulan ini memang selalu dilakukan oleh NU. Hal ini biasa dilaksanakan usai adanya usulan atau keputusan dalam kegiatan NU yang berskala nasional. “Seperti lazimnya, seusai menggelar kegiatan berskala nasional seperti Muktamar atau Munas Alim Ulama dan Konbes NU misalnya, NU selalu melakukan sosialisasi hasil-hasilnya,” katanya.
Usulan penghapusan sebutan kafir ke nonmuslim Indonesia tercetus dalam sidang komisi bahtsul masail maudluiyyah Musyawarah Nasional Alim Ulama NU. Sidang itu mengusulkan agar NU tidak menggunakan sebutan kafir untuk warga negara Indonesia yang tidak memeluk agama Islam.(TEMPO.CO)
Dalam sosialisasi yang diselenggarakan ini ialah menghimbau dan mengajak untuk tidak mamanggil orang non-muslim dengan sebutan kafir dengan alasan akan menyakiti hati para non-muslim yang berada di Indonesia.
Hal yang sungguh mengherankan bagi umat islam, mengapa tidak? Keputusan dan sosialisasi semacam ini diselenggarakan dan didiskusikan oleh sebagian kaum muslimin sendiri, yang mana sangat dikatahui olehnya bahwa predikat kafir ialah memang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang ingkar terhadapnya.
Inilah bukti bahwa semakin gencar upaya-upaya yang dilakukan untuk dapat merusak Islam, bisa dilihat bagaimana seorang muslim meragukan sendiri apa yang telah diberikan oleh Allah kepada-Nya, temasuk dalam kata “Kafir” yang ada dalam Al-Qur’an, yang diketahui Al-Qur’an ialah firman-firman yangh datang dari Allah SWT.
Selain itu, dengan adanya pembahasan terkait dengan kata “Kafir” oleh sebagian umat muslim malah semakin terlihat bahwa umat muslim sendiri telah takut dengan kata “Kafir” yang artinya mereka mendukung bahwa islam adalah agama yang radikal dan kejam.
Upaya-upaya untuk merusak islam baik dari dalam dan luar selalu terlihat, juga upaya untuk memberikan frame  buruk terhadap Islam pun semakin masif, hal ini semakin terbukti dengan adanya gambaran-gambaran jelek terhadap islam seperti yang terjadi dengan kata “kafir” yang sedang dibahas diberbagai kalangan masyarakat.
Hal-hal seperti ini akan terus terjadi bahkan mungkin bisa lebih buruk lagi karena orang-oarang yang membenci islam tidak akan pernah ridho ketika melihat kaum muslimin itu bangkit, sebagaimana firman Allah SWT:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Oleh karena itu, upaya-upaya untuk selalu merusak islam pasti akan selalu ada, apalagi didukung dengan adanya sekulariseme, yang benar-benar memisahkan kehidupan dunia dengan agama, sehingga tidak boleh untuk menjadikan agama sebagai dasar dalam melakukan segala aktivitas yang berbau dunia.

Padahal ini sangat berbeda dengan konsep islam. Agama islam ialah agama yang komprehensif yang mengatur segala bentuk aktivitas manusia, baik dimanapun dan kapan pun. Bukan hanya sekedar aktivitas ruhani saja yang diatur dalam islam, bahkan aktivitas ekonomi, pergaulan, bahkan politik sekalipun ada dalam islam.

Oleh karena itu, untuk dapat menjaga islam dari serangan-serangan sekularisme atau yang lain-lainnya, membutuhkan dengan kekuatan yang besar yang mana semua hal itu ada pada Islam yang hanya dapat terterapkan dengan adanya Daulah Islamiyyah dalam naungan Khilafah ala minhaj an-nubuwwah. Sebagai mana yang dikatakan oleh  Imam Al-Ghazali:
لملك والدين توأَمان فالدين أَصل والسلطان حارس وما لا أَصل له فمهدوم وما لا حارس له فضائع
Negara dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh, dan dasar tanpa penjaganya akan hilang” (Imam Al-Ghazali).

Wallhu ‘alam bi as-showab [MO/AS] 

Posting Komentar