Oleh : Kasmirawanti, S.s
(Pemerhati Sosial)

Mediaoposisi.com-“Either you with us or you with terrorist”? Inilah pernyataan presiden Amerika kala itu Goerge W Bush, menyikapi peristiwa pasca pengeboman gedung WTC, masa itu tahun 2001, awal mula islam dan kaum muslimin menjadi bulan-bulanan dunia barat.

Melalui pernyataan tersebut, mereka telah berhasil menyematkan slogan kepada Islam adalah teroris dunia. Padahal tidak terbukti bahwa yang melakukan pengeboman itu adalah kaum muslimin, bahkan kala itu kelompok Usamah Bin Laden menjadi kelompok tertuduh dan terlarang.

Maka hasilnya adalah seluruh umat islam di mana saja berada di negeri-negeri islam mayoritas atau berada di negeri barat tetaplah terasing dan menjadi umat tertuduh. Kaum muslimin lagi-lagi kaum muslim menjadi korban.

Tepatnya Jum’at yang seharusnya menjadi hari raya istimewa bagi kaum muslimin, hari raya kedua bagi kaum muslimin, namun hari itu menjadi hari kelam saat sang teroris Brenton Tarrant menembak-kan senapan mesin otomatis yang menewaskan puluhan jamaah yang akan melaksanakan shalat jumat, tepatnya di Masjid Christchurch, New Zealand, Selandia Baru.

Ironisnya, si pelaku berdarah dingin merekam dan melakukan siaran langsung kejadian penembakan tragis yang dia lakukan. Biadab, kata ini sangat tepat untuk mewakili perasaan hati kaum muslimin yang terluka melihat saudara-saudara seaqidah lagi-lagi dibantai dengan sadis.

Seluruh warga dunia memberikan empatinya, namun tak jua menghentak pemimpin dunia muslim, pun mengatakan bahwa ini adalah tindakan teroris. Perih melihat kaum muslimin berjatuhan bersimbah darah di rumah Allah.

Perbuatan bar-bar yang dilakukan sang teroris di lakukan di dua tempat Masjid di New Zealand, Selandia Baru. Tak ayal peristiwa tragis ini menarik perhatian dan empati seluruh warga Selandia Baru.

Padahal jika melihat data keselamatan dunia, Selandia Baru berada di urutan kedua negara teraman di dunia. Namun peristiwa Jum’at berdarah tersebut mengindikasikan bahwa kaum muslimin di mana saja keamanannya tetap terancam, sebab dunia barat telah menyematkan pada umat islam sebagai umat lemah, dan tak memiliki pelindung.

Sehingga kebencian mereka terhadap Islam yang diusung dengan ide Islamophobia menjadikan kaum muslimin tidak memiliki keamanan sama sekali di manapun berada.

Si teroris bernama Brenton Tarrant, usia 28 tahun asal Australia. Bukan tanpa alasan dia melakukan penembakan brutal pada hari itu. Aksi yang dilakukan di hari Jum’at berkah itu telah dia rencanakan sejak 2 tahun lalu.

Dia menargetkan masjid Al-Noor 3 bulan sebelumnya. Dari aksi penembakan atas 2 masjid di New Zealand menewaskan 49 orang. Salah satu alasannya melakukan aksi tersebut karena kebenciannya yang mendarah daging terhadap islam dan kaum muslimin yang disebutnya sebagai imigran putih yang menggempur masyarakat barat .

Seperti dilansir Reuters, Jumat (15/3/2019), Komisioner Kepolisian Selandia Baru, Mike Bush, dalam konferensi pers menyebut korban tewas dalam serangan teroris itu mencapai 49 orang.

Perdana Menteri (PM) Jacinda Ardern telah menyebut penembakan brutal ini sebagai 'serangan teroris' dan mengecamnya. Lebih lanjut, Bush menjelaskan bahwa 41 orang tewas dalam penembakan di Masjid Al Noor, Deans Ave kemudian tujuh orang lainnya tewas di sebuah masjid di pinggiran Linwood dan satu orang tewas saat dirawat di rumah sakit. Bush menyebut penembakan brutal itu 'direncanakan dengan sangat matang' oleh pelaku.(15/3)

Lemahnya Umat Islam Tanpa Perisai
Sedih melihat umat ini bagai buih di lautan namun inilah kenyataannya. Kaum muslimin di mana saja berada dihinakan, dibantai, ditindas dan tak ada satupun pemimpin di dunia islam memberikan pertolongan atas hak-hak hidup kaum muslimin.

Maka, dapat dipastikan tidak menutup kemungkinan akan bermunculan Brenton-Brenton lain yang akan melakukan tindakan yang sama. Selain adanya dukungan serta empati dari warga setempat namun ada juga yang beranggapan bahwa pembantaian sadis yang dilakukan oleh sang teroris adalah akibat dari melimpahnya imigran muslim datang ke Selandia Baru.

 Pernyataan kontroversial ini datang dari Senator Australia Fraser Anning menyalahkan imigran Muslim atas teror di Christchurch, New Zealand (Selandia Baru).

Teror tersebut menewaskan sebanyak 50 orang. Anning yang dikenal kontroversial menyebut penembakan massal yang dilakukan Brenton Tarrant dan sejumlah pelaku lain itu menyoroti meningkatnya ketakutan atas bertambahnya keberadaan Muslim.

Anning yang mewakili negara bagian Queensland di Senat Australia itu, berkomentar lewat serangkaian cuitan di Twitter. "Penyebab pertumpahan darah sesungguhnya di jalanan Selandia Baru hari ini adalah program imigrasi yang memungkinkan kaum Muslim fanatik untuk bermigrasi ke Selandia Baru," tulis Anning dalam salah satu cuitannya seperti dilansir dari The Telegraph, Jumat (15/3).

Pernyataan kontroversial memicu aksi nekat seorang remaja berusia 17 tahun bernama Will Connolly. Connolly mengepruk kepala Anning yang sedang diwawancara media dengan menggunakan telur hingga telur tersebut pecah berantakan ke pakaian Anning.

Alhasil pada saat itu para penjaga keamanan menjauhkannya ke lantai, meski sempat di cekik namun akhirnya dia dilepaskan oleh kepolisian setelah diperiksa kepolisian setempat.

Sementara itu petisi untuk mencopot Anning, senator Australia yang menyebut Imigram Muslim penyebab teror di New Zealand, dibuat di change.org. Hingga saat ini hampir satu juta orang menandatangani petisi berjudul 'Remove Fraser Anning from parliament' itu.

Kaum muslimin benar-benar menjadi incaran di mana saja. Framing jahat terhadap islam telah berhasil membius dunia barat untuk berlaku apa saja terhadap islam dan kaum muslimin. Padahal islam sangat melarang kekerasan dan pembunuhan. Begitupun kaum muslimin tidak pernah sedikitpun menumpahkan darah orang-orang diluar dari aqidah islam.

Sehingga sangat tidak adil jika tuduhan-tuduhan rasis dan menebarkan kebencian terhadap islam adalah alasan membunuh ataupun membantai umat islam.

Umat islam selama 95 tahun tanpa pelindung, tanpa khilafah menjadi umat yang didzolimi di negeri manapun. Isu terorisme, radikalisme, dan lain sebagainya seolah melekat pada tubuh kaum muslimin. Sehingga kaum barat begitu mudah berlaku semaunya terhadap umat mulia ini. Benarlah kata baginda Nabi saw bahwa umatnya kelak bagaikan buih di lautan.

Rasulullah Saw, bersabda:
 “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.”

Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.”

Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud)

Umat Islam mulia Dengan Khilafah
Selama 95 tahun umat islam hidup di bawah penindasan dan terdzolimi di seluruh belahan bumi ini, baik di negeri mayoritas muslim atupun di negeri minoritas seperti yang telah terjadi di New Zealand, Selandia Baru. Umat islam tanpa khilafah bagai anak ayam kehilangan induk.

Tak tau arah dan hidup dalam framing jahat serta menyesatkan yang dialamatkan kepada umat mulia, Rasulullah, saw. Harga darah kaum muslimin di negara dengan jumlah umat islam minoritas terasa begitu murah.

Padahal Al-Imam al-Jalil Syaikh Izuddin bin ‘Abdissalam yang dikenal dengan julukan Sulthan al-Ulama pernah mengatakan:

“Jika khilafah tiada, jalan-jalan takkan aman bagi kita. Orang lemah jadi santapan orang kuat di antara kita.”

Wajib atas kaum muslimin sedunia, termasuk yang ada di Indonesia, peduli kepada urusan kaum muslimin, melindungi mereka umat islam di belahan bumi lainnya; memelihara keimanan dan keislaman mereka sekaligus mencegah mereka dari kedzoliman para pembenci dan teroris.

Maka tak ada yang bisa melindungi umat mulia ini di mana saja, kecuali dengan hadirnya perisai (junnah) yang akan melindungi jiwa, harta dan kehormatan kaum muslimin yaitu tegaknya Khilafah Islamiyah di muka bumi ini dengan ijin Allah SWT.

Rasulullah SAW, bersabda:
“Sesungguhnya al-imam itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan kekuasaannya.” (HR.Al-Bukhari&Muslim)

Posting Komentar