Oleh : Farah Sari, A. Md
(Komunitas Muslimah Jambi Peduli Generasi)

Mediaoposisi.com-Pada 1997, sebuah lembaga kajian di Inggris, Runnymede Trust, mendefinisikan Islamophobia sebagai ‘rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan, oleh karena itu, juga pada semua umat Islam’.

Dijelaskan pula bahwa dalam istilah Islamophobia, Islam dipersepsikan tidak mempunyai norma yang sesuai dengan budaya lain. Lebih rendah dibanding budaya Barat dan lebih berupa ideologi politik yang bengis daripada berupa suatu agama.

Islamophobia adalah racun yang sengaja diciptakan oleh kafir barat. Opini ini dihembuskan utuk memberi stigma negatif pada muslim dan islam. Memunculkan rasa takut pada muslim menampakkan simbol keislamannya dan ketaatan pada syariatNYA.

Muslim taat itu fanatik, fanatik itu berbahaya dan tidak toleran. Istilah "fanatik"pun bisa dimainkan oleh kafir barat.

Fanatik itu berlebihan Sehingga, cukup menjadi muslim yang biasa-biasa saja. Padahal ketaatan bagi seseorang yang meyakini Allah SWT adalah mutlak terikat dengan seluruh syariat (harus fanatik/kokoh) sebagai konsekwensi keimanan.

Tapi hari ini opini bahwa muslim itu fanatik, intoleran, radikal, teroris malah bertolak belakang dengan fakta sesungguhnya. Muslim malah  menjadi sasaran kezaliman dan kekejian kafir barat. Lihatlah bagaimana muslim dan islam di seluruh penjuru dunia mendapatkan perlakuan intoleran. Beberapa fakta diantaranya adalah:

Pemimpin partai sayap kanan Denmark Starm Kurs, Rasmus Paludan, membakar salinan Alquran, Jumat. Hal itu dia lakukan sebagai bentuk protesnya atas sejumlah Muslim yang menunaikan Shalat Jumat di depan gedung parlemen negara tersebut.

Seorang pria bersenjatakan palu godam diperkirakan merusak empat masjid di kota Birmingham, Inggris, dalam aksi beruntun pada Kamis dini hari.

Wakil Ketua Dewan Penasihat Badan Pemenangan Nasional (BPN), Hidayat Nur Wahid membantah adanya bendera HTI dalam kampanye terbuka Prabowo Subianto di Manado. Hidayat menyebutkan bahwa bendera hitam bertuliskan huruf Arab berwarna hitam bukanlah milik HTI. "Bendera HTI bukan bendera dengan tulisan 'La Ilaha Illallah' saja," ujar Hidayat, Senis (25/3/19)

Fakta di atas hanya sebagian kecil dari kenyataan bahwa islam dan muslim selalu menjadi sasaran kebencian musuh-musuh islam, kafir barat.

Dilecehkannya Al Quran, dirusaknya mesjid, ditolaknya Ar Roya sebagai bendera kaum muslim, dipersekusinya ulama yang mendakwahkan islam kaffah, disiksanya muslim karena keislamannya dll.

Kebencian ini menyasar muslim di penjuru dunia. Mengapa kebenciannya ini begitu nyata? Siapa aktor dibalik penebar kebencian tsb dan bagaimana seharusnya sikap seorang muslim menjaga kemuliaan dirinya dan islam?

Maka Allah SWT berfirman mengingatkan kita: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran[3]: 118)

Telah Allah SWT khabarkan jika muslim akan dimusihi dan dibenci oleh orang di luar kalangannya. Kafir barat menampakkan Kebencian itu dalam dua bentuk, fisik dan non fisik. Serangan fisik/militer seperti di Gaza Palestina dan di Timur Tengah.

Sedangkan serangan  non fisik seperti di Indonesia (perang pemikiran/opini). Intinya mereka ingin menanamkan Islamophobia. Sehingga muslim tidak pernah bangkit dan kembali berjaya.

Kedua bentuk serangan ini sama-sama berbahaya. Menghancurkan muslim dan ingin menjauhkannya dari islam.  Hanya saja muslim cendrung tidak menyadari saat dia diserang secara non fisik(pemikiran). Inilah senjata mematikan dari musuh islam opini "islamophobia".

Sungguh memprihatinkan, Indonesia yang  mayoritas Muslim, Islamophobia malah meningkat tajam. Meskipun istilah itu tak disebut, namun sikap, tulisan, dan ucapan kelompok tertentu terhadap masyarakat dan ulama yang menuntut agar orang yang menistakan agama diadili jelas menunjukkan hal tersebut.

Puluhan, ratusan ribu, dan bahkan jutaan umat Islam peserta Aksi damai  dianggap sebagai kelompok yang anti-Pancasila, anti-UUD 1945, anti-Bhinneka Tunggal Ika, anti-NKRI, dan seterusnya.

Seolah-olah yang cinta NKRI dan setia kepada Pancasila dan UUD 1945 hanyalah mereka. Tidak jarang tuduhan ini malah berasal dari muslim juga. Muslim harus sadar ada politik adu domba yang dimainkan kafir barat.

Kafir barat melakukan ini karena ideologi kapitalis yang mereka emban akan terancam eksistensinya jika islam diterapkan. Mereka tidak menginginkan kembalinya kebangkitan islam, islam sebagai sebuah ideologi (sistem hidup) .

Ideologi yang melahirkan peradaban cemerlang. Jadi mereka sedang mencoba menunda hadirnya khilafah. Padahal kembalinya khilafah adalah janji Allah. Mereka tak akan mampu menghentikan Allah memenuhi janjiNYA.

Ternyata opini islamophobia cukup ampuh memalingkan umat dari kebangkitan. Umat malah disibukan oleh perkara "aku benar dan kamu salah" sebagai akibat politik adu domba tadi. Padahal islam itu satu. Islam yang rahmatan lil alamin.

Islam Rahmatan Lil Alamin

Kehidupan berdampingan dengan non muslim sudah dicontohkan Rasulullah SAW. Bahkan praktek Toleransipun juga telah  dicontohkan. Saat empat pemuka kafir Quraisy yakni Al-Walid bin Mughirah, Al-Ash bin Wail, Al-Aswad ibnul Muthalib, dan Umayyah bin Khalaf datang menemui Rasulullah seraya berkata,

“Wahai Muhammad, bagaimana kalau kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (Muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami, kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, jika ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.” (Tafsir Al-Qurtubi/14:425)

Sebagai jawaban dari perkataan mereka, kemudian Allah menurunkan surat Al-Kafirun ayat 1-6 yang menegaskan bahwa tidak ada toleransi dalam hal yang menyangkut akidah.

Allah SWT berfirman:“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (TQS. Al-Kafirun: 6).
Sikap toleransi pun dijelaskan oleh Allah dalam Alqur’an surat Al-Mumtahanah ayat 8-9,

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.

Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang yang zalim.” (TQS. Al-Mumtahanah: 8-9)

Inilah toleransi yang  diajarkan di dalam Islam. Allah  telah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk bertoleransi pada orang-orang di luar Islam. Namun demikian, sikap toleransi tidak boleh dipraktikkan dalam hal yang menyangkut akidah.

Dalam konteks  dakwah Islam, Islam mengedepankan dialog argumentatif, dan menjauhi  tindakan kekerasan. Jihad adalah instrumen yang digunakan untuk melenyapkan halangan dakwah Islam, tetapi bukan metode untuk “mengislamkan seseorang”. Islam tidak memaksa penduduk negeri-negeri yang ditaklukkan untuk masuk ke dalam agama Islam.

Islam menentang semua bentuk kekerasan yang dilakukan tanpa ada alasan syar’i. Bahkan Islam telah menetapkan sanksi yang sangat keras bagi siapa saja yang berusaha menciderai jiwa dan harta seseorang, baik Muslim maupun non-Muslim.

Dengan pemaparan di atas, terbukti bahwa umat Islam adalah umat yang sangat menjunjung tinggi sikap toleransi. Penerapan hukum-hukum Islam dalam Daulah Islam di tengah-tengah masyarakat. tidak terbukti bahwa umat Islam adalah umat yang intoleran.

Malah sebaliknya, kepemimpinan yang berlandaskan aturan-aturan Islam akan mewujudkan kehidupan antar umat beragama yang harmonis penuh dengan keadilan.

Jadi muslim harus cerdas. Tidak boleh terjebak dengan istilah yang dibuat kafir barat. Tidak terjebak dengan arus opini yang mereka buat, memecah belah umat.

Memang sulit secara individu untuk memiliki benteng pertahanan hanya mengambil istilah, pemikiran  dari islam. Disinilah letak urgennya perjuangan penegakkan pelindung umat islam, pemersatu kaum muslim. Yaitu khilafah islamiyah.

Semoga dengan masifnya dakwah ideologis ditengah-tengah umat mampu member penyadaran tentang pemikran dan ide-ide berbahaya yang mengancam muslim dan islam. Sehingga kesadaran tsb menuntut perubahan ke arah tegaknya khilafah.[MO/ad]

Posting Komentar