Oleh: Chusnatul Jannah
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Mediaoposisi.com-Isu Khilafah nampaknya masih menjadi senjata untuk menakut-nakuti penantang petahana dalam memenangkan suara rakyat.

Hal ini diperkuat dengan beredarnya video viral seorang tokoh agama yang mengatakan jika Prabowo terpilih, maka NU hanya akan menjadi fosil. Hari santri akan dihapus, tahlilan dan dzikir di istana akan dilarang.

Kalimat itu terlontar karena isu yang dihembuskan para pendukung capres 01 bahwa capres 02 didukung keolompok Islam radikal dan ekstremis. 

Tak berhenti disitu, umat pun ditakut-takuti jika Prabowo menang maka Indonesia akan menjadi seperti Suriah. Mau mendirikan Khilafah, NKRI akan musnah. Sungguh menggelikan. Sebegitu menakutkankah bagi rezim ini bila petahana kalah dalam pilpres 2019?

Lucunya lagi, kepala negara yang seharusnya meenyatukan umat yang sudah terpecah belah justru melontarkan kalimat yang makin memperuncing perpecahan.

"Bapak ibu mau, memilih yang didukung oleh organisasi-organisasi yang itu? Mau? Mau? Mau? Saya enggak nyebut, tetapi sudah tau sendiri kan?" kata Jokowi dalam acara yang dihadiri para pengusaha di Istora Senayan, Kamis 21 Maret 2019

Entah siapa dan organisasi apa yang dimaksud. Apa yang diucapakan Jokowi tak sepatutnya keluar dari lisan seoran pemimpin. Rakyat diminta menyampaikan hal yang menyejukkan.

Namun, pada akhirnya penguasa malah bersikap sebaliknya. Belum lama ini beredar pula video siswa SMA dan guru agama Islam di Semarang menyatakan menolak paham Khilafah.

Ribuan orang yang tergabung dalam Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Kota Semarang dan siswa-siswi Rohani Islam (Rohis) SMA-SMK se-Kota Semarang itu juga menyatakan diri mendukung kepemimpinan Jokowi sebagai Presiden RI.

Menjelang pilpres, isu Khilafah selalu dijadikan alat kambinghitam untuk menghantam kubu penantang. Rakyat ditakut-takuti dengan Khilafah.

Jika Khilafah tegak, maka NKRI akan bubar. Bila paham Khilafah berkembang, pancasila terancam. Jika Prabowo menang, kelompok radikal makin berkembang. Begitulah narasi yang terus diulang-ulang.

Khilafah selalu dipersalahkan atas ketidakmampuan penguasa mengurus negara. Kelompok yang memperjuangkan ide Khilafah pun dibungkam dengan cara yang tidak berkeadilan. Mereka dicitrakan sebagai musuh bangsa yang tak layak menghuni Indonesia.

Perlu dipahami bahwa Khilafah bukanlah gagasan baru yang dibuat-buat oleh pengusungnya. Ia adalah ajaran Islam yang telah banyak disebutkan dalam kitab-kitab ulama mu’tabar. Dalilnya ada, sejarahnya pun nyata. Meski seluruh dunia menolaknya, statusnya sebagai bagian dari ajaran Islam tak akan berubah.

Jika memang rezim ini begitu percaya diri bisa memenangkan Jokowi satu periode lagi, maka bersainglah secara sehat. Tak perlu menakut-nakuti umat dengan isu Khilafah, HTI, anti pancasila, anti NKRi, dan sejenisnya.

Adu argumen dan adu program. Semestinya itu yang dilakukan. Bukan menyerang  dengan fitnah yang tak berdasar atau memonsterisasi Khilafah sebagai ancaman negara. Mengkambinghitamkan pihak lain untuk menutupi kecacatannya mengelola negara.

Muhasabah adalah cari terbaik bagi penguasa untuk merenungi kembali kepemimpinannya. Kalau rakyat sudah tidak percaya, maka ada yang salah dari kepemimpinannya. Bila rakyat sudah ogah, maka ada yang keliru dalam mengurus negara.

Semakin menampakkan ketidakadilan, semakin tak simpati pula rakyat kepada Anda. Semakin antipati dengan Islam, semakin kuat pula keinginan umat untuk melakukan perubahan.[MO/ad]

Posting Komentar