Oleh : Punky Purboyowati S. S

Mediaoposisi.com-Tak henti-hentinya propaganda tentang khilafah terus di dengungkan bahkan menjelang pilpres 2019. Tak terkecuali seorang politisi. Sebut saja M Romahurmuzy Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), ia menuding bahwa kelompok yang menginginkan khilafah dan mengubah Pancasila saat ini berkumpul semua di kubu paslon nomor urut 02, Prabowo-Sandiaga.

Diantara kelompok tersebut adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebuah organisasi yang dilarang di Indonesia. (/7/319).

Mengenai tudingan bahwa HTI berada dikelompok kubu Prabowo-Sandiaga merupakan salah satu dari sekian banyak tudingan yang dilontarkan oleh pihak anti Khilafah. Bila dicermati, hal ini berkaitan dengan masalah 'ideologi'  yang memunculkan kebencian kelompok / seseorang terhadap dakwah Islam yang dibawa HTI yaitu Khilafah.

Kondisi disaat menjelang pesta demokrasi pada pilpres 2019, memungkinkan seseorang untuk memberi stigma negatif kepada siapapun yang menurutnya dapat mengganggu kepentingannya. Stigma negatif itu terutama ditujukan kepada HTI. Namun tudingan tersebut tidaklah berdasar sama sekali. Sebab, tudingan itu tidaklah tepat apalagi tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

Dalam sejarah perjuangannya sejak tahun 1953, Hizbut Tahrir (HT) sangat jelas dan gamblang terkait dengan pemahamannya dalam memilih pemimpin negara. HT lebih memilih kriteria pemimpin yang sesuai dengan Syariat Islam.

Sekalipun banyak tuduhan miring terkait memilih pemimpin negara, HT sudah berada di pihak yang tepat. Sebab tidak mudah memilih seorang pemimpin apalagi dalam sistem demokrasi. Maka perlu mengkajinya lebih mendalam lagi tidak asal memilih meskipun capres tersebut dari orang Islam.

Berbicara masalah memilih pemimpin pada pilpres 2019, atas nama kepentingan kelompok tertentu lalu kata Khilafah dimonsterisasi. Tujuannya tidak lain membuat takut / phobi dengan istilah Khilafah.

Istilah 'Khilafah' dijadikan 'jualan basi' dalam sistem Demokrasi lalu dimunculkan kembali ke permukaan. Padahal Khilafah sudah dahulu ditegakkan sebelum lahirnya Demokrasi. Karenanya sungguh aneh bila kemudian dimonsterisasi.

PPP yang penganutnya lebih banyak dari kalangan politisi Islam ini sudah mestinya introspeksi diri. Sebagai politisi muslim sudah menjadi keharusan untuk menyampaikan kebenaran seluruh ajaran Islam termasuk Khilafah. Tidak mengkriminalkan ajaran Islam dan tidak menghinakan pendakwahnya. Sebab, hal ini akan berdampak negatif pada masyarakat yang belum mengenal lebih jauh tentang apa itu Khilafah.

Makna Khilafah sesungguhnya bukanlah istilah asing dalam khasanah keilmuwan Islam. Menurut Dr. Mahmud al-Khalidi (1983), “Khilafah adalah kepemimpinan umum atas seluruh kaum Muslim di dunia untuk menerapkan syariah dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.” (Al-Khalidi, Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, hlm. 226).

Salah satu dalil tentang Khilafah dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً…

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sungguh Aku akan menjadikan di muka bumi khalifah…” (TQS al-Baqarah [2]: 30.

Demikianlah, Islam telah menerangkan dengan jelas definisi Khilafah. Upaya memonsterisasi Khilafah kepada umat merupakan hal yang sia-sia. Sebab tudingan yang tidak berdasar akan membawa pada fitnah yang lebih besar. Terlebih mengundang adzab Allah SWT.

Khilafah sesungguhnya tidak seperti apa yang gagal dipahami oleh segelintir orang. Justru dengan Khilafah, berbagai persoalan multidimensi yang dihadapi kaum muslimin saat ini dapat teratasi. Apalagi upaya yang dilakukan penjajah kafir tak henti-hentinya menduduki wilayah negeri muslim di seluruh penjuru justru semakin melanggengkan sistem Demokrasi. Hingga saat ini penjajah kafir terus memaksakan hegemoninya di negeri kaum muslimin tak terkecuali Indonesia.

Karena itulah HTI mengajak seluruh umat Islam untuk menggaungkan Khilafah sebagai kepemimpinan kaum muslimin yang satu dan mengajak seluruh umat Islam bersama-sama kembali memperjuangkannya sesuai dengan metode dakwah Nabi Muhammad saw. Niscaya para kelompok / seseorang yang benci terhadap Khilafah, perlahan akan sirna dan kembali pada tujuan yang sebenarnya.

Posting Komentar